Profesionalisme Guru dalam Pencapaian Kompetensi Siswa (blm sempurna 2)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG PROFESIONALISME GURU HUBUNGANNYA DENGAN PENCAPAIAN KOMPETENSI SISWA DALAM MATA PELAJARAN FIQIH

A. Pengertian Profesionalisme Guru

1. Pengertian Profesionalisme

Profesionalisme adalah salah satu kunci sukses yang esensial di dalam menjalin hubungan dengan pelanggan dalam jangka waktu yang panjang, sedangkan berprilaku profesional adalah berperilaku sebagai orang yang memiliki kemampuan dalam pekerjaannya, dapat mengendalikan emosi dengan baik, dan bersikap rasional.

Profesionalsime sendiri berasal dari kata profesus (bahasa latin), yang berarti siap tampil di depan publik. Jadi untuk tampil di depan umum, seorang professional harus telah siap untuk menghadapi semua masalah dan menyelesaikannya dengan baik. Profesi, juga mempunyai unsur tanggung jawab terhadap Tuhan. Oleh karena itu sesuatu yang disebut profesi, harus memiliki konotasi yang baik, yang berorientasi pada tanggung jawab kepada Tuhan. Misalnya seorang memiliki pekerjaan sebagai dokter, dia akan disebut memiliki profesi sebagai dokter, dia seyogyanya tidak akan menggunakan cara-cara ataupun melakukan tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula sebagai seorang guru, dia akan disebut memiliki profesi sebagai guru. Dalam bisnis, seorang salesman juga dapat disebut sebagai orang yang memiliki profesi sebagai penjual. Di pihak lain, pekerjaan sebagai seorang pencuri, perampok, atau play boy, tidak tepat kalau disebut sebagai seorang yang bergelar profesi.

Seorang yang memiliki predikat professional memiliki ciri-ciri yang selalu melekat dalam pikirannya, dan tercermin dalam tingkah laku dari para professional. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Disiplin

2. Berorientasi pada kualitas

3. Rajin dan antusias

4. Berpikir positif

5. Fleksibel

6. Rasional

7. Etis

8. Kompeten

9. Strategis

Semua ciri tersebut memiliki hubungan dengan kebiasaan kita sehari-hari. Jadi untuk menjadi seorang yang professional, kita harus merubah secara terus-menerus kebiasaan kita, mencapai yang lebih baik, dan lebih baik.

Seorang professional memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang tidak professional. Seorang professional mampu mengendalikan mantal spiritualnya, sehingga mereka akan melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai, prinsip hidup, ataupun agama dan kepercayaan yang dianutnya.

2. Pengertian Guru

Guru (dari bahasa Sansekerta, guru yang juga berarti guru, tetapi artinya harafiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Pengertian secara umum Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain: Dosen, Mentor dan Tutor.

3. Propesionalisme Guru

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru adalah bias didasarkan kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah kompetensi professional. Kompetensi profesional yang dimaksud dalam hal ini merupakan kemampuan Guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Yang dimaksud dengan penguasaan materi secara luas dan mendalam dalam hal ini termasuk penguasaan kemampuan akademik lainnya yang berperan sebagai pendukung profesionalisme Guru. Kemampuan akademik tersebut antara lain, memiliki kemampuan dalam menguasai ilmu, jenjang dan jenis pendidikan yang sesuai.

Berbagai kendala yang dihadapi sekolah terutama di daerah luar kota, umumnya mengalami kekurangan guru yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan subjek atau bidang studi yang sesuai dengan latar belakang guru. Akhirnya sekolah terpaksa menempuh kebijakan yang tidak popular bagi anak, guru mengasuh pelajaran yang tidak sesuai bidangnya. Dari pada kosong sama sekali, lebih baik ada guru yang bisa mendampingi dan mengarahkan belajar di kelas. Oleh karena itu profesionalisme guru adalah seseorang yang memiliki kapabelitas pemahaman baik dalam ruang lingkup konsep atau metode dan juga adalah pemahaman yang bersifat universal terhadap tugas tugas pokok keguruan itu sendiri.

B. Langkah Langkah Peningkatan Profesionalisme Guru

Tidak dapat disangkal lagi bahwa profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Diperlukan orang-orang yang memang benar benar-benar ahli di bidangnya, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya agar setiap orang dapat berperan secara maksimal, termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri. Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan jaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas. Ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan dalam upaya, meningkatkan profesionalisme guru, yaitu :

1. Sertifikasi sebagai sebuah sarana

Salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah melalui sertifikasi sebagai sebuah proses ilmiah yang memerlukan pertanggung jawaban moral dan akademis. Dalam issu sertifikasi tercermin adanya suatu uji kelayakan dan kepatutan yang harus dijalani seseorang, terhadap kriteria-kriteria yang secara ideal telah ditetapkan.

Sertifikasi bagi para Guru dan Dosen merupakan amanah dari UU Sistem Pendidikan Nasional kita (pasal 42) yang mewajibkan setiap tenaga pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar yang dimilikinya. Singkatnya adalah, sertifikasi dibutuhkan untuk mempertegas standar kompetensi yang harus dimiliki para guru dan dosen sesui dengan bidang ke ilmuannya masing-masing.

2. Perlunya perubahan paradigma

Faktor lain yang harus dilakukan dalam mencapai profesionalisme guru adalah, perlunya perubahan paradigma dalam proses belajar menajar. Anak didik tidak lagi ditempatkan sekedar sebagai obyek pembelajaran tetapi harus berperan dan diperankan sebagai obyek. Sang guru tidak lagi sebagai instruktur yang harus memposisikan dirinya lebih tingi dari anak didik, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator atau konsultator yang bersifat saling melengkapi. Dalam konteks ini, guru di tuntut untuk mampu melaksanakan proses pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif secara dinamis dalam suasana yang demokratis. Dengan demikian proses belajar mengajar akan dilihat sebagai proses pembebasan dan pemberdayaan, sehingga tidak terpaku pada aspek-aspek yang bersifat formal, ideal maupun verbal. Penyelesaian masalah yang aktual berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah harus menjadi orientasi dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, out put dari pendidikan tidak hanya sekedar mencapai IQ (intelegensia Quotes), tetapi mencakup pula EQ (Emotional Quotes) dan SQ (Spiritual Quotes).

3. Jenjang karir yang jelas

Salah satu faktor yang dapat merangsang profesionalisme guru adalah, jenjang karir yang jelas. Dengan adanya jenjang karir yang jelas akan melahirkan kompetisi yang sehat, terukur dan terbuka, sehingga memacu setiap individu untuk berkarya dan berbuat lebih baik.

4. Peningkatan kesejahteraan yang nyata

Kesejahteraan merupakan issu yang utama dalam konteks peran dan fungsi guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Paradigma professional tidak akan tercapai apabila individu yang bersangkutan, tidak pernah dapat memfokuskan diri pada satu hal yang menjadi tanggungjawab dan tugas pokok dari yang bersangkutan. Oleh sebab itu, untuk mencapai profesionalisme, jaminan kesejahteraan bagi para guru merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan dan dipisahkan. (Angelina Sondakh)

5. Gaji yang memadai.

Perlu ditata ulang sistem penggajian guru agar gaji yang diterimanya setiap bulan dapat mencukupi kebutuhan hidup diriny dan keluarganya dan pendidikan putra-putrinya. Dengan penghasilan yang mencukupi, tidak perlu guru bersusah payah untuk mencari nafkah tambahan di luar jam kerjanya. Guru akan lebih berkonsentrasi pada profesinya, tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan rumah tangganya serta khawatirakan pendidikan putra-putrinya. Guru mempunyai waktu yang cukup untukmempersiapkan diri tampil prima di depan kelas. Jika mungkin, seorang guru dapat meningkatkan profesinya dengan menulis buku materi pelajaran yang dapat dipergunakan diri sendiri untuk mengajar dan membantu guru-guru lain yang belum mencapai tingkatnya. Hal ini dapat lebih menyejahterakan kehidupan guru dan akan lebih meningkatkan status sosial guru. Guru akan lebih dihormati dan dikagumi oleh anak didiknya. Jika anak didik mengagumi gurunya maka motivasi belajar siswa akan meningkat dan pendidikan pasti akan lebih berhasil.

6. Kurangi beban guru dari tugas-tugas administrasi yang sangat menyita waktu.

Sebaiknya tugas-tugas administrasi yang selama ini harus dikerjakan seorang guru, dibuat oleh suatu tim di Diknas atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan bersifat fleksibel (bukan harga mati) lalu disosialisasikan kepada guru melalui sekolah-sekolah. Hal ini dapat dijadikan sebagai pegangan guru mengajar dalam mengajar dan membantu guru-guru prmula untuk mengajar tanpa membebani tugas-tugas rutin guru.

7. Pelatihan dan sarana

Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalitas guru adalah pendalaman materi pelajaran melalui pelatihan-pelatihan. Beri kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tanpa beban biaya atau melengkapi sarana dan kesempatan agar guru dapat banyak membaca buku-buku materi pelajaran yang dibutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuannya

C. Beberapa Kompetensi Siswa

Untuk mencapai tujuan dan sasaran dakwah sekolah, maka ada 4 pilar kompetensi yang harus dibangun secara massif terhadap medan dakwah sekolah, khususnya para siswa:

1. Kompetensi Imani

Para pelajar diberikan informasi dan pengajaran tentang dasar-dasar Islam, dibimbing ruhaninya, diarahkan potensinya, diluruskan akhlaknya, baik terhadap Allah SWT, orang tua, guru dan sesama pelajar. Mereka mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dalam kesehariannya. Aqidah yang lurus, akhlak yang baik, ruhani yang bersih, ibadah yang benar, wawasan keislaman yang baik, pandai menjaga waktu dan mengatur urusannya adalah bagian dari kompetensi imani seorang pelajar. Dalam perkembangan yang lebih jauh, mereka dapat mengimplementasikan nilai-nilai ukhuwah dan mujahadah dalam dakwah sebagai cerminan kualitas keimanan mereka.

2. Kompetensi Ilmiy

Para pelajar dimotivasi, dibimbing, diarahkan dan dilatih agar memiliki kemampuan dan disiplin belajar yang tinggi, kecerdasan intelektual dalam menyerap pelajaran, kecerdasan emosional, wawasan yang luas, minat mencari ilmu yang tiada habis-habisnya. Para pelajar juga mulai diarahkan untuk mengenali potensi akademiknya agar dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan bakat dan minat yang telah teridentifikasi secara optimal, sehingga potensinya akan tumbuh sumbur karena ditanam pada lahan yang tepat.

3. Kompetensi Fanni-Jasadi

Para pelajar harus ditumbuhkembangkan potensi skill dan ketrampilan (fanniyah) secara optimal sesuai dengan minat dan bakatnya. Ketrampilan yang dimaksud meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan operasional. Ketrampilan dasar (basic-life skill) meliputi diantaranya apa yang dinamakan mega skills: confidence, motivation, effort, responsibility, initiative, perseverance, caring, teamwork, common sense, problem solving. Sedangkan ketrampilan operasional seperti: dasar-dasar manajemen dan keorganisasian, kepemimpinan, teknik komunikasi efektif, hingga kemampuan bahasa asing dan komputer. Menumbuhkan sejak dini jiwa entrepreneurship hendaknya juga mendapat perhatian penting. Ketrampilan pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya biasanya telah terakomodasi dalam sistem ekstra kurikuler sekolah dimana kita patut mendorongnya seperti: fotografi, pecinta alam, bela diri, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah, dsb.

Selain itu ansyitoh jasadiyah melalui berbagai kegiatan olahraga dan kepanduan patut dibudayakan dan dilaksanakan secara berkala guna mempersiapkan thoqoh jasadiyah sejak dini yang juga merupakan bekalan asasi dalam dakwah dan jihad fi sabilillah.

4. Kompetensi Sya’bi-Siyasi

Sebagai calon pemimpin di masa depan, para pelajar dilatih untuk memiliki kepekaan & jiwa sosial sebagai bekal dasar untuk menggauli masyarakat di sekitarnya. Menolong sesama manusia yang ditimpa kesulitan, bersilaturahmi dengan tetangga, berakhlak yang baik dan menghormati orang tua, senantiasa menjadi pelopor kebaikan dan suri tauladan khususnya bagi remaja lingkungannya akan memupuk simpati masyarakat dan siap mendukung langkah-langkah kebaikannya.

Selain itu, kesadaran dan kepekaan politik dalam batas-batas tertentu patut ditumbuhkan sejak dini untuk mempercepat pematangan fikriyah dan mentalitasnya sebagai pengemban amanah dakwah dan calon pemimpin di masyarakat. Dimulai dari pemahaman tentang problematika umat Islam, baik lokal, regional dan internasional yang menuntut kebutuhan akan gerakan dakwah yang lokal dan internasional. Merasakan berbagai isu dunia Islam sebagai permasalahan bersama dan menuntut peran serta yang lebih aktif. Turut serta merasakan konstelasi pertarungan ideologi dan peradaban secara global dan pengaruhnya dalam konstelasi pergulatan politik nasional.

D. Fiqih dan Manfaatnya Bagi Siswa

1. Pengertian Fiqih

Fiqh itu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci

Fiqh artinya faham atau tahu. Menurut istilah yang digunakan para ahli Fiqh (fuqaha). Fiqh itu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. Menurut Hasan Ahmad Al-Khatib: Fiqhul Islami ialah sekumpulan hukum syara’, yang sudah dibukukan dalam berbagai madzhab, baik dari madzhab yang empat atau dari madzhab lainnya, dan yang dinukilkan dari fatwa-fatwa sahabat thabi’in, dari fuqaha yang tujuh di Makkah, di Madinah, di Syam, di Mesir, di Iraq, di Bashrah dan sebagainya. Fuqaha yang tujuh itu ialah Sa’id Musayyab, Abu Bakar bin Abdurrahman, ‘Urwah bin Zubair, Sulaiman Yasar, Al-Qasim bin Muhammad, Charijah bin Zaid, dan Ubaidillah Abdillah.

Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yangg berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqh itu ialah ilmu pengetahuan yang membiacarakan/membahas/memuat hukum-hukum Islam yang bersumber bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain; setelah diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqh. Dengan demikian berarti bahwa fiqh itu merupakan formulasi dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berbentuk hukum amaliyah yang akan diamalkan oleh ummatnya. Hukum itu berberntuk amaliyah yang akan diamalkan oleh setiap mukallaf (Mukallaf artinya orang yang sudah dibebani/diberi tanggungjawab melaksanakan ajaran syari’at Islam dengan tanda-tanda seperti baligh, berakal, sadar, sudah masuk Islam).

Hukum yang diatur dalam fiqh Islam itu terdiri dari hukum wajib, sunat, mubah, makruh dan haram; disamping itu ada pula dalam bentuk yang lain seperti sah, batal, benar, salah, berpahala, berdosa dan sebagainya.

2. Manfaat Mata Pelajaran Fiqih Bagi Anak

Adapun manfa’atnya bagi anak diantaranya :

a) Memberikan pemahaman akan pentingnya mempelajari fiqih

b) Membantu dalam menjalankan ibadah secara benar

c) Memberikan keyakinan bahwa ibadah yang dilakukannya berdasarkan dalil

d) Membantu untuk memudahkan dalam tata cara/teknis ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunat

e) Menuntun anak agar dapat menghormati berbagai macam pendapat yang ada kaitannya dengan fiqih ibadah

f) Memberikan kesadaran bahwa ibadah adalah rutinitas keagamaan yang bernilai pahala

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: