Menyerah Sebelum Kalah

Manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan memang suatu perwujudan yang kompleks. Dengan potensi-potensi yang ia miliki, tentu saja membuat setiap individu pun memiliki kekhasan tersendiri. Bahkan ketika menghadapi suatu masalah. Respon yang dimiliki seseorang berbeda-beda tergantung dari beberapa hal, yaitu, pengalaman yang dia miliki, pengetahuan / innformasi yang ia ketahui serta persepsi subjekif yang seringkali mendominasi kepribadian.

Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, pasti memiliki kecenderungan perilaku frustasi. Ini merupakan hal yang wajar sebab struktur kepribadian seseorang yang menurut teori Freud dibagi menjadi 3, yaitu Id, ego dan superego selalu membutuhkan keseimbangan agar menjadi pribadi yang sehat. Artinya tak ada yang mendominasi lebih di sini. Frustasi yang dialami manusia bisa menghasilkan frustasi personal dan impersonal. Frustasi personal yaitu frustasi yang disebabkan pemikiran-pemikiran negatif seorang individu itu sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. sementara frustasi impersonal lebih disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan sekitar yang memberi penilaian negatif terhadap diri seseorang. Kaitannya dengan frustasi, daya tahan seseorang terhadap frustasi juga menentukan seberapa besar tingkat kedewasaan seseorang. Daya tahan terhadap frustasi tidak boleh terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Sebab daya tahan yang terlalu tinggi menyebabkan kecenderungan orang menjadi mudah menyerah terhadap situasi atau tak mau berusaha lebih, sementara daya tahan yang terlalu rendah juga akan menimbulkan efek negatif berupa perilaku-perilaku agresi yang membahayakan. Pada orang-orang tertentu dengan daya tahan yang terlalu tinggi, biasanya terjadi karena individu sudah terlalu jenuh dengan situasi. Ini juga ada hubungannya dengan teori pertukaran sosial,yaitu bahwa orang/individu cenderung untuk bertahan / tetap menjaga hubungan dengan individu lain jika individu itu dianggap ‘menguntungkan’ baginya dan ketika individu yang lain itu tak seperti yang ia harapkan maka ia secara langsung akan memilih mundur dan menyerah. Proses menyerah itu sendiri juga meupakan salah satu bentuk displacement, yaitu pengalihan dari satu objek ke objek kateksis (objek pendorong) yang lain yang dianggap bisa mereduksi suatu ketegangan.Ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: