Aktivis Mahasiswa Harus Berpandangan Luas

Apabila kita berbicara mengenai aktivitas mahasiswa, seolah-olah wujud konfliknya antara isu-isu “besar” dan “kecil” dan memang hal tersebut tidak bisa terbantahkan. Isu-isu besar merupakan isu-isu politik nasional atau sejagat.Seringkali aktivis mahasiswa mengartikan bahwa mahasiswa perlu memperjuangkan isu-isu nasional dan tidak boleh mengabaikannya, mahasiswa merupakan conscience masyarakat dan bakal pemimpin negara serta sebagai pemegang estapeta generasi gerakan. Pada waktu yang sama, mereka akan dikritik mengabaikan isu-isu yang benar-benar penting untuk mahasiswa.Kritikan ini bukan saja datang dari pada pihak yang terancam dengan aktivisme “isu-isu besar” mereka, tetapi juga oleh

Pertama sekali, isu-isu “kecil” ini penting karena ia melibatkan kebijakan mahasiswa. Seperti pepatah Melayu yang menyebut, “Kuman di seberang laut nampak, tetapi gajah di hadapan mata tak kelihatan”. Dalam situasi hari ini apabila mayoritas besar mahasiswa yang kurang berminat dengan isu-isu politik nasional atau antar bangsa, ramai di antara mereka yang tetap mengambil berat tentang hal-hal yang melanda diri mereka sendiri di kampus. Kedua, perjuangan isu-isu “besar” harus dihormati sebagai salah satu daripada hak mahasiswa sebagai warganegara yang cukup umur dan matang. Sebagian pihak, apabila dikatakan mahasiswa di luar negara diberi kebebasan, akan memberi alasan bahwa mahasiswa di Indonesia tidak matang dan kurang greget. Sekiranya negara kita sudah benar-benar maju dan melangkah ke hadapan, bukankah negara kita sudah bersedia untuk mahasiswa diberikan kebebebasan untuk terlibat dalam politik sebagaimana pemimpin-pemimpin negara kita pada waktu mereka masih lagi mahasiswa dahulu? keterlibatan mereka di dalam politik dan aktivitas tidak pula mendatangkan isu-isu keselamatan kepada negara – selain dari kebanyakannya adalah menyumbang kepada perjuangan diri mereka sendiri. Tuduhan bahwa mahasiswa dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu apabila mereka bersuara mengenai isu-isu “besar” menunjukkan ketidakmatangan naratif kritis terhadap aktivitas mahasiswa. Seolah-olah itu sajalah kemampuan mahasiswa – sama ada untuk belajar atau untuk menjadi boneka – tanpa mengakui kebolehan mahasiswa untuk menilai sendiri sesuatu isu mengikuti kebolehan dan idealisme mereka. Pada masa yang sama, apabila aktivis mahasiswa dapat meluaskan lagi gagasan perjuangan mereka, maka semestinya mereka akan dapat melibatkan diri lebih ramai dan kritis. Mahasiswa di kampus harus memberi keyakinan bahwa mereka bukan hanya memperjuangkan isu-isu politik yang kelihatan tidak relevan tetapi isu-isu kebijakan mahasiswa yang sesuai dengan tuntutan reformasi yaitu perubahan menuju perbaikan bukan sebaliknya perubahan menuju kerusakan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: