Shalat Ghaib

Bahwa para fuqaha terbagi menjadi dua pendapat dalam masalah shalat ghaib:

1. Pendapat Yang Mendukung Shalat Ghaib

Para fuaha dari kalangan Asy-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa shalat ghaib untuk jenazah itu ada masyru`iyahnya dan merupakan shalat sunnah yang dianjurkan. Meski jenazahnya tidak berada di hadapan kita seperti di luar negeri.

Dasarnya adalah praktek shalt ghaib Rasulullah SAW kepada jenazah raja Habasyah, An-Najasyi.

Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW menshalatkan An-Najasyi dan bertakbir 4 kali. (HR Muttafaqun ‘alaih)

Mazhab pun membolehkan shalat ghaib untuk jenazah yang jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga posisi jenazah tidak harus berada di luar negeri. Biasanya, mereka menggunakan jarak batas minimal safar, yaitu sejauh minimal sejauh 16 farsakh, atau setara dengan 89 km.

Mazhab ini juga membolehkan posisi jenazah tidak searah dengan arah kiblat, asalkan shalatnya tetap menghadapkiblat. Maka dalam pandangan mazhab ini, orang-orang yang tinggal di kota-kota yang ada di sebelah barat Kota Yogyakarta tetap dibenarkan menshalati jenazah almarhumah.

Bahkan fuqaha kalangan Al-Hanabilah membolehkan untuk shalat jenazah secara ghaib hingga rentang waktu sebulan setelah dimakamkannya jenazah itu.

2. Pendapat Yang Menolak Pensyariatan Shalat Ghaib

Mereka adalah para ulama dari kalangan Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Dalam pandangan mereka, syariat Islam tidak menetapkan adanya ibadahshalat ghaib.

Sedangkan praktek Rasulullah SAW yang dahulu pernah menshalatkan jenazah Raja Habasyah, Najasyi, menurut mereka adalah sebuah pengecualian atau sifatnya lughawiyah. Kalau pun dikerjakan, hukumnya adalah makruh.

Jadi mereka bukan mengingkari kenyataan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat ghaib, hanya saja menurut pandangan mereka, perbuatan itu merupakan kekhususan peristiwa yang hanya berlaku pada satu momen itu saja.

Buktinya, tidak pernah ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa beliau pernah melakukan shalat ghaib selain hanya untuk An-Najasyi. Padahal begitu banyak shahabat nabi SAW yang meninggal dunia yang tidak tinggal di Madinah.

Dalam logika mereka, kalau seandainya memang benar ada pensyariatan shalat bhaib itu, seharusnya Nabi SAW tidak hanya melakukan hanya dalam satu kasus itu saja.

Untuk lebih jelasnya bagaimana perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha itu, silahkan rujuk kitab-kitab berikut ini:

Ad-dur Al-Mukhtar jilid 41 halaman 813.
Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 94
Asy-Syarhu As-Shaghir jilid halaman 571
Al-Majmu` Syarah Muhazzab jilid 5 halaman 209
Al-Muhazzab jilid 1 halaman 134
Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 345
Al-Mughni jilid 2halaman 512
Kasysyaf Al-Qanna` jilid 2 halaman 126.
Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dinukil dari eramuslim ( Ahmad Sarwat, Lc )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: