Mahasiswa : Kemana Saja Kamu

Mahasiswa, sering disimbolkan sebagai kekuatan garis depan yang melindungi hak-hak rakyat. Maka tidak heran,penguasa sangat takut dengan kekuatan ‘kaum intelektual’, sehingga aparat pemerintah membuatperaturan yang mengatur barisan mahasiswa agar tidak brutal dan bebas—di-dikte. Selain melalui peraturan
tertulis, juga disengaja untuk memasukkan unsur-unsur ideologi tertentu ke dalam otak pemikiran mahasiswa.

apakah masih ada yang tersisa?
sejak langkah senjata
berhenti berdering di telinga
apakah masih ada yang tinggal?
dari laju perjuangan
yang meninggalkan jejak berdebu
di belakang

Kutipan puisi diatas penulis temukan dari secarik kertas yang ditinggalkan tergeletak di atas bangku halte—didepan Pusat Kegiatan Mahasiswa sebuah Universitas terkemuka. Bekas remasan tangan sangat jelas di ukiran kertasitu. Tampaknya, sang pembuat puisi tidak menginginkan puisinya dibaca orang, sehingga ia remuk-remaskan dansepintas seperti sampah kertas biasa yang sering hadir—berserakan di seputaran halte. Puisi yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, namun ketika penulis mencoba memahaminya, hanya menghasilkan senyum simpul yang pahit.

Ada nada kekecewaan. Begitu menyayat, sehingga sang pembuat tega membuang hasil karyanya itu. Ada pertanyaanyang sampai sekarang belum terjawab di benak penulis; apakah sekarang sosok pejuang itu masih ada? Memang, kemerdekaan Indonesia telah diraih sejak 17 Agustus 1945. Dengan pengorbanan ribuan jiwa akhirnya kita
bisa memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia tercinta. Ketika kita masih menginjak pendidikan dasar (SD) guru kita sering menekankan bahwa setelah tanggal 17 Agustus 1945 itu, Indonesia memasuki tahapan untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Guru kita pun sering bilang bahwa kita sebagai generasi muda bangsa, harus mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan tetap menjaga nama baik Republik Indonesia dimana pun kita berada. Namun, terjadikah hal itu kini?
Masih adakah Mahasiswa?
Mahasiswa, kata itu sudah tidak asing bagi telinga orang Indonesia. Mahasiswa, sering disimbolkan sebagai kekuatan garis depan yang melindungi hak-hak rakyat. Maka tidak heran, penguasa sangat takut dengan kekuatan ‘kaum intelektual’, sehingga aparat pemerintah membuat peraturan yang mengatur barisan mahasiswa agar tidak brutal
dan bebas Selain melalui peraturan tertulis, juga disengaja untuk memasukkan unsur-unsur ideology tertentu ke dalam otak pemikiran mahasiswa. Juga dikondisikan, agar pemikiran ideologi-ideologi itu tetap berada pada jurang pemisah dan berpotensi untuk menimbulkan bara konflik. Tentunya, hal ini tidak dilakukan secara langsung oleh pihak penguasa, tetapi sedikit-demi sedikit ditaburkan benih-benih perpecahan dalam tubuh mahasiswa sehingga para kaum muda ini tersekat pada pemikiran ideologinya masing-masing—saling membenarkan ideologinya dan menyalahkan ideologi orang lain.
Memang, argumen ini belum terbukti secara ilmiah, tetapi dalam realita kehidupan kampus, sangat kental sekali pengelompokkan-pengelompokkan ideologi tersebut. Buktikan saja sewaktu pra-Pemilu, Pilkada dan sewaktu persiapan pemilihan pemimpin BEM. Ketika itu, kita bisa lihat betapa terpisahnya kekuatan mahasiswa yang bergerak tidak lagi dilandasi oleh nurani untuk membela rakyat tetapi terperangkap dalam kepentingan kelompoknya masing-masing. Lalu, apa masih ada sosok mahasiswa ?
Betapa pertanyaan yang amat sulit sekali untuk dijawab. Secara zahir, sosok mahasiswa memang ada, tetapi tak lebih hanya segumpalan daging yang dibalut oleh baju-baju trendi. Tak lebih hanya sekedar pemenuh sesudut-sudut mata, yang akan gempar jika nilainya tidak B atau tidak A. Lalu, tak lebih dari acara infotainment yang menayangkan seputar gosip artis, dan juga tak lebih dari seekor anjing yang berkoar-koar menyampaikan retorika tentang kehidupan rakyat yang digencet globalisasi—tetapi sekali lagi, hal itu hanya pemanis bibir semata. Hanya sebagai pelepas utang saja kepada rakyat dengan memperlihatkan ‘ini lo, kami sedang berupaya berjuang untuk rakyat’, padahal tidak.
Begitulah orang Indonesia, yang memang masih dengan mudahnya dibohongi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: