Konseling Eklektik

Konseling Eklektik
Istilah Konseling Eklektik (Eclectic Counseling) menunjuk pada suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoretis dan pendekatan (approach), yang merupakSn perpa3uan dan Berbagai unsur yang diambil atau dipiljh dari beberapa konsepsi serta pendekatan. Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpeiidapat bahwa mengikuti satu orientasi teoretis serta menerap-kan satu pendekatan saja terlalu membatasi ruang gerak konselor; sebaliknya dia ingin menggunakan variasi dalarrl sudut pandangan, prosedur, dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah yang dihadapinya. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti orang yang bersikap oportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan, prosedur, dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik. Konselor yang berpegang pada pola eklektik njejiguagai sejumlah prosedur dan teknik serta memilih dari prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang tersedia, mana yang dianggapnya paling sesuai dalam melayani konseli tertentu. Di samping itu, dia juga mempertimbangkan gayanya sendiri dalam berinteraksi dengan orang-orang yang datang kepadanya untuk membicarakan masalah mereka. Dengan demikian, konselor ini bermaksud mengembangkan suatu fleksibilitas besar) yang memungkinkan untuk melayani banyak orang dengan cara yang cocok untuk setiap orang dan memperoleh hasil yang optimal.
Promoter utama dari pola eklektik adalah Frederick Thorne yang mulai mengelola majalah: Journal of Clinical Psychology pada Tahun l945 dan menyebarluaskan pandangan-pandangannya dalam beberapa buku, antara lain Princi ples of Personality Counseling (1950). Dalam tulisan-tulisannya, Thorne menganalisis sumbangan-sumbangan pikiran dari berbagai aliran dalam Psikologi Konseling dan mencoba mengintegrasikan unsur-unsur positif dari masing-masing aliran dalam suatu sistematika baru dan terpadu. Sistematika terpadu ini dalam segi- seginya yang teoretis dan praktis, bermaksud mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan konseli untuk berpikir benar dan tepat, sehingga konseli menjadi
mahir dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya (problem-solving). Bilamana seseorang tidak berhasil dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan hidup, kegagalan ini dianggap bersumber pada ketidakmampuan mempergunakan daya berpikir yang dimiliki sebagaimana mestinya konseling dipandang sebagai proses rehabilitasi dalam mendidik diri sendiri. Tugas konselor adalah mendampingi konseli dalam melatih diri sendiri untuk memanfaatkan kemampuan berpikir yang dimilikinya.Tujuan layanan konseling adalah menggantikan tingkah laku yang terlalu kompulsif dan emosional dengan tingkah laku yang bercoralc lebih rasional dan lebih konstruktif. Konselor sebagai psikolog ahli, yang. menguasai berbagai prosedur dan teknik untuk memberikan bantuan psikologis kepada orang lain, berkompeten untuk mendampingi konseli dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup secara tuntas. Konseling eklektik sebagaimana dikembangkan oleh Thorne dianggap sesuai untuk diterapkan terhadap orang-orang yang tergolong normal, yaitu tidak menunjukkan gejala-geiala kelainan dalam kepribadiannya atau gangguan kesehatan. mental yang berat. Orang-orang yang normal itu dapat saja menghadapi berbagai persoalan hidup, yang dapat mereka selesaikan tanpa dituntut perombakan total dalam kepribadiannya. Bilamana seseorang menghubungi seorang konselor, dia berbuat demikian karena dia mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Para konseli mengharapkan berjumpa dengan seorang ahli, yang lebih pandai dari mereka dalam memikirkan persoalan-persoalan hidup dan memiliki lebih banyak pengalaman dala-n hal-hal itu daripada mereka sendiri. Oleh karena itu, kdnselor memberikan pengarahan sejauh diperlukan.Dalam berwawancara dengan konseli, konselor harus menentukan kapan konseli membutuhkan banyak pengarahan berupa penyaluran arus pikiran, informasi, instruksi, usul, serta saran; dan kapan konseli tidak membutuhkan pengarahan itu.konselorlah yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan konseli dalam hal-hal ini pada fase tertentu dalam proses konseling. Konseli sebagai manusia dianggap memiliki dorongan, yang timbul dari dirinya sendiri, untuk mempertahankan (maintenance) dan mengembangkan dirinya sendiri, seoptimal mungkin (actualization), namun realisasi dari dorongan dasar ini dapat terhambat karena konseli belum mempergurtakan kemampuanriya untuk berpikir secara efisien dan efektif. Selama proses konseling, setiap kali konseli menunjukkan kemajuari dalam mengatur kehidupannya sendiri dengan berpikir rasional, konselor mengurarigi perigarahan yang diberikannya; setiap kali konseli menunjukkan kemunduran dalam mengatur diri sendiri, konselor menambah pengarahan dengan membantu berpikir yang lebih baik. Bagi konseli, proses konseling merupakan suatu proses belajar yang mengalami gelombang pasang surut, dalam arti mengalami masa kemajuan dan masa kemunduran, tetapi dalam keseluruhannya proses belajar itu memperlihatkan tanda-tanda kemajuan.Untuk itu konseli dituntut bermotivasi cukup kuat, mampu berkomunikasi dalam suasana kontak pribadi, mampu menguhgkapkan persoalan-persbalannya dengan kata-kata yang memadai, dan memiliki kepribadian yang cukxip stabil, sehingga dimungkinkan menemukan suatu penyelesaian dan melaksanakanny a dalam kehidupan sehari-hari sesudah konseling berakhir.
Selama proses konseling berlangsung, konselor berpegang pada suatu rangkaian langkah kerja yang seiring dengan urutan fase-fase dalam proses konseling, yaitu fase pembukaan, fase inti, vdan fase penutup. Dia menggunakan teknik-teknik kbnseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli tidak membutuhkan pengarahan berupa penyaJaran arus pikiran, informasi, saran, dan sebagainya serta menggunakan ,teknik-teknik konseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli membutuhkan banyak Thorne menganjurkan supaya setiap kali konseli diberi kesempatan untuk menemukan sendiri penyelesaian atas masalahnya tanpa pengarahan dari konselor; bilamana ternyata konseli belum dapat menemukan penyelesaian atas prakarsa sendiri; barulah konselor mulai memberikan pengarahari yang jelas. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan masalahnya serta mengungkap-kan semua pikiran dan perasaaiinya tentang masalah itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak hiengandung pengarahan tegas oleh konselor, seperti Ajakan Untuk Mulai, Refleksi Pikiran dan Perasaan, Klarifikasi Pikiran dan Perasaan, Permintaan Untuk Melanjutkan, Pengulangan Satu-Dua Kata, dan Ringkasan Sementara. Namun, dalam keseluruhannya proses konseling tidak dibiarkan berjalan ala kadamya, tetapi diatur menurut urutan fasefase penutup. Qleh karena itu, bantuan yang diberikarToIeh konselor bukan hal yang befsifat dikotomis (tidak ada pengarahan ada pengarahan), melainkan bergeser-geser pada Suatu kontinum dari pengarahan minimal sampai pengarahan maksi-mai, sesuai dengan keadaan konseli pada saat tertentu. Thorne menekankan perluriya dikumpulkan data sebanyak mungkin tentang konseli, yang diperoleh dari berbagai sumber informasi Cease history). Data itu dianggap perlu, supaya konselor lapat membuat suatu diagnosis dan hubungan sebab-akibat antara unsur-unsur dalam persoalan konseli menjadi jelas (psychological diagnosis), dan supaya kelanjutan dari proses konseling dapat direncanakan dengan lebih baik. Menurut norma atau patokan yang dipegang oleh Thorne, seseorang dikatakan telah berhasil dalam menjalani’proses konseling bila dia: mampu, mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya secara lebih memadai; mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik; memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara lebih realistik; mampu berpikir lebih rasional dan logis; mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain; mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan berbagai mekanisme pertahanan diri; dan inenunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak secara lebih dewasa.
Menurut pandangan Shertzer dan Stone dalam buku Fundamentals of Counseling, KQnseling Eklektik sebagaimana dikonsepsikan oleh Thorne, mengandung unsur-unsiir positif dan negatif. Sebagai unsur positif disebut: usaha menciptakan suatu sistematika dalam memberikan layanan konseling; menghindari pbsisi dogmatik dan kaku dengan berpegang pada satu kerangka teoretis dan pendekatan praktis saja. Sebagai unsur negatif disebut: menjadi mahir dalam penerapan satu pendekatan konseling tertentu sudah cukup sulit bagi seorang konselor, apalagi mengembangkan suatu pendekatan konseling yang memadukan unsur-unsur dari berbagai pendekatan konseling; konseli dapat merasa bingung bila konselor mengubah-ubah siasatnya sesuai dengan keadaan konseli pada fase-fase tertentu dalam proses konseling; diragukan apakah konselor mampu menehtukan siasat yang paling sesuai hanya berdasarkan reaksi dan tanggapan konseli pada saat-saat tertentu selama proses konseling berlangsung.
Timbul pertanyaan, sampai berapa jauh seorang konselor di institusi pendidikan dapat menerapkari sistematika Konseling Eklektik menurut model Thorne. Mengingat kenyataan bahwa para konselor di lembaga pendidikan menengah dan, pendidikan tinggi pa,da umumnya bukan psikolog profesional yang berwenang untuk mengadakan diagnosis psikologis (seperti dituntut oleh Thorne), dan akan mengalami kesulitan bila sering harus berubah siasat menurut kebutuhan konseli pada setiap saat selama proses konseling, sistematika Konseling Eklektik ini kiranya tidak dapat mereka terapkan secara memadai. Namun, gagasan menerap-kan suatu sistematika Konseling Eklektik yang tidak seluruhnya berpegang pada model Thorne, tetap menarik bagi seorang konselor di institusi pendidikan karena:
(a) Konselor dapat menyesuaikan pendekatannya dengan jenis masalah yarig dihadapi konseli, misalnya masalah pilihan program studi dan pekerjaan lebih baik diselesaikan menurut pola pendekatan Factor masalah perasaan takut dan benci yang bersumber pada pengalaman belajar negatif lebih baik diselesaikan menurut pola pendekatan behavioristik) masalah yang bersumber pada pikiran irasional lebih baik diselesaikan menurut pendekatan. Dengan demikan, konselor tidak menerapkan pola pendekatan yang sama terhadap semua masalah yang diungkapkan kepadanya. Hal ini sudah mengandung unsur memilih sesuai dengan kebutuhan konseli, dan sedikit banyak sudah berarti mengambil sikap eklektif.. Konselor dapat mengambil posisi tertentu pada garis kontinum antara ujung memberikan pengarahan minimal dan ujung memberikan pengarahan banyak, sesuai dengan kebutuhan konseli dalam hal ini. Pengarhbilan posisi ini dikaitkan dengan kebutuhan konseli untuk diberi pengarahan sedikit,atau banyak. Pendekatan terhadap konseli yang mengandung pengarahan minimal menggunakan metode konseling yang disebut metode nondirektif; pendekatan yang mengandung pengarahan banyak menggunakan metode yang; disebut metode direktif; pendekatan yang memberikan pengarahan sejauh dibutuhkan oleh konseli disebut metode eklektik. Bagian terakhir ini tidak berarti bahwa konselor selama proses konseling bergeser-geser posisi pada garis kontinum aritara dua ujung itu, telapi mula-mula dia mengambil posisi dekat ujung pengarahan minimal dan kemudian mengambil posisi dekat ujung pengarahan banyak. Dengan demikian, pada awal proses konseling konselor menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung pengarahan minimal dan kemu-dian mulai menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung pengarahan lebih banyak. Perpindahan ini bukan bergeser-geser posisi, melainkan siasat yang diterapkan secara konsekuen, sesuai dengan jalannya wawancara yang direncanakan oleh konselor. Khususnya dalam berwawancara konseling de-ngah anak-anak remaja; yang masih kurang berpengalaman hidup, penerapan metode eklektik dalam hal memberikan pengarahan minimal atau memberikan pengarahan banyak, sesuai dengan fase awal atau fase tengahan dalam proses konseling, kiranya sangat masuk akal. Bahkan, pendekatan Trait and Factor, Rational-Emotive Therapy, dan Konseling Behavioristik, yang sebenarnya menggunakan metode direktif karena mengandung banyak pengarahan, juga merigalami pemasukan unsur-unsur dari metode nondirektif. Konselor yang menerapkan salah satu dari ketiga pola pendekatan itu, pada awal proses konseling akan berusaha menciptakan suasana hubungan antarpribadi yang memungkinkan suatu kerja sama yang baik (working relationship), dan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya. Selama fase awal itu konselor banyak menggunakan teknik-teknifc verbal yang mengandung pengarahan minimal; baru kemudian dia mulai menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung lebih banyak pengarahan. Sejauh itu, konselor juga berpindah dari posisi yang satu ke posisi yang lain pada garis kontihum yang dideskripsikan di atas. Konselor perlu menguasai suatu pendekatan (approach.) yang secara luas dapat diterapkan terhadap kasus-kasus yang dibicarakan dengannya. Konselor sekolah mUngkin sekali tidak menguasai semua kerangka teoretis dalam konseling bersama dengan pendekatannya yang khas, atau beranggapan bahwa suatu pendekatan yang khusus sebaiknya tidak diterapkan terhadap konseli tertentu. Khususnya teori-teori yang akan dibahas di bagian B dalam bab ini, membutuhkan masa latihan khusus selama calon konselor mengikuti program studi prajabatan di perguruan tinggi, seperti Teori Psikoanalisa, Teori Gestalt, Teori Psikologi Individual, Teori Analisa Transaksional. Biarpun konselor. menguasai teori dan pendekatan tertentu, namun dia dapat berpendapat bahwa tebri dan pendekatan itu sebaiknya tidak diterapkan terhadap siswa atau mahasiswa, seperti Teori Konseling Eksistensial dan Konseling menurut model IRobert Carkhuff. Jika demikian, konselor membutuhkan suatu pendekatan yang secara luas dapat diterapkan terhadap banyak kasus dan banyak konseli. Dalam hal ini model” Konseling Eklektik menurut Thorne dapat digunakan sebagai pedoman, karena di dalamnya telah dipadukan sejumlah unsur yang baik dari pendekatan-pendekatan yang lain, khususnya yang menyangkut penggunaan teknik-teknik verbal yang mengandung pengarahan minimal dan yang mengandung pengarahan lebih banyak. Menurut pendapat pengarang buku ini, sudah sangat baiklah kalau konselor sekolah tamatan program Si menguasai kerangka teoretis dan pendekatan yang khas untuk Konseling Trait and Factor, Konseling Behavioristik menurut siasat kedua (perubahan R melalui perubahan dalam r kognitif dan afektif), dan Konseling Rational- Emotive. Banyak kasus dapat diselesaikan secara tuntas dengan menerapkan salah satu dari ketiga pendekatan itu. Untuk kasus-kasus yang lain, konselor dapat menerapkan suatu pola pendekatan yang lebih umum dengan memperha- tikan urutan fase-fase yang lazim dalam. proses konseling dan mengindahkan
kebutuhan konseli akan pengarahan sedikit atau banyak.
(d) Konselor menyadari bahwa tidak semua kasus yang diutarakan kepadanya mengandung suatu persoalan atau masalah yang memerlukan pembahasan mengenai penyelesaiannya pada saat sekarang. Misalnya,’ dapat terjadi bahwa seorang konseli hanya ingin mendapatkan suatu informasi tentang isi program- studi; atau hanya membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang sulit baginya, namun penyelesaiannya sebenarnya sudah jelas baginya, seperti kasus remaja putri yang sudah tahu bagaimana harus bersikap terhadap pacarnya yang mendesak-desak melakukan hal-hal terlarang; atau hanya membutuhkan konflrmasi atas suatu pilihan yang telah dibuat, seperti kasus mahasiswa yang sudah rnantap akan memutuskan hubungan dengan pacarnya. Dalam kasus-kasus seperti itu proses konseling hanya meliputi fase pembukaan, fase menjelaskan persoalanj fase tanggapan dari konselor sesuai dengan kebutuhan Jconseli’, dan fase penutup.-Jedi tidak terdapat |ase penggalian masalali dan fase penyelesaian masalah. Dalam keadaan yang demikian, konselor dapat menerapkan suatu pola pendekatan yang bersifat lebih umum ,clan sedikit banyak bercbrak eklektik. Dibawah. ini diusulkan suatu pola pendekatan dalam konseling di institusi pendidikan’yang bersifat eklektik, yang tidak khusus terikat pada kerangka teoretis tertentu, memungkinkan penggunaan metode eklektik seperti diuraikan dalam butir (b) di atas; mengikuti urutan fase-fase yang lazimnya berlangsung dalam suatu ? prpses konseling; memungkinkan konselor untuk melayani kasus-kasus yang tidak t khusus memerlukan pendekatan yang dibahas dalam bagian A nomor 1 s.d. 4; serta memungkinkan konselor .untuk melayani konseli-konseli yang dimaksud dalam butir (d) di atas. Di samping itu, pola pendekatan yang diusulkan memungkinkan konselor untuk melayani kasus-kasus yarig penyelesaiannya terutama terdiri atas pilihan di antara beberapa alternatif (a choise case), dan kasus-kasus yang penyelesaiannya terutama menuntut perubahan sikap serta tindakan penyesuaian diri terhadap situasi kehidupan yang tidak dapat diubah dan harus diterima seadanya (a change case). Meskipun semua proses konseling berhasil membawa suatu perubahan pada diri konseli (a change), namun di sini, demi jelasnya pembahasan, dibedakan antara a choice case dan a change case. Dalam.suatu kasus pilihan (fa choice case) konseli perlu dibantu untuk melihat adanya berbagai kemungkinan, yang kemudian flitinjau dari sudut pandangan “Bisa dipilih?; mungkin untuk dipilih?” (Possible?), dari sudut pandangan “Ingin dipilih?” (Desirable?), dan mungkin pula dari sudut pandangan “Kalau dipilih, akan membawa hasil yang diharapkan?” (Feasible?). Dalam suatu kasus penyelesaiah diri (a change case)-konseli perlu dibantu untuk meninjau kembali sikap dan paridanganhya sampai sekarang serta memikirkan sikap dan tihdakan yang lebih .baik. Misalnya dalam kasus mahasiswi yang masih bingurig akan membina hubungan lebih akrab dengan pemuda yang mana, harus dilihat apakah dia sebenarnya sudah mempunyai beberapa calon sebagai alternatif; kemudian ditinjau masing-masing alternatif itu: pemuda A dapat dipilih karena belum .mempunyai pacar, namun tidak ingin dipilih karena berbeda agama; kemudian pemuda B dan seterusnya. Dalam kasus anak remaja yang kerap bentrok dengan brang tuanya yang dianggap terlalu kolot, harus ditinjau apa yang dimaksudkan dengan kolot dan apakah kolot mesti berarti tidak mengandung kebaikan apa-apa. Berdasarkan tinjauan itu remaja ini dapat mengubah pandanganhya dan palitig sedikit memgambil sikap akan mempertimbangkan dahulu dan tidak langsung menolak mentah-mentah. Namun, harus diakui bahwa suatu kasus pihhari dapat menjadi kasus penyesuaian diri, setelah ditentukan pilihannya. Demikian pula sebeliknya, suatu kasus penyesuaian diri dapat menjadi kasus pilihan, niisahiya setelah mahasiswi tadi rrenjatuhkan pilihannya atas pemuda C, dia harus rrie-nyesuaikan corak per,jaulannya dengan pemuda A dan pemuda B. Dernikian pula siswa remaja tadi dapat memikirkan cara manakah yang paling cocok bagihya uhituk mendekati orang tuanya, dengan memilih di antara beberapa siasat yang dapat diterapkan. Pola pendekatan yang dimaksud adalah sebagai berikut ;
(a) Fase pembukaan. Selama fase ini konselor berusaha untuk menciptakan relasi hubungan antarpribadi (working relationship) yang baik.
(b) Fase penjelasan masalah. Konseli mengutarakan masalah atau persoalan yang dihadapi. Selama fase ini konselor mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sambil menunjukkan pemahaman dan pengertian serta memantulkan perasaan dan pikiran yang diungkapkan oleh konseli.
Sementara itu, konselor berusaha untuk menentukan apa yang diharapkan daripadanya. Harapan ini. merupakan kebutuhan konseli pada saat sekarang dan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling. Sebagaimana dijelaskan dalam butir (d) di atas, kebutuhan konseli dapat bermacam-macam, antara lain: (1) Konseli membutuhkan informasi tentang sesuatu’dan dia akan puas setelah
hmendapat’informasi yang relevan. Tanggapan konselor berupa penjelasan I. tentang hal yang ditanyakan kalau dia langsung mengetahuinya, atau berupa penunjukan sumber-sumber informasi yang relevan. Setelah itu konselor menutup wawancara dengan cara yang diuraikan dalam butir (e) dibawah.
(2) Konseli membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang sulit baginya, namun penyelesaiannya sebenarnya sudah jelas baginya. Konseli ingin mencurahkan isi hatinya dan mengurangi beban batinnya dengan mengutarakan semuanya kepada ser.eorang yang dapat mendengarkan dengan tenang dan sikap empati. Tanggapan konselor berupa pemberian semangat dan keberanian serta pengangkatan hati.Setelah itu konselor menutup wawancara dengan cara yang diuraikan dalam butir'(e) di bawah.
(3) Konseli membutuhkan konfirmasi atas suatu pilihan yang telah dibuatnya. Konselor dapat mempersilakan konseli untuk menjelaskan atas dasar pertimbangan-pertimbangan apa ditentukan pilihan itu. Kalau menurut , evaluasi konselor keputusan yang telah diambil memang masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan, tanggapan konselor berupa perieguhan , terhadap keputusan itu serta mendorong Untuk melalcsanakannya secara konsekuen. Setelah itu konselor menutup wawancara dengan cara yang diuraikan dalam butir (e) di bawah.Sebaliknya, kalau menurut evaluasi konselor pilihan yang telah dibuat x belum dipikirkan secara matang dan memerlukan peninjauan kembali, konselor mengemukakan pendapatnya dan menawarkan kepada konseli untuk membicarakan kembali persoalannya dengan konselor. Kalau konseli bersedia, maka proses konseling belum selesai dan menyusullah fase penggalian masalah dan penyelesaian masalah, seperti diuraikan dalam butir (c) dan (d) di bawah.
(4) Konseli membutuhkan bantuan dalam rnengatasi masalah yang diha-dapinya, yang memang belum ditemukan cara penyelesaiannya. Kebutuhan ini menjadi nyata dari ungkapan-ungkapan konseli selama fase penjelasan masalah. Dalam hal ini, menyusullah fase penggalian masalah dan penyelesaian masalah, seperti diuraikan dalam butir (c) dan (d) di bawah. c) Fase penggalian masalah. Koriselor dan konseli bersama-sama menggali latar belakang masalah, antara lain: asal-usul permasalahan, unsur-unsur yang pokok; dan tidak pokok, pihak-pihak siapa yang terlibat, perasaan dan pikiran konseli i: mengenai masalah yang dihadapi. Fase ini mencakup analisis kasus, yang menghasilkan fakta dan data yang harus diindahkan selama fase berikutnya, upaya persoalannya dapat diselesaikan secara tuntas. Selama fase ini akan menjadi lebih jelas pula bagi konselor, apakah masalah konseli termasuk a choice case atau a change case, seandainya hal ini belum dapat ditentukan selama fase penjelasan masalah. Mungkin juga dianggap perlu mencari data dan fakta tambahan, yang harus dikumpulkan di luar waktu wawancara sekarang ini. Kalau demikian, proses konseling dihentikan dahulu untuk. dilanjutkan dalam. wawancara berikutnya.
(d) Fase penyelesaian masalah. Dengan berpegang pada pembedaan antara a choice case dan a change case, konselor dan konseli membahas persoalan sampai ditemukan penyelesaian’ yang tuntas, clengari mengindahkan semua data dan fakta. Cara menyelesaikan suatu kasus pilihan (a choice case) dan suatu kasus penyesuaian diri (a change case) telah diuraikan di atas. Dengan sendirinya fase ini akan memakan waktu paling lama dan mungkin\memerlukan wawancara lanjutan. Selama fase ini konselor lebih banyak menggunakan teknik-teknik yang mengandung pengarahan yang jelas, dengan memilih di antara nomor j s.d. u dalam daftar teknik-teknik verbal yang dimuat dalam Bab VIII, C, 1. (£) ‘Fase penutup. Selama fase ini konselor mengakhiri wawancara, baik yang ( masih akan disusul dengan wawancara lain maupun yang merupakan wawancara terakhir. Bagaimana caranya menutup wawancara akan diuraikan dalam Bab Kelima pandangan teoretis yang dibahas di bagian A ini, bersama derigah peridekatan terhadap konseling yang khas untuk masing-masirig pandangan^ semuariya mengakui bahwa mahusia pada dasarnya mampu berubah dan mengubah diri. Seandainya manusia tidak.mampu untuk itu, berwawancara konseling dengan bermanfaat dan hanya berarti membuang-buang waktu. Namun, dengan cara yang bagaimana perubahan itu sebaiknya diusahaka’n, terdapat variasi di antara kelima pandangan teoretis dan masing-masing pendekat-annya yang praktis. Sesuai dengan pembagian atas tiga kelompok pendekatan menurut fokus pefhatian pada aspek kepribadian tertentu (lihat uraiah pada awal bab ini), Client-Centered Counseling mengusahakan perubahan dalam perilaku seseorang dengan mengubah cara orang berperasaan tentang dirinya sendiri. Teori Trait-Factor, Rational-Emotive Therapy, dan Konseling Behavioristik menurut pendekatan yang tidak langsung, dan Konseling Eklektik mengusahakan perubahan dalam perilaku dan perasaan seseorang dengan mengubah cara orang berpikir tentang dirinya sendiri. Konseling Behavioristik menurut peridekatan yang langsung (R diubah dahulu, bukan r!) mengusahakan perubahan dalam pikiran dan perasaan seseorang dengan mengubah perilaku nyata lebih dahulu. Denii mudah-nya, tiga kelompok peridekatan itu dapat disebut: kelompok pendekatan afektif (affective approach); kelompok pendekatan kognitif (cognitive approach), dan kelompok pendekatan behavioristik (behavioral approach).

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: