Ma’afku Buat Ibu

‘’ Jangan pernah menempelkan kata takdir dirumah ini’’
( Refleksi sebuah mimpi : Rabu malam, 5 September 2007 )
Terhentak, seolah jantungku berhenti berdetak tatkala kumelihat sesosok ibu yang kukenal, kukenal karena aku pernah kerumahnya bersama putri kesayangannya. Salah tingkah aku dibuatnya karena tak tahu apa yang mesti aku lakukan terhadapnya namun bersyukur ibu itu hanya menyapaku doank.
Sekitar enam kali aku bertemu dengan ibu itu, dan sesekali hanya sapaan singkat saja yang terlontar darinya dan begitu juga dariku. Namun yang membuatku takut adalah tatapan kedua matanya yang seolah ada pertanyaan yang kulihat disana. Mungkin ibu itu bertanya siapa aku ini, kenapa suka kerumahnya, kenapa aku suka menitipkan sesuatu buat putri kesayangannya.
Wahai ibu dari seorang putri yang cantik
Aku minta ma’af padamu tentang putrimu
Aku tidak sempat menjelaskan keinginanku
Aku belum bisa menjelaskan maksud hatiku
Bukan aku tak mampu dan tak mau melakukannya
Namun aku takut engkau akan kecewa dengan kehadiranku
Aku juga takut engkau akan mengusirku seandainya kusampaikan maksud keinginanku tentang putrimu
Aku takut karena aku bukan siapa-siapa dikeluargamu
Akupun bukanlah orang yang kau kenal dan tentunya aku sangat asing bagimu
Wahai ibu dari seorang putri yang cantik
Didalam mimpi itu engkau banyak menjelaskan tentang putrimu padaku, banyak engkau memberikan kebijaksanaan padaku meski pada akhirnya aku tahu apa maksudmu, keinginanmu dan harapmu, ibu ma’afkan aku yang tak berguna ini. Kau jelaskan bagaimana putrimu menginginkan kebahagian, bagaimana kebijaksanaan mu supaya aku menjauhi putrimu, dan keinginanmu untuk supaya aku tidak mengganggu putrimu lagi. Ibu …engkau seolah tahu siapa aku namun aku selalu bertanya tentangmu dimimpi itu siapakah gerangan engkau wahai ibu…?
Sempat aku berdiri dan mengajukan protes padanu tentang putrimu ‘’ Aku sangat mencintainya, aku siap menikahinya ‘’ wahai ibu kulihat engkau bangkit dan berdiri, mukamu memerah tanganmu mengepal waktu itu dan kau berkata dengan keras padaku ‘’ Jangan pernah kamu menempelkan kata takdir ditembok rumah ini ‘’, engkau marah wahai ibu, kau pukul tembok rumahmu dan engkau memarahiku. Aku hanya bisa tunduk diwaktu itu wahai ibu aku tak bisa berkata kata lagi, aku hanya bisa berucap ma’afkan atas kelancanganku wahai ibu.
Wahai ibu dari seorang putri yang kusayangi
Aku takut itu semua terjadi dialam nyata ini wahai ibu
Aku takut kalau itu benar-benar akan terjadi disuatu hari nanti, aku tak siap untuk tersakiti yang lebih perih lagi, cukup perihku sampai disini wahai ibu Kini aku menjauh dari putrimu karena kau belum mampu mengerti akan semua kebijaksanaanmu itu. Wahai ibu seandainya tidak ada aral melintang aku ingin sekali menikahi putrimu, karena kuyakin aku akan merasa bahagia karenanya, akupun akan berusaha sekuat tenagaku untuk bisa membahagiakannya.
Wahai ibu dari seorang putri yang kucintai
Ma’afku karena sempat aku membawa purimu tanpa sepengetahuanmu, ma’afku padamu karena aku sempat menyakitinya dan berlaku tak baik padanya. Wahai ibu seandainya kau tahu apa yang pernah kulakukan pada purtimu mungkin kau akan membunuhku. Wahai ibu aku berjanji padamu aku akan berusaha melindungi putrimu, semampuku meski hanya lewat do’a do’a malamku.Kini meski aku tak berhak lagi untuk mengganggunya aku hanya bisa meminta kepadamu semoga kau tetap mengijinkan aku untuk selalu bisa menatapnya dalam diam, menatapnya dalam kesendirian. Wahai ibu kini kau telah mengambil keputusan itu, kau telah meminangkan putrimu dengan pilihannya. Wahai ibu jika kau bertanya tentang izinku aku mengijinkannya dan aku ikhlas menerima semua keputusanmu. Semoga harap dan cita luhurmu bisa terlaksana sesuai dengan semua kebijaksanaanmu diwaktu itu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: