Bisikan Hati Yang Terluka

Diaryku, sakit rasanya hati ini dikala mengingat hari pertunangannya dikala itu
Diaryku, meski suatu saat aku akan memahaminya, namun sungguh sakit rasanya setiap kali aku melihat cincin dijari tangannya, cincin yang bukan dariku
Seandainya aku bias adil ingin rasanya aku menyimpan di jari yang satunya lagi biar meski kutak sampai memilikinya namun aku masih bias bersamanya meski harus lewat cincin itu. Yang selalu bias mewakiliku didalam setiap kerinduanku
Hati ini berhenti tak berdetak kurasa
Darah ini berhenti tak mengalir kurasa
Tak percaya hamper aku tak percaya
Sungguh teramat sakit aku mendengarnya
Sungguh aku menangis mengingatnya
Sungguh aku tak tahan menahan sakitnya hati ini
Hati ini, darah ini terhenti disaat aku mendengar tentang pertunangan itu
Hati ini tercabik disaat aku menyaksikannya lewat kesendirian
Disaat cincin itu
Disaat kedua tangan itu bertemu….
Sungguh dadaku seakan mau meledak dan hatiku benar benar terkoyak disaat itu
Wahai penyejuk mata hatiku
Kau tahu hati ini sungguh teramat sakit mengingat tentangmu
aku merasakan sepasang kakiku yang utuh telah patah..
aku merasakan kedua mataku telah buta..
dan kini aku berteduh dalam jiwa ku yang tersiksa..
semua begitu naif, membawaku menuju kesedihan..
tak adakah kesetiaan yang kudapatkan?
apakah ini kutukan bagiku atas dosa dosaku?
apakah ini untuk selamanya?
dahulu sepasang kakiku inilah yang mengejarmu
hanya untuk dapat berbincang denganmu..
dan merasakan kehidupan bersamamu…dan kini kau telah mematahkannya..
aku tak mampu berjalan
semua ragaku telah lumpuh…
dan sepasang mataku telah kau butakan..
ku tak ingin melihat diriku yang terdua…
hingga lumpuhlah sepasang mataku
dan tak mampu memandang teduh wajahmu..
tak mampu memandang redup matamu…
tak mampu memandang bening bola matamu…
kau benar benar telah melumpuhkan ragaku
hingga berdiripun terasa enggan bagiku
aku merasakan engkau telah mentertawakan diriku..
mentertawakan kesedihanku..
engkau tersenyum untuk penderitaanku…
dan kini kau menunggu tubuhku yang kan terjatuh…
dan kini langkah langkahku takkan berarti bagimu..
dan kini kau menungguku mati dengan indah…
mengapa tak kau tunjukkan wajahmu di depanku?
seperti yang tlah kau lakukan dibelakangku?
dan kini kau menunggu kematianku…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: