Profesionalisme Guru dalam Pencapaian Kompetensi Siswa (Blm Sempurna 1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tidak dapat disangkal lagi bahwa profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Diperlukan orang-orang yang memang benar benar-benar ahli di bidangnya, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya agar setiap orang dapat berperan secara maksimal, termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri. Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan jaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas.

Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud, guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa.

Adapun kaitannya dengan masalah mata pelajaran fiqih untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), maka guru dituntut untuk bisa memahami fiqih itu sendiri secara universal sesuai dengan batasan-batasan fiqih yang sudah diatur dalam kurikulum fiqih itu sendiri. Adanya ketidak sesuaian antara teori dengan praktik dalam masalah fiqih adalah satu hal yang mesti disolusikan karena hal ini akan menuntut guru fikih itu sendiri sebagai pendidik untuk bisa seprofesional mungkin sehingga siswa diharapkan akan merasa mudah dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan pemahaman yang diajarkan oleh guru itu sendiri kaitannya dengan masalah fikih.

Untuk itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi ini dengan judul ‘’PROFESIONALISME GURU HUBUNGANNYA DENGAN PENCAPAIAN KOMPETENSI SISWA DALAM MATA PELAJARAN FIQIH’’. Untuk keperluan penelitian ini penulis mengambil lokasi di Madrasah Ibtidaiyah Sindang Wargi Tasikmalaya.

B. Perumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan perumusan masalah sebagai berikut :

a. Bagaimanakah peran guru fiqih dalam pendidikan anak ?

b. Bagaimanakan pencapaian kompetensi anak dalam mata pelajaran fiqih di sekolah ?

c. Sejauh mana profesionalitas guru dalam pendidikan fiqih hubungannya dengan pencapaian kompetensi siswa di sekolah ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan sebagai berikut :

a. Untuk mendapatkan informasi peran guru fiqih dalam pendidikan anak ?

b. Untuk mendapatkan informasi tentang pencapaian kompetensi anak dalam mata pelajaran fiqih di sekolah ?

c. Untuk mengetahui sejauh mana profesionalitas guru dalam pendidikan fiqih hubungannya dengan pencapaian kompetensi siswa di sekolah ?

D. Kerangka Pemikiran

Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama lebih dari tiga tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Guru masih dominan dan siswa resisten, guru masih menjadi pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Padahal, tuntutan KBK, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri.

Demikian pula pada pihak siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim, jangankan menyempatkan waktu untuk membaca buku yang aktual, mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan memang itu kewajiban utama, apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas, mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan, sehingga misi KBK ataupun misi KTSP dapat terwujud. Dengan paradigma yang berubah, mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif khususnya berkenaan dengan permasalahan mata pelajaran fiqih yang lebih banyak mengarah kepada tataran praktik seperti bagaimana tata cara bacaan dan gerakan shalat dan lain sebagainya .

Oleh karena itu profesionalisme guru perlu di perhatikan yaitu yang diantaranya adalah pemahaman yaitu dalam artian bahwa guru harus memahami betul akan penguasaan ilmu yang akan diajarkannya, menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung sehingga siswa akan lebih mudah mengerti dan juga guru akan lebih praktis dalam mengefektif dan mengefesiensikan waktunya, menciptakan keyakinan yang positif pada siswa, melatih anak agar bisa mandiri, menjadi teladan yang baik bagi siswa yaitu dengan memberikan contoh yang baik dan mudah untuk dipahami dan mudah untuk dilakukan, memberikan motifasi yang tinggi, memberikan dan menemukan cara tepat belajar siswa sehingga pencapaian kompetensi siswa bisa dapat diraih, baik dari segi IQ (Intelektual Question), EQ (Emotional Question) ataupun SQ (Spiritual Question) siswa.

Adapun sederhananya secara skematis kerangka pemikiran diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

Pencapaian kompetensi siswa

di sekolah

1. Kecerdasan intelektual

- Jumlah nilai prestasi hasil belajar fiqih dalam smesteran

2. Kecerdasan Emosional

a. Kedisiplinan

b. Kerjasama

c. Kemandirian

d. Keta’atan dan Kebiasaan (Akhlak)

3. Kecerdasan Spiritual

a. Pemahaman dalam pelaksanaan

b. Praktek Ibadah

Profesionalisme Guru

Dalam mata pelajaran fiqih

1. Memberi pemahaman

2. Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung

3. Menciptakan keyakinan yang positif pada siswa

4. Melatih anak agar bias mandiri

5. Menjadi teladan yang baik

6. memberikan motifasi yang tinggi

7. Memberikan dan menemukan cara tepat belajar siswa

X Y

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dipandang sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi, 1987 : 62).

Dengan mengacu kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang dapat penulis ajukan adalah ‘’ semakin profesionalnya guru dalam mata pelajaran fiqih, maka anak akan mencapai kompetensi yang lebih baik di sekolah ’’.

F. Langkah Langkah Penelitian

1. Menentukan Metode Pengumpulan Data

Metoda ini di pandang perlu dan penting bagi setiap penelitian ilmiah, karena menggunakan metoda yang salah dapat menimbulkan kekeliruan dan tujuan penelitian menjadi tidak tercapai. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah meliputi observasi dan angket dan juga wawancara. Adapun dalam penentuan jenis datanya adalah dengan menggunakan data kuantitatif dan juga data kualitatif.

Pelaksanaan Metode kualitatif (deskriftif) ini akan didasarkan pada pendapat Moh. Nazir, Ph.D (1988 : 63) yang mengatakan bahwa “Metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pengumpulan data dari penyusunan data tetapi juga meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data itu sendiri.

2. Menentukan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunakan teknik – teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Observasi langsung

Dengan teknik ini penulis mengadakan pengamatan secara langsung ke objek penelitian, disamping itu untuk mendapatkan data yang tidak bisa terkumpul oleh teknik – teknik lain, terutama untuk data dari sumber sekunder yang bertujuan agar keasliannya dapat di jamin untuk dipergunakan sebagai data. Adapun lokasi penelitian disini adalah Madrasah Ibtidaiyah Sindang Wargi dengan alasan bahwa lokasi ini dekat dalam artian tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal penulis sementara sekarang

b. Wawancara

Teknik ini merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan sumber data. Wawancara tersebut penulis tujukan kepada Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Guru-guru, TU, dan Unsur-unsur terkait di Madrasah tersebut.

3. Menentukan Populasi dan Sampel

Untuk memudahkan penulis dalam mengumpulkan data, maka terlebih dahulu menentukan objek yang akan ditelili atau objek yang akan dijadikan penelitian dimana disini penulis menentukan pupulasi dan sampel penelitian.

Populasi adalah adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang cirinya akan diduga (Masri Singarimbun, 1987: 108). Adapun yang menjadi populasi adalah para siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Sindang Wargi. Sedangkan sampel adalah bagian dari sebuah populasi, bagian mana memiliki sifat utama populasi (Winarno Surakhmad, 1990: 93). Untuk pengambilan sampelnya penulis menggunakan teknik pemilihan objek didasarkan pada ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang memiliki sifat-sifat populasi.

4. Sumber Data

Adapun sumber data yang digunakan adalah melalui studi kepustakaan dan juga studi penelitian. Studi kepustakaan menurut Surakhmad (1990:251) adalah penggunaan informasi yang terdapat dalam buku-buku, diktat-diktat, artikel, majalah, skripsi, tesis, surat kabar, internet dan lain-lain. Teknik ini digunakan sebagai penunjang dalam menganalisa masalah teoritik yang akan diteliti. Dengan kata lain studi kepustakaan yang dimaksud disini adalah mendayagunakan berbagai informasi yang terdapat di dalam berbagai literatur untuk menggali konsep dasar yang ditemukan para ahli untuk membantu memecahkan masalah dalam penelitian ini. Sedangkan studi penelitian adalah studi yang dilakukan seacara langsung terhadap objek yang akan diteliti.

5. Analisis data

Analisis yang dipergunakan adalah analisis korelasi, dalam artian memakai konsep-konsep data kuantitatif. Oleh karena itu pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu mencari kebenaran antara pengaruh (profesionalisme guru) dengan realitas terpengaruh (pencapaian kompetensi siswa) di Madrasah Ibtidaiyah Sindang Wargi.

analisis korelasi sangat sering digunakan dalam pengolahan data dua buah variabel dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menghitung Variabel

1) Mencari transendensi sentral

2) Menentukan kelas interval (k)

Dengan rumus :

K = 1 + 3.3 Log n

3) Menentukan rentang (r)

r = skor tertinggi – skor terendah

4) Menentukan panjang interval (p)

P = r : k

5) Membuat tabel distribusi frekuensi observasi variable

6) Frekuensi nilai rata-rata X

7) Mencari nilai median (md)

8) Mencari Modus (mo)

Mo = 3 md = Z X

9) Mencari standar deviasi variabel X

b. Mencari koefisien korelasi yang menunjukan kuat lemahnya hubungan antara variable , yaitu dengan rumus :

c. Menguji signifikan koefisien korelasi

Uji signifikan korelasi ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang penulis lakukan, yaitu dengan rumus sebagai berikut :

kriteria pengujiannya, jika harga t hitung lebih besar dari t daftar, maka hipotesis diterima dan jika sebaliknya, maka hipotesis diterima dan jika sebaliknya, maka hipotesis ditolak. Disamping itu dilakukan pengujian; jika r xy hitung sama atau lebih besar dari rxy daftar, berarti terdapat korelasi yang signifikan dan dengan sendirinya, menerima hipotesis dan jika sebaliknya, berarti tidak terdapat korelasi; serta menolak hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kedua variabel. d. Menafsirkan tinggi rendahnya korelasi

Kriterianya adalah:

Sampai 0,20 = korelasi rendah sekali

0,20 - 0,40 = korelasi rendah tapi ada

0,40 - 0,70 = korelasi yang sedang

0,70 - 0,90 = korelasi yang tinggi

0,90 - 1,00 = korelasi yang tinggi sekali

(Surakhmad, 1985: 302)

e. Mengukur tidak adanya korelasi

Dengan rumus :

(Gaos, 1983 : 118)

f. Mengukur derajat pengaruh variable X terhadap variabel Y

Dengan rumus :

E =100(I-K) (Gaos, 1983 : 118

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: