Kemungkinan

Belumlah selesai memikirkan strategi kemenangan-kemenangan politik kini ternyata kejadian terulang terkait iseu-iseu terorisme yang lagi-lagi tentu dialamatkan kepada umat islam pada khususnya padahal diluar sana teramat banyak model-model teror yang model itu sendiri sering menjadi bulan-bulanan bagi umat islam sebagai antitesa gerakan radikal kata sebagian orang. Secara pribadi saya teramat sangat tidak setuju kalau tindakan pengeboman pelakunya adalah muslim atau orang islam atau dikaitkaitkan dengan islam. Saya meyakini bahwa tindakan itu ada sebab dan akibatnya bahkan kalau dilihat dari kacamata awam gerakan ini mau tidak mau diakui atau tidak diakui akan ada garis benang merahnya dengan rentetan perpolitikan khususnya di Indonesia umumnya di Dunia terutama terkait iseu global Israel-Palestina.

Di Indonesia sebagaimana diketahui bahwa tahun 2018 adalah tahun Pilgub, tahun dimana eksistensi gerakannya akan menjadi bola liar dikemudian hari terlepas apapun hasilnya nanti, apakah kubu agamis ataupun kubu nasionalis demokratis yang kesemuanya punya kelebihan dan kekurangan. dalam kaca mata penulis salah satu pilgub Jawa Barat saja prediksi kemenangan kaum agamis akan mengalami hasil yang kurang maksimal, kelompok ini akan mengalami stagnasi kepemimpinan. Sementara kaum budayawan atau birokrat cenderung akan mengalami hasil yang lumayan maksimal dan merekalah yang pada akhirnya akan memimpin Provinsi yang diakui terbanyak penduduknya setelah Jawa Timur. Kekalahan kaum agamis sebetulnya sudah bisa dilihat dari cara kerja pimpinan parpolnya yang masih saja menggunakan cara lama, cara”peodal” bukan milineal yang kini sedang nge’trent ditambah pola management yang berbasiskan kepentingan murni sesaat tanpa kepentingan kemashlahatan secara universal. Kenapa demikian karena memang fakta dilapangan yang bicaranya seperti itu. Namun apapun dalih pembelaan kaum agamis ini juga pada akhirnya diharapkan bisa menjadi bahan renungan evaluasi khusus bagi para pimpinann, umumnya bagi partainya itu sendiri.

Sementara dilain pihak tahun 2019 adalah pilpres yang tentu akan menyuguhkan drama-drama politisasi gerakan dan kebijakan yang sudah tentu drama itu akan di sulut, dirangsang,dipancing dengan berbagai huru hara politik ataupun huru hara yang ada dan dikait-kaitkan dengan politisasi ke Indonesiaan dan saya rasa kasus teror bom Surabaya ini awal mula pemantik yang sedikit lebih menggigit. Isunya sedikit seksi namun jika salah kelola isu tentu bisa menjadi teramat sangat berbahaya, berbahaya bagi kedua belah pihak tentunya. Saya terkadang sering melamunkan bahwa pada akhirnya perjuangan perpolitikan Indonesia akan menjadi kepompong baru untuk lahirnya model kepemimpinan ideal pada waktunya nanti. Tentu kepemimpinan setelah kepemimpinan 2019 nanti bukan hari ini. Dalam proses perjalanannya terkadang kita akan melewati pula fase-fase  penuh intrik,spekulasi,monopolistik dalam percaturan dinamika demokratisasi kenegaraan bangsa yang hingga kini belum sepenuhnya merdeka, merdeka yang sesungguhnya.

 

Iklan

Entahlah

Selama lebih dari 17 tahun berada di kota ini banyak hal ternyata yang ku dapat. Tidak ada keinginan yang begitu penting bagiku kecuali ku ingin hidup dalam kesederhanaan, masih teringat pesan almrh kakek dulu tahun 1991 an : kalaulah kita tidak ditakdirkan menjadi orang berlebih maka jadilah menjadi orang baik saja, jadilah orang yang bisa menjadi orang lain menjadi baik. Sering terpikir ”lintasan” pikiran pikiran yang selalu menjadi momok bagi kepribadianku sendiri bahwa aku sesungguhnya belumlah menjadi orang baik…..jauh…sangat jauh dari baik. Ku selalu bertanya pada diriku sebetulnya ”baik” itu apa ya ?….Entahlah

Dibeberapa kesempatan terkadang ku selalu menyempatkan diri melihat beberapa profile teman, sahabat, handai tolan baik itu teman sejak SD,SMP,SMA,PT maupun yang lainnya sampai hari ini. Sungguh sangat sedih ketika melihat beberapa teman berada dalam zona kesempitan,kesusahan namun juga dibalik itu bahagia juga ketika melihat dan mendapatkan bahwa mereka begitu rilexnya menikmati hidup yang terkadang dalam sudut pandang subjektif kayaknya gak bisa kebayang kalau ujian itu menimpa diriku.

Semakin banyak berteman ternyata semakin banyak pula kita bisa mempelajari dan tentunya bisa mengambil pelajaran dari beberapa sifat yang satu sama lain memiliki perbedaan yang dibeberapa segi sangat kontradiktif. Ada yang dulunya dikenal sangat alim/soleh tapi ternyata dikehidupan kini dia menjadi orang yang sangat berbeda, dulu dikenal sangat ramah kini menjadi teramat sangat ”pongah” tapi juga sebaliknya dulu yang tak pernah mencicipi ”ngaji” kini menjadi kiyai…….., dititik yang lain terkadang gak kebayang juga jika sesekali aku mencoba berada diposisi teman yang kini bersebrangan, bersebrangan dalam arti aku dan mereka ada perbedaan pola hidup, pola keyakinan dalam memahami kehidupan ini.

Entahlah….entah kapan aku bisa memahami tabir rahasia hidup ini, mungkin bisa jadi dikemudian hari…mungkin, atau mungkin hanya anak cucukulah yang pada akhirnya bisa melihat dan memahami arti perjuanganku dikemudian hari. Ketika kubayangkan dahsyatnya siksa neraka terkadang ku terperanjat akan hakikat hidup di alam baka, aku banyak durhaka, ku belum bisa berbakti kepada orang tua dan yang lainnya. Ku hanya bisa berdo’a semoga pada akhirnya ku bisa masuk surga dengan segala kelemahan dan kesalahanku selama didunia yang fana. Satu yang tak kalah penting bahwa aku ingin meminta maaf pada semua, semua orang yang pernah bersama baik dalam suka maupun duka. Entahlah….akan menjadi apa aku kedepannya…..mudah mudahan saja aku akan menjadi bagian kebaikan bagi sesama.Amiennnn

 

Menakar Asumsi #2019 Ganti Presiden

Bila dilihat dari kaca mata ”awam” perhelatan politik di tahun 2019 sungguhlah sangat menarik untuk di analisa. Terutama dalam hal ini penulis ingin sedikit memberikan asumsi-asumsi untuk menakar dinamika proses polarisasi kebijakan terkhusus salah satu partai islam yang memiliki stok kader capres yang banyak. Hipotesa awam awal dari salah satu partai yang berbasis islam ini sebetulnya sudah bisa ditebak yaitu ” Maju Kena mundur Kena” sama seperti judul sebuah film komedi jaman tahun 1990-an. Kenapa demikian karena :

Sudah sedari awal partai ini sebetulnya ”mendidih” bergejolak baik itu secara internal maupun secara eksternal. Eksternal sudah pasti karena selain banyak musuh juga yang tak kalah adalah banyak saingan partai islam yang seideologi tentunya dan dalam tataran internal, jangankan menurut kacamata kader itu sendiri dari kacamata simpatisan saja sudah sangat terlalu ”vulgar” rasanya dinamika partai ini ter-tontonkan baik dalam skala nasional maupun skala global dalam hal model kepemimpinannya. Kalau dilihat dari salah satu kacamata politik kepentingan pada dasarnya partai ini adalah partai oposisi dan tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa partai ini juga memiliki beberapa perbedaan ideologi dari sudut pandang keagamaan basis islam dan cenderung tabu dan anti sistem komunis, disisi yang lain partai inipun menjadi dilematis ketika haruslah menyodorkan kader terbaiknya terutama untuk menjadi lawan atau musuh bagi petahana yang kini sedang berkuasa, bagaimana tidak diakui ataupun tidak partai ini begitu ngototnya ingin memperjuangan salah satu kader terbaiknya untuk menjadi capres ataupun cawapresnya. Hal yang menarik dari proses sahwat politik tersebut diatas adalah ketersandraan kader terbaiknya tersebut disatu sisi dan ke’egoan tersendiri untuk memunculkan sosok yang lain disisi yang lainnya.

Ketersandraan yang pertama adalah kesulitan untuk bisa berlepas diri dari kasus-kasus yang menyeret kridibilitasnya dikemudian hari dimana salah satu kader terbaiknya merupakan pejabat yang sudah dua periode menguasasi propinsi yang memiliki basis masa yang luar biasa besarnya dan telah menorehkan ratusan prestasi yang terbaik pula. Maka jika ketika beliau dijadikan lawan politik petahana yang kini berkuasa maka sudah bisa dipastikan beliau akan terjegal dengan sendirinya dikemudian hari oleh jejak rekan kinerja selama menjadi pejabat, mengapa demikian karena kita semua sudah mafhum jangankan yang memiliki celah dosa walau seandainya diumpamakan tak bercelah sekalipun yang namanya politik tidaklah ada yang tidak mungkin, tidaklah tidak ada yang mustahil dimana yang salah bisa menjadi benar begitupun sebaliknya yang terkadang benar bisa menjadi salah. Hipotesa teori yang pertama ini akan menjadi bumerang dan menjadi senjata makan tuan terkhusus bagi partainya sendiri umumnya bagi semua para pendukungnya. Ada klaim bahwa beliau adalah pejabat terbersih dan terbaik tapi ingat sekali lagi dalam dunia politik semuanya bisa saja terjadi apalagi jika posisi bergainingnya adalah musuh atau lawan dari petahana yang berkuasa.

Ketersandraan yang kedua adalah jikalaupun pada akhirnya memaksakan diri untuk merapat bahkan menjadi pasangan petahana yang berkuasa ini juga akan menjadi bola liar tersendiri bahkan bisa jadi ini menjadi titik balik proses ketenggelaman basis masa yang selama ini konsen dalam bab memerangi kemungkaran/kemaksiatan dalam berpolitik. Bisa saja berkuasa tetapi siap kehilangan para kadernya yang terpilih bahkan dipastikan akan menjadi satu satunya partai berbasis islam yang paling di caci maki, dihina,diobok-obok,dinista,yang lebih parah mungkin juga dikutuk dan semisalnya dalam sejarah peradaban dunia islam di abad modern ini. Cacat sejarah akan diukir diperiode ini, selain cacat sejarah secara kelembagaan partai islamnya itu sendiri yang lebih parah adalah cacat catatan dunia akhirat yang teramat dahsyat konsekuensinya bagi keselamatan personalnya itu sendiri kecuali ada diantara sebagian kadernya yang mencoba tetap salalu mengingatkan dan meluruskan pemahaman para pemimpinnya yang cenderung bersifat ”oportunis” misalkan. Hipotesa yang kedua inipun tentu akan menjadi hal yang tidak mudah bagi siapapun itu orangnya dan bagi siapapun itu partainya. Berpolitik itu beresiko ya tentu pasti, karena kalau tidak, bukan berpolitik namanya asal tinggal bagaimana kebijakan itu pada akhirnya bisa memberikan dampak positif yang lebih banyak dibanding dampak negatifnya, tentu kajian ini harus dilihat dari kacamata ”komprehensif fungsi dan manfaatnya” atau dalam istilah islam harus dilihat kontek komprehensif mashlahat-madharatnya.

Adapun kalau ingin terselamatkan dari kedua ”ketersandraan” hipotesa diatas tidak ada lain, tidak ada cara kecuali harus lah mencari solusi lain, mungkin diantaranya memunculkan sosok-sosok yang lain dari kadernya yang jauh lebih bisa diterima dan mewakili zona demografi keindonesiaan. Diakui ataupun tidak indonesia memiliki tiga zona demografi baik itu timur, barat maupun tengah. Siapakah itu orangnya ya, tentu semuanya berpotensi dan memiliki harapan, minimalnya keluar dari zona ketersandraan yang dampaknya jauh lebih merugikan. Jika porsi yang ketiga ini diambil terlepas bagaimana proses dinamikanya saya rasa esensi #2019GantiPresiden adalah sebuah kepastian yang pasti akan lebih jauh bisa dirasakan kemanfaatannya dibanding kerusakannya. Ketika semua bahu membahu untuk menghilangkan ke-egoan dan mengedepankan tali persaudaraan maka tidak ada yang mustahil didunia ini, kita akan menjadi negeri percontohan dunia pada akhirnya sebagaimana kisahnya negeri percontohan dalam alquran yaitu kisah percontohan ” Negeri Sulaeman A.S ” Wallahu’alam bissowab.

Permainan level”Dasar”

Sedikit mengamati dari kacamata “subjektif” pimpinan partai politik islam terkait “inkonsistensi” dalam kebijakan pandangan dasar memang terkadang amat menjengkelkan akan tetapi itulah realita yang terjadi. . . dulu sempat dilakukan pemilu raya untuk menjaring nama tokoh calon presiden namun pada akhirnya yang muncul sembilan itupun dengan dinamika yang sedikit dipaksakan karena seandainya hasil itu dibuka dengan azas kebenaran realita tentu smua akan terkejut dan terhenyak karena sesungguhnya hasil yang keluar kuranglah mempresentasikan yang sesungguhnya.

Beberapa bulan kebelakang narasi retorika itupun kembali terjadi dari mulai celah asumsi penyodoran calon pendamping petahana negeri ini meski urutannya ke tujuh belas kalaupun itu dipaksakan. Yang disayangkan adalah implikasi dari ucapan itu, banyak kader yang menyayangkan itu terjadi yang pada akhirnya semakin berdampak pada riak-riak asumsi ketidak percayaan kader dibawah.  Tak menjelang lama ternyata kembali terjadi statment yang berujung pelaporan ke bareskrim polri terkait tuduhan yang berfotensi “kriminalisasi” kepribadian,  lagi lagi kejadian ini semakin mempertajam sudut riak dinamika partainya.  Dibeberapa moment berikutnya terbaca kembali terkait adanya harapan bahwa penyodoran cawapres orang partai seolah dibaca oleh sebagian para seniornya yang lain tidak melalui mekanisme partai yang biasanya dilakukan selama ini.  Dari sudut rasionalitas cawapres yang disodorkan ini tentu sudah tidak diragukan lagi kredibilitas,  Profesionalitas dan kafasitasnya karena selain mantan gubernur dua periode dengan ratusan prestasi/penghargaan, beliau juga merupakan sosok termatang dari segala sudut pandangnya.  Disisi lain namun yang terkadang dilupakan dibalik itu semua adalah mekanisme cara bermainnya dan yang harus diyakini pula dalam bab proses endingnya nanti.  Orang boleh berspekulasi tetapi sisi hipotesanya juga harus dikaji lebih komprehensif lagi.

Asumsi hipotesa yang ingin saya lihat dari semua proses dinamika diatas adalah entah langkah apalagi jika pada akhirnya cwapres yang disodorkan tidaklah dipakai oleh capres yang sudah dideklarasikan sebelumnya oleh partai yang lain.  Ada beberapa kemungkinan kalau dilihat,  bisa tetap mendukung dengan tentu pemufakatan pemufakatan politik seperti yang sudah biasa dilakukan semisal implikasinya lelang jabatan dll.  Atau mungkin kembali merapat ke blok presiden petahana yang kebijkan ini jelas akan berdampak semakin akutnya gesekan dinamika bawah yang bisa saja ini adalah akhir dari anti klimak perseteruan para pimpinan dan tidak menutup kemungkinan proses ini merupakan awal mula “tutup bukunya” eksistensi partai islam ini.

Hipotesa yang lain jikalau memang terjadi komposisi duet ini maka resiko jatuh kelubang yang sama dua kali dalam arti “kekalahan” itu kemungkinan kembali terjadi karena dari segi sudut apapun rasionalitas kemenangannya agak sulit bisa diyakini.  Bila ini yang terjadi maka bersiap siaplah pada periode ini merupakan awal mula strategi pembumihangusan gerakan islam secara masif, terstruktur yang dilakukan oleh penguasa petahana.  Adapun harapan terakhir jikalau menangpun bukanlah perkara mudah untuk mempertahankannya,  dimana bisa jadi kasus presiden “Mursi” diluar sana akan terulang kembali dan mungkin bisa lebih parah, ekstrim & sporadis. Mudah mudahan apapun yang terjadi semuanya bisa tetap mengendalikan diri untuk tetap memegang teguh jati diri islam yang sejati, bisa istiqomah dalam bingkai ukhuwah meski pada akhirnya harus dibayar dengan”darah” wallahu’alam bissowab.

 

 

Ketika Dokumen Pencucian ”Aqidah” itu Bocor dan Terbongkar

Pada awalnya ratusan bahkan ribuan pertanyaan meliputi hati sanubari. Banyak ketidak mengertian dan keganjilan, mengapa mereka yang seolah selama ini baik ternyata mendadak liar tak karuan. Banyak mencerca sesama temannya sendiri apalagi lebih-lebih kepada mereka yang disingkirkan dan tersingkirkan. Betapa yakinnya mereka bahwa mereka adalah paling benar dan suci, tidak jarang mereka mengklaim bahwa kami jauh lebih tahu dari kalian semua, kami punya data valid tentang agen luar yang masuk kedalam, kami sangat tahu siapa dia dan banyak lagi statment yang cenderung 120% itu dipercaya oleh para konstituennya, konstituen yang selama ini sebetulnya mereka teramat sangat awam terhadap permasalahan yang kini sudah canggung seolah membelah organisasi ini.  Sekilas kalau dibaca dari presfektif keilmuan tentu dokument ini teramat sangat bisa diyakini kebenarannya, namun jika dilihat dari segi level keilmuan yang lain justru orang-orang yang pernah belajar materi “intelegensia agentcy” akan tersenyum simpul & bisa memaklumi kenapa dokument ini pada akhirnya dianggap seolah aqidah pembenaran baru yang pada tataran tekhnisnya terkadang melebihi kemulian kitab suci itu sendiri.  Saling mengklaim pada akhirnya adalah retorika narasi yang entah sampai kapan akan beraakhir, pemecatan & penenggelaman kader-kader terus akan terus dilakukan bahkan bisa jadi kebijakan ini akan terus terjadi tiada akhir.  Huh. . . luar biasa memang perang strategi “gangster ini” mantap tenan sisi-sisi deskripsinya, maknyos terasa efeknya sehingga bisa memisahkan satu ikhwah dengan ikhwah yang lainnya hanya dalam sekejap.  Tidak bisa dibayangkan memang akibatnya dikemudian hari satu-satunya cara adalah satu sama lain kini harus saling mengeksekusi biarpun itu dia teman sendiri atau bahkan istri/suami sendiri. . . . . luar biasa efek kejutnya. Tapi. . . . hah ini hanya permainan yang terlalu frimitif. . . sangat bisa terbaca pada akhirnya. . . . oleh karena itu kembali pada aturan agama Allah adalah satu-satunya strategi untuk kembali membuka pintu kebaikan ukhuwah yang hakiki nan sejati.

Siapapun nanti calon presiden atau calon wakil presiden asalkan keputusan itu berdasarkan keputusan majelis syuro’ yang tidak menyalahi syari’at ”aqidah” tentu sebagai ma’mum kita semua wajib dan harus mengikutinya bilamana pintu celah poros baru atau poros menengah tidak terbentuk diwaktu yang sama, kalaupun ada poros baru atau poros menengah terbentuk tentu selain istikhoroh analisis kajian SWOT yang komprehensif adalah mutlak dilakukan sebagai dasar mashlahat madharat dalam bergerak dan berkontribusi kongkrit dilapangan. Wallahu’alam bisshowab

Main Gila dalam Berpolitik

Sudah sangat terbayangkan bahwa perpolitikan di tahun 2019 nanti adalah tahun huru-hara politik. Kenapa ? karena memang banyak faktor yang mengarah kesana. Seru, oh itu sudah pasti, bukan saja gesekan antar arus bawah tapi sudah termasuk arus ataspun memiliki kepentikan ganda ”dua kaki”. Ditahun ini pula akan diprediksi bahwa para pejabat”dewan’yang jumawa akan mengalami titik nadzir yang menyedihkan, mereka akan berguguran diterjang badai yang sebetulnya mereka tanam sendiri sebelumnya, terlepas disadari ataupun tidak. Tidak sedikit para penjegal terpuaskan, dan tidak banyak memang para ”incumbent” yang terhinakan. Kini teori politik ataupun cara mereka sudah terbongkar habis nyaris tiada tersisa, gerakan yang selama ini dibungkus dengan keluguan, kebijaksanaan, retorika yang berapi-api, pantun-pantun nasehat yang menyihir namun sungguh dibalik itu semua kini orang-orang sudah pada ”nyinyir” melihat kelakuannya ini. Banyak para incumbent yang kini mulai setress karena banyak dimusuhi oleh konstituennya sendiri, ditinggalkan oleh donator tetap yang dulu menyukseskannya ditambah banyaknya saingan baru yang maha berat. Banyak statment yang mereka keluarkan seolah-olah mereka ”pede” – jumawa – merasa hebat namun sesungguhnya hatinya teramat sangat kacau. Kini mereka mulai merapat, kini mereka mulai mendekat, kini mereka mulai seolah memikat namun sayang sudah sangat terlambat. Ku katakan dibanyak kesembatan bahwa mereka pasti akan terbabat habis kalau cara cara kolonialnya masih terus dipertahankan, kalau cara-cara ”primitifnya” masih terus diterapkan. Kusering mengatakan di medan pertempuran nanti adalah pertempuran yang membabi buta, pertempuran gila yang akan menghancurkan dan menenggelamkan para ”jumawa”. Kusering mengatakan bertempurlah se ”edan-edannya” karena lawan kita akan jauh lebih gila dari sebelum-sebelumnya. Jika kita merasa akan menang 100 % maka saya pastikan bahwa kita pasti kalah telak, selalu ku katakan dalam pertarungan ini kalian harus meyakini bahwa kemenangan kalian itu minimal 300 % keyakinan akan meraih kemenangan. Selalu ku katakan bahwa pertarungan nanti adalah pertarungan ”para gladiator” dimana mereka yang selama ini kalian manfaatkan akan berbalik menyerang kalian dengan seradikal-radikalnya…..tidak akan ada belas kasihan kepada kalian sebagaimana kalian memperlakukan mereka selama ini secara sewenang-wenang, kalian menipunya, kalian memanfaatkannya dan yang terparah adalah kalian menggadaikannya. Jika target kalian menambah 100% quota yang ada, maka kukatakan dengan tegas dan jelas bahwa hal itu adalah sebuah kemustahilan sebagaimana keyakinan mustahilnya ”tuhan itu punya tuhan lagi”. Ada ratusan indikator kemenangan yang sebetulnya telah kita buang dengan percuma selama beberapa tahun kebelakang yang diantara dari indikator itu adalah adanya ”korupsi kebijakan” dihampir semua lini, baik itu lini kependidikan berupa ”model/sistem regulasi yayasan” yang dijalani, lini ekonomi dalam bab penggunaan tranfaransi anggaran, lini pemufakatan makar terhadap orang-orang kecil, pembohongan publik atas nama tuhan dan agama dan lain-lain. Ku ingin mengatakan terkhusus pada diri mari bertobatlah, kembalilah kepada prinsip-prinsip ukhuwah yang profesional dan froporsional bukan pada prinsip-prinsip premodialisme berbasis kafitalisme yang dibungkus dengan ikatan monopolisme.

Kudeta Merangkak

Gerakan itu kian hari semakin terlihat, tidak sedikit orang menganggap bahwa gerakan itu hanyalah akal-akalan saja, hanyalah sebuah formalitas semu yang dipaksakan. Hemmmmm seandainya saja mereka pernah terlibat dalam gerakan ini, sungguh sebenarnya gerakan ini adalah gerakan fenomena puncak gunung es yang semakin kita menyelami sesungguhnya kita akan mengerti betul bahwa gerakan ini ternyata sudah mengakar dan mem”piramid” yang dimana basis masanya sudah menggurita untuk siap mengkudeta, mengkudeta secara perlahan, mengkudeta secara bertahap sama persis seperti kudeta merangkak, pelan tapi pasti, kecil tapi efeknya besar dan bahkan maha dahsyat. Hal yang menjanjikan dari gerakan kudeta merangkak ini adalah faktor personal yang ternyata didominasi oleh simpul simpul gerakan itu sendiri, dimana suatu waktu kalau simpul ini terlepas atau terbuka satu persatu maka dari salah satu simpul ini saja akan menelurkan ratusan bahkan ribuan koloni masa yang maha dahsyat efek kejutnya, belum lagi ribuan simpul yang hingga kini masih terikat kokoh belum terbuka menunggu intruksi ”deklarator utama”. Sungguh tidak bisa dibayangkan seandainya gerakan ini pecah atau meledak pada waktunya, akan banyak korban terhenyakan, akan banyak analisis tercengangkan, akan banyak pengamat terkejutkan, dan akan banyak pemerhati terpelohok tak karuan. Waktu itu kian dekat bahkan sangat dekat, simpul-simpul itu kini mulai terlonggarkan talinya satu persatu…mulai membuka…..mulai agak mau menelurkan simpul-simpul berikutnya……. Diluar sana para pengambil kebijakan mulai melihat, mulai terganggu, mulai ketakutan, mulai terusik dan terganggu. Entahlah …menarik saja untuk dilihat proses endingnya, ada kemungkinan para pengambil kebijakan yang kini merasa jumawa, yang merasa diatas, yang merasa paling berpengaruh akan mengalami ketertenggelaman yang ter”nistakan” -”terhinakan”-cacat dalam sejarah peradaban.