PEMERINTAHAN KAMBING PUTIH

 

Di jagad Indonesia sudah menjadi tradisi berpolitik dengan gaya dan metode serta strategi Politik Kambing Hitam, dimana kesalahan pengambilan keputusan pada level apapun tidak serta merta menjadi tanggung jawab pemegang kewenangan, ada saja pihak lain yang sengaja dijadikan korbannya. Namun semenjak tahun 2005 mulai dimunculkan metode dan strategi berpolitik gaya baru’, yaitu : Politik Kambing Putih.

 

Sebenarnya politik kambing putih ini mirip dengan kebiasaan ‘Blaiming the Victim’, dimana kesalahan ditimpakan kepada obyek sasaran kebijakannya. Pemerintah dalam hal ini mengedepankan alasan ‘misi suci’-nya, dengan demikian maka pemerintah diyakini tidak mungkin melakukan kesalahan saat mengambil kebijakannya tersebut, apabila terjadi kegagalan dalam implementasinya maka kesalahan dialamatkan kepada target kebijakannya yang tidak cukup cerdas memahami logika pemerintah, dalam hal ini yang tidak cerdas tentunya adalah rakyat kebanyakan yang jelata. Metode dan strategi gaya baru yang dilakukan oleh pemerintah tersebut sudah mulai tampak muncul pada waktu yang lalu ketika terjadi insiden tabrakan maut’ sewaktu rombongan mobil Presiden SBY beriringan melintasi Jalan Tol Jagorawi dari Cikeas. Kemudian gaya ini terus berkesinambungan dan berlanjut hingga ke berbagai peristiwa termutakhir seperti salah satu contohnya adalah kasus yang terkait dengan kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM, dimana respon dan reaksi rakyat dibaca hanyalah sebagai ke-tidakpaham-an rakyat pada tekad pemerintah yang berusaha memakmurkan rakyatnya Hal lain yang kini juga muncul adalah ‘soft-authoritarianism’ atau ototarianisme lunak, dimana kebutuhan berdemokrasi dipadukan dengan pemeliharaan dominasi negara dengan memanfaatkan ‘state apparatus’ -terutama memanfaatkan jaringan inteljen- dan ‘pencanangan program’ yang direncanakan dapat merangkul secara efektif berbagai kelompok civil society disertai ‘produksi isu-isu’ yang dapat bermanfaat untuk memelihara popularitas pemerintah. Dengan demikian pemerintah tetap dapat memelihara popularitasnya sekaligus dapat memudahkan pemerintah memunculkan citranya sebagai ‘Kambing Putih’-nya. Gaya Pemerintahan Kambing Putih yang demikian itu bisa jadi akan dilanjutkan dan berkesinambungan di tahun 2006. Namun apakah dengan gaya itu akan terus-menerus menuai hasil ‘seperti yang diharapkan’disepanjang tahun sampai dipenghujung tahun 2006 seperti di tahun 2005?. Disepanjang tahun 2005, memang dapat dikatakann bahwa pemerintah dengan Gaya Berpolitik ala Kambing Putih itu telah ‘sukses’ dalam meredam gejolak rakyat serta menjaga stabilitas kekuasaannya. Namun sukses yang diraih pemerintah itu berkait erat dengan tren apatisme yang terjadi dimasyarakat dan tingkat kesabaran rakyat sehingga respon dan reaksi serta protes rakyat belum terfokus. Sehingga -dikhawatirkan- jika sampai dengan bulan April tahun 2006 pemerintah masih juga gagal mewujudkan perubahan yang berarti dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat, maka -Wallahua’lambishawab- tumpukan isu dan program gaya ototarianisme lunak yang memanfaatkan state apparatus itu justru bukan hal yang mustahil malahan akan berbalik menjadi berondongan peluru yang menakutkan bagi pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: