Adab Bermusyawatah

Di bawah ini ada beberapa catatan adab bermusyawarah :

  1. Niat ikhlas Awal dari segalanya adalah niat. Pun demikian dalam bermusyawarah. Niatkan bahwa apa yang akan dilakukannya untuk kemaslahatan, dan karena Allah saja. “Tidaklah iman seseorang itu menjadi lurus hingga lurus hatinya. Tidaklah lurus hatinya hingga lurus lisannya.” (HR Ahmad) Mulai dari kanan Pekerjaan sederhana yang kerap terlewatkan adalah memohon izin dan bimbingan Allah dengan bacaan basmallah.
  2. Setelah itu, mulailah giliran mengemukakan pendapat yang dimulai dari sebelah kanan. Berikan kesempatan mengemukakan pendapat secara adil kepada masing-masing musyawirin (peserta musyawarah) sehingga tidak ada di antara mereka yang terkurangi hak-haknya. Kendalikan Lisan Lidah tidak bertulang, demikian kata orang. Oleh sebab itu, sebelum bicara pikirkanlah secara matang, kendalikan lisan, apakah pendapat yang akan dikemukakan membawa manfaat atau justru melahirkan kemudharatan. Bila pendapat kita tidak diterima, ucapkanlah hamdallah. Sebaliknya, bila diterima, ucapkanlah istighfar `Astaghfirullah hal adzim’. Sebab, bila pun pendapat kita benar, berarti kita telah menunaikan kewajiban, dan bila salah kita terlepas dari bahaya. Bila didapati pembicara yang ngomong keluar dari konteks bahasan, ingatkanlah dengan subhanallah. Dan apabila orang mengemukakan pendapat, dengarkanlah dengan penuh perhatian.
  3. Jangan sama sekali memotong pembicaraan orang lain sebelum tuntas. Berdoalah agar Allah meneteskan hidayahnya pada forum musyawarah itu dengan memperbanyak dzikir dan shalawat (QS Al-Ahzab: 41-42 dan 56).
  4. Jangan Berfatwa Tanpa Ilmu Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengetahuan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” ( QS Al-Isra’: 36) Begitupun, jangan membantah argumentasi orang lain tanpa mempelajari permasalahannya. Barangsiapa tidak tahu, tidak patut baginya memberi koreksi kepada orang yang tahu.
  5. Janganlah bersikap fanatik terhadap suatu pendapat yang tanpa disadari pemahaman, petunjuk, dan bukti. Imam Malik pernah ditanya, dan menjawab: “Saya tidak tahu.” Ia menjauh dari berfatwa tanpa ilmu. Allah Maha Pengasih kepada siapa saja yang memahami kadar kemampuan dirinya.
  6. Jangan Mendominasi .Janganlah mendominasi pembicaraan hanya karena ingin dikenal pandai bicara dan luas wawasan. Mendominasi pembicaraan bukanlah tanda keluasan wawasan seseorang, tetapi ketamakan. “Dan sesungguhnya orang yang paling Aku benci dan paling jauh majelisnya dari-Ku pada hari kiamat adalah orang-orang yang berlebihan dalam bicara, yang suka mengungguli orang lain dengan perkataannya dan yang menunjuk-nunjukkan mulut besarnya dengan omongan untuk menampakkan kelebihan di hadapan orang lain.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
  7. Rendah Hati Bila kita mengetahui ada orang yang lebih berkompeten dan lebih ahli, lebih baik kita mendengar darinya daripada berbicara. Ingat pesan Hasan bin Ali ra kepada anaknya: “Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan ulama, hendaknya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah memotong pembicaraan meskipun panjang lebar, hingga ia enyelesaikannya sendiri.” Tidak (selalu) Suara Terbanyak Kebenaran tidak selalu dapat diukur dari suara terbanyak. Apalagi bila hal itu menyangkut keahlian. Karena itu pendapat seorang yang ahli tidak bisa dikalahkan oleh peserta lain yang banyak, yang sesungguhnya tidak berkompeten terhadap hal itu. Ini bukan diskriminasi. Bukankah pendapat seorang dokter-dokter tentang hal ihwal penyakit seorang pasien tidak bisa dianulir oleh pendapat para jururawat atau seluruh pegawainya meskipun mereka semua unjuk gigi tidak sependapat? Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa bila urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya. Hindari Permusuhan Terkadang suasana musyawarah memanas oleh perdebatan dan perbedaan faham. Bila sudah demikian, berhati-hatilah dengan tipu daya iblis yang membisikkan seolah-olah kita berbicara kebenaran, padahal sesungguhnya nafsu. “Sesungguhnya, larangan yang pertama ditujukan kepadaku setelah penyembahan berhala adalah perdebatan (yang dibarengi dengan permusuhan).” (HR Imam Bazar dan Thabrani dengan sanad lemah). Bukan `Pembantaian’ Tidak jarang musyawarah menjadi ajang `pembantaian’ bagi orang lain. Seolah-olah musyawarah itu kesempatan membuka kelemahan orang lain, di hadapan orang banyak. Hal ini sangat tidak sesuai dengan akhlaq Islam. Hindarilah sikap melampaui batas; membuka aib dan merendahkan sesama Muslim (QS 49: 11-12). Memahami Perbedaan Perbedaan pendapat bukanlah persoalan yang membahayakan, jika didasari keikhlasan dan diterima dengan lapang dada, sikap toleran, dan kasih sayang. Imam Abu Hanifah berkata: “Pendapat kami benar, namun memiliki kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun memiliki kemungkinan benar.” Tidak perlu khawatir, terimalah hasil musyawarah yang mungkin berbeda dengan pendapat kita, karena Rasulullah memberi jaminan: Bila ijtihad kita benar, kita akan dapat dua pahala. Sebaliknya, bila salah, (juga) tetap akan dapat satu pahala. Tutup dengan Istighfar Setelah tahap-tahap musyawarah dianggap selesai, agar majelis kita tidak bernilai laghah (sia-sia), tutuplah kegiatan majelis tersebut dengan memohon ampun kepada Allah Swt dengan doa majelis, “Subhanakalahuhumma rabbana wabihamdika asyahadu alla ilaha illa anta ashtaghfiruka wa atuubu ilaik” mungkin ada keteledoran, kegegabahan, atau kealpaan yang dilakukan pada saat berlangsung musyawarah. Wallahua’lam bishshowab!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: