Menggugat Berhala Pancasila

 

 

Sejarah membuktikan kesaktian Pancasila cuma sekadar mitos. Kenyataannya? Nyaris, enam puluh tahun lebih sudah usia Republik Indonesia. Namun cita-cita kemerdekaan, membentuk masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, sepertinya makin jauh dari rengkuhan. Bukannya makin baik, kondisi Bumi Pertiwi kian hari kian mengkhawatirkan. Bahkan banyak kalangan berpandangan, jika keadaan sekarang ini tidak dibenahi secepatnya dan dengan sebaik-baiknya, bukan mustahil, bangsa dengan mayoritas Muslim ini, akan menuju titik kehancuran.

 

Duapuluh dua tahun awal usia republik, berada dalam gejolak revolusi mempertahankan kemerdekaan dan menciptakan landasan yang kondusif bagi usaha pembangunan. Nation and character building, ujar Soekarno. Lewat mulut manusia bernama Soekarno pula, Pancasila dijadikan landasan bernegara merdeka. Namun tak dinyana. Soekarno menutup babak kekuasaannya dengan meninggalkan negeri yang tadinya indah permai menjadi begitu fakir. Antrean panjang manusia menanti beras berbaris di mana-mana. Anak-anak kecil berperut buncit, busung lapar, duduk termangu di tepi-tepi jalan. Sedang para pejabatnya, para birokratnya, asyik bermain golf sembari membangun lobi mempermulus proyek. Pancasila yang diucapkan begitu indah di tahun 1945 telah diubah Soekarno menjadi Nasakom di penghujung kekuasaannya. Soeharto yang dihasung kekuatan tentara dan mahasiswa pun naik menggantikan Soekarno. Lewat berbagai manuver rekayasa hukum, Raja Jawa Kontemporer ini membangun imperium bisnis keluarganya. Berbagai produk hukum ditetapkan guna membentengi kepentingannya. Pancasila yang awalnya Dasar Negara, diperlebar menjadi asas partai politik (parpol), lalu diperlebar lagi jadi asas organisasi masyarakat (ormas), lalu diperluas lagi menjadi semacam agama baru bagi setiap warga negara Indonesia. Tigapuluh tahun lebih Soeharto menduduki singgasana kepresidenan. Akhirnya ia terjungkal pula. Nyaris serupa dengan Soekarno, Soeharto lengser keprabon dengan mewariskan bergudang-gudang masalah dan penyakit kepada Republik ini. Hingga hari ini. Soeharto turun diganti Habibie yang hanya transisi. Lewat pemilu yang oleh banyak kalangan dinilai paling demokratis dalam sejarah Indonesia, Abdurahman Wahid memegang tampuk pimpinan di negeri ini. Logikanya, pemerintahan Presiden Dur yang legitimate ini seyogyanya bisa membenahi, atau paling tidak menyedikitkan problem bangsa, ternyata malah banyak bikin masalah baru. Mulutnya yang sukar diatur sering melontarkan igauan-igauan yang bikin resah rakyat. Nilai tukar Rupiah kembali meradang. Banyak rakyat bertanya-tanya: Apa salah bangsa ini? Orang bijak mengatakan: baik buruknya, subur atau keringnya pohon tergantung pada akarnya. Demikian pula suatu bangsa. Jika dasarnya buruk, maka kemungkinan besar jalannya pun tidak akan begitu jauh dari awalnya. Jika suatu bangsa sombong, tidak menjadikan hukum Allah sebagai pedoman hidup, maka azab Allah akan senantiasa menyertainya, hingga ia sadar dan bertaubat. Bisa jadi, ini yang menimpa Indonesia. Pancasila yang keluar dari mulut seorang Soekarno di kemudian hari telah diberhalakan menjadi semacam agama baru. Amat sangat jelas, Allah tak kan pernah meridhoinya. Pancasila harus diganti? Prof. Dr. Harun Alrasid memberikan pandangan bahwa upaya tersebut bisa saja terjadi. “Pancasila kan tercantum dalam alinea ke empat Pembukaan UUD 1945. Bisa saja itu diubah. Tergantung kemauan dari MPR,” ujar Harun. Sejarawan Dr. Anhar Gonggong mengamini hal tersebut. Perjalanan rumusan Pancasila sendiri mengalami perubahan. Dr. Anhar Gonggong menyebutkan sedikitnya terdapat empat rumusan Pancasila. “Dari susunan Pancasila yang pernah kita miliki, paling sedikit ada empat rumusan. Pertama, yang dirumuskan Soekarno pada 1 Juni 1945. Kedua, 22 Juni adalah Piagam Jakarta. Ketiga, UUD 45. Keempat, UUD Federal dan UUDS 1950. Jadi empat kali Pancasila itu dirumuskan, dan memang berbeda-beda. Ini perlu kita lihat, untuk memperlihatkan kepada orang bahwa susunan Pancasila dan istilah yang digunakan bermacam-macam. Bukan hanya satu seperti yang sekarang, seakan-akan hanya yang dirumuskan Soekarno. Dalam kenyataannya tidak seperti itu,” ujar Anhar Gonggong. Selain itu, polemik sekitar Pancasila juga mencuat ke permukaan. Setidaknya hal ini terjadi dua kali, yakni tahun 1960 (buku M. Yamin) dan tahun 1981 (buku Nugroho Notosusanto). “Ini diawali ketika Yamin menulis buku Risalah BPUPKI dan PPKI. Buku ini ada tiga jilid. Yang kontroversial jilid satu. Di dalam buku itu disebutkan bahwa Yamin bicara pada 29 Mei, hari pertama sidang BPUPKI, tentang dasar negara. Jadi sebelum Soepomo dan Soekarno bicara,” tutur Sejarawan Dr. Anhar Gonggong. Anhar menambahkan, “Tapi terlepas dari apakah Yamin bicara atau tidak, istilah Pancasila memang Soekarno yang pertama kali memakai. Itu harus diakui. Kata Pancasila pertama kali diintrodusir Soekarno pada tanggal 1 Juni.” Polemik kedua muncul setelah buku Nugroho Notosusanto berjudul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara (PN. Balai Pustaka, 1981) terbit. Di buku itu, Nugroho menggugat tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila Dasar Negara. “Yang benar,” ujar Nugroho, “Pancasila Dasar Negara lahir dan sah tanggal 18 Agustus 1945.” Dalam kacamata Nugroho, Pancasila yang sah adalah Pancasila seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Sedang Pancasila yang berasal dari pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945 adalah Pancasilanya Soekarno. Sikap Nugroho yang melawan arus ini kontan menyulut reaksi. Bahkan ada yang menuding bahwa Nugroho sebenarnya ingin mengecilkan jasa Soekarno. Polemik berkepanjangan—bahkan harian Merdeka memuat semua tulisan Nugroho secara bersambung (8 s/d 12 Agustus 1981), dan secara arif disikapi oleh H. Endang Saifuddin Anshari. Tokoh Islam ini menegaskan, rumusan resmi Pancasila adalah seperti apa yang dikehendaki Dekrit Presiden 1959, yaitu seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta. Satu sama lain tidak bisa dipisahkan (Soal Dasar Negara: Bagi Kelompok Islam Sudah Lama Selesai, Bagaimana Bagi Kelompok Lainnya?; Kiblat, No. 6/XXIX, Agustus 1981). Prawoto Mangkusasmito, seperti dikutip Endang, mengatakan, “Dengan demikian, itu pada hakikatnya adalah satu-satunya rumus Pancasila yang penah mendapat pengesahan oleh satu badan yang langsung dipilih rakyat dan sebab itu adalah penjelmaan dari kedaulatan rakyat. Menolak rumus ini berarti mengingkari apa yang telah dengan nyata dikehendaki rakyat lewat para wakilnya yang dipilih secara sah menurut hukum.” Penafsiran Pancasila terasa agak menggelikan ketika dua kekuatan—Orde Lama dan Orde Baru—bertemu dengan sama-sama mengatasnamakan Pancasila di sekitar tahun 1965-1967. Soekarno yang memahami Pancasila sebagai Nasakom berhadapan dengan Orde Baru yang juga mengusung Pancasila. Sejarah telah mencatat, pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh Orde Baru yang dimotori oleh kekuatan mahasiswa yang disokong tentara. Pancasila ala Orde Baru menang atas Pancasila-Nasakomnya Orde Lama. Pancasila oleh Orde Baru benar-benar dimanfaatkan sebagai tameng bagi kepentingan-kepentingannya. Lewat ketetapan-ketetapan yang diambil pemerintah, Pancasila yang semula hanyalah cetusan ide dari Soekarno, kemudian dijadikan Dasar Negara, dan belakangan dijadikan asas partai politik, asas organisasi kemasyarakatan, dan lewat P4 seolah-olah ingin dijadikan agama baru yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Sehubungan dengan penetapan itu Irfan Suryahadi menandaskan, “Pancasila telah menempati posisi yang sesungguhnya bukan posisinya. Pancasila sudah ditempatkan sebagai sumber segala sumber hukum. Orang yang percaya itu, sudah murtad. Karena menurut Allah dan Rasul-Nya, sumber segala sumber hukum itu adalah Al-Qur’an. Jika Pancasila sudah menggantikan posisi hukum Allah, ini sudah mengarah pada pengkafiran. Bahkan di Indonesia Pancasila sudah dijadikan sebagai pengganti agama. Karena orang tidak boleh melakukan apa pun termasuk hukum-hukum agama, kalau dipandang bertentangan dengan Pancasila.” Irfan menambahkan, “Sebenarnya, berhala terbesar di Indonesia adalah Pancasila itu sendiri. Karena itu, siapa pun yang memimpin bangsa ini, selama masih menggunakan sistem Pancasila, pasti rahmat Allah tidak akan pernah turun. Sebaliknya, azab Allah tidak akan pernah berhenti menimpa bangsa ini. Sebagai berhala, Pancasila harus dirobohkan. Jadi bukan sekadar amandemen UUD. Pancasila harus kita ganti secara tuntas dengan satu sistem baru. Dari sistem yang baru inilah kita akan mendapatkan seperti apa Indonesia baru yang kita inginkan.” Sebenarnya pasal-pasal yang ada di dalam Pancasila itu sendiri tidak salah. Yang salah selama ini adalah orang-orang yang selalu memperalat Pancasila demi kepentingan politik dan kekuasaannya. Seperti yang dikatakan Syafi’i Ma’arif, “Yang harus diperbaiki dari Pancasila adalah pelaksanaannya, bukan prinsip atau nilai-nilai dasarnya. Menurut saya, nilai dasarnya tak jadi masalah. Namun pelaksanaannya akan sangat tergantung dengan manusia yang berada di balik Pancasila itu yang bergerak selama ini. Pancasila itu selama ini dimuliakan dalam kata, tulisan, tapi dikhianati dalam perbuatannya.” Sejarah telah membuktikan bahwa Pancasila sama sekali tidak bisa diharapkan. Ideologi buatan manusia itu sudah selayaknya diganti dengan ideologi Allah SWT. Apa harus menunggu Indonesia hancur untuk memperoleh seberkas kesadaran?

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: