Modernisme dan Relevansinya

MODERNISME DAN RELEVANSINYA

A. Pendahuluan
Menceritakan tentang non rasial filsafat yang mulai mengkungkung barat (bahwa kreasi seni adalah bukan sebuah cerita tapi sihir. Penampilan kita adalah wujud yang sebenarnya dan wajah adalah topeng, dalam alam modernisme tidak ada bentuk yang bisa dipahami, menusia sebagai manusia kehilangan ciri yang menjadikannya memiliki posisi yang sama dengan yang lain, bahkan manusia dikuasai oleh segala sesuatu). Banyak diantara pemikir barat menganggap buku sebagai sejarah lahirnya post modernisme sebelum terjadinya konsep modernisme itu sendiri.
Gerakan pencerahan (humanisme) barat menjadikan manusia sebagai pusat, dan menegaskan tentang rasionalitasnya serta kemampuannya melampaui dirinya dan lingkungannya tanpa mengetahui hal-hal yang non-rasial. Peradaban ini dimulai dengan pengumuman “Matinya Tuhan” atas nama manusia sebagai pusat dan berakhir dengan pencabutan otoritas manusia sebagai decenter.
Kaum modernis menganggap bahwa teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama,sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modernis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri.

B. Pengertian
Modernisme ialah konsep yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya di jaman modern. Konsep modernisme ini meliputi banyak bidang ilmu (termasuk seni dan sastra) dan setiap bidang ilmu tersebut memiliki perdebatan mengenai apa itu ‘modernisme’. Walaupun demikian, ‘modernisme’ pada umumnya dilihat sebagai reaksi individu dan kelompok terhadap dunia ‘modern’, dan dunia modern ini dianggap sebagai dunia yang dipengaruhi oleh praktek dan teori kapitalisme, industrialisme, dan negara-bangsa.
Overview : Sesungguhnya, modernisme seni di eropa telah dimulai sejak tahun 1800an dimana pada era ini, ditemukan teori relatifitas, dimulainya industrialisasi serta ilmu pengetahuan sosial yang memancing gaya – gaya baru dalam bidang seni. Pergerakan seni pada era ini sejalan dengan hal – hal diatas, gebrakan – gebrakan dapat terlihat pada 15 tahun pertama abad ke 19. Bisa dilihat dari munculnya gaya lukisan abstrak ekspresionis di tahun 1903 yang dipelopori oleh Wassily Kandinsky dan bangkitnya cubism di tahun 1908 yang dipelopori Pablo Picasso dan Georges Braque. Di awal Perang Dunia ke 1, tekanan dan ketidaknyamanan keadaan sosial yang terjadi seperti saat Revolusi Rusia, telah memunculkan pergerakan – pergerakan radikal dalam seni yang menolak kebiasaan – kebiasaan lama. Dimulai ketika Komposer ternama Rusia Igor Stravinsky di tahun 1913 mencoba memunculkan pertunjukan yang menunjukan manusia yang menjadi korban, serta Pablo Picasso dan Paul Matisse yang menolak sistem perspektif traditional yang menjadi ciri khas lukisan terstruktur, hal seperti ini bahkan belum pernah dilakukan oleh para pelukis impresionis sekelas Cezanne sekalipun. Inilah yang mulai memperjelas apa yang sebenarnya diistilahkan sebagai “Modernism”, yaitu penolakan serta pergerakan terhadap kesederhanaan gaya Realis dalam literature dan seni, serta mengubah tonality dalam musik. 1920, Modernisme yang di era sebelum perang hanyalah sebuah efek minoritas mulai menegaskan dirinya sebagai hal yang dapat merubah jaman. Modernisme di eropa terlihat dalam pergerakan – pergerakan seni yang kritis seperti Dadaism dan selanjutnya dalam pergerakan kontruktivisme seperti Surealism, seperti juga dalam pergerakan –pergerakan kecil seperti Bloomsburry Group (kelompok pelajar Bohemian di Inggris). Masing masing pergerakan ini menunjukan metode – metode baru untuk menghasilkan hasil yang baru. Gaya – gaya yang muncul, terutama Surealis, Cubis, Ekspresionisme, Fauvisme, Futurisme serta Leninisme secara cepat diadopsi daerah daerah luar yang jauh dari daerah asalnya. Yang cukup menonjol peranannya serta tidak dapat dilupakan ialah 2 kelompok besar era Modernisme yang menggusung kuat Modern art di Eropa dan belakangan diadopsi sampai ke Amerika, berbeda dengan gaya – gaya di atas yang lebih berkategori anti – art, 2 Kelompok ini lebih dikenal sebagai pengembang ide – ide baru yang berkaitan dengan seni, arsitektur, desain dan pendidikan seni. 2 Kelompok ini ialah Bauhaus (Jerman) dan de Stijl (Belanda) Di tahun 1930, Modernism di Eropa telah memperoleh posisi penting baik dalam politik dan seni. Namun demikian, Modernisme sendiri pada saat ini telah sedikit banyak berubah. Banyak reaksi yang mengatakan Modernism setelah tahun 1918 bersifat keterlaluan, tidak masuk akal serta lebih emosional. Pada periode setelah perang dunia Modernism kembali berbelok ke arah sitematisasi serta nihilism, seperti terlihat pada gerakan yang paling paradigmatis yaitu Dada.
Key Movement Dalam era Modernisme di Eropa, dua gerakan yang dapat dibilang menjadi pergerakan utama ialah Bauhaus di Jerman dan de Stijl di Belanda. Bauhaus yang dalam bahasa Jerman berarti “Architecture House “ ialah sekolah seni dan arsitektur yang berdiri di Jerman dari tahun 1919 s/d 1933 sebelum pindah ke Amerika, gaya desain Bahaus menjadi salah satu gaya paling berpengaruh dalam gaya arsitektur serta interior era Modernisme di eropa. Beberapa tokoh terkenal dari Bauhaus ialah Gropius, Adolf Meyer, Mart Sam dan Marcel Breuer lewat karya karyanya yaitu “Wasilly Chair”, “Chicago Tribune Tower” dan “Cantilever Chair”. Pergerakan lainnya adalah de Stijl di Belanda, de stijl ialah pergerakan seni di Belanda yang dimulai tahun 1917 belakangan gaya de Stijl-lah yang akan banyak mempengaruhi gaya desain dari Bauhaus , de Stijl dikenal juga dengan nama neoplasticism. Pada awalnya de Stijl ialah sebuah jurnal yang dipelopori oleh seorang pelukis dan kritikus seni Theo van Doesburg, baru kemudian Piet Mondrian, Bart van Der Leck, Gerrit Rietvield, J.J.P Oud dan seniman seniman lainnya bergabung dalam de Stijl. Filosofi seni yang menjadi dasar pekerjaan kelompok ini ialah “New Plastic Art”. De Stijl sedikit banyak terpengaruh oleh gaya cubisme, mysticism serta ideal geometric dari golongan neoplatonic . Para seniman de Stijl coba mengekspresikan keidealan impian serta keharmonisan spiritual serta tatanan dengan cara mengajukan suatu abstraksi dan keuniversalan dengan menyederhanakan bentuk dan warna dalam desain – desain mereka. mereka menyederhanakan susunan visual berdasar arah vertikal dan horisontal, dan memakai hanya warna pokok serta hitam putih. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa contoh karya mereka, seperti “Rietvield Schroeder House serta Red Blue Chair” . Gaya de Stijl seperti yang telah disebutkan di awal, telah mempengaruhi gaya dari Bauhaus serta gaya arsitektur Internasional, dan juga gaya desain interior dan fashion desain dunia.

C. Relevansinya
Kegagalan Modernisme vs Posmodernisme
Pada akhir abad ke-20-an, gaung posmodernisme begitu menggelagat di berbagai media massa di Indonesia (1992-1993). Pada hakekatnya posmodernisme lahir sebagai gerakan intelektual yang mengritisimodernisme – peradaban barat. Modernisme dinilai gagal karena pengedepanan rasio (Rene Descartes, cogito, ergo sum, saya berpikir maka saya ada) dan melahirkan konstruksi sistem-sistem dalam seluruh tataran kehidupan. Modernisme tidak memberi prospek kehidupan yang lebih menjanjikan. Meskipun gerakan posmodernisme tidak mengajukan jalan atau solusi alternatif (dalam arti teoritis) atas kritiknya terhadap modernisme tetapi gagasan-gagasan posmodernisme masih bergaung di negeri kita dan tetap relevan bagi situasi kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat di republik ini. Kegagalan Modernisme Kegagalan modernisme kurang lebih selama abad 20-an telah menimbulkan kekejaman, kesengsaraan dan kepahitan luar biasa bagi umat manusia. Ingat saja penderitaan dan korban yang diakibatkan mulai dari peristiwa Perang Dunia I, holocaust (tragedi kemanusiaan), Perang Dunia II, Perang Rwanda, Burundi, Yugoslavia, Bosnia, Sarajevo dan juga termasuk peristiwa dalam negeri seperti G 30/s PKI, Kerusuhan Ambon, Konflik di Timtim (Timor Leste, sekarang). Jutaan manusia tak berdosa menjadi korban dan terbunuh. Tak berlebihan jika Koffi Annan (Sekretaris Jenderal PBB) mencap abad ke-20 sebagai abad paling kejam. Ketidakberhasilan modernisme dapat pula ditemui pada akibat yang ditimbulkannya. Modernismelah yang melahirkan kapitalisme. Peradaban modernisme membuat ilmu pengetahuan menjadi terlalu naturalistik. Moral sosialnya represif. Kehidupan organisasi kemasyarakatan menjadi kaku, sistematis dan ketat yang lalu menimbulkan kultur massa, dan juga agama memandekkan dinamika kehidupan dengan strategi pendekatan yang menakut-nakuti manusia. Singkatnya modernisme tidak menjanjikan suatu kehidupan yang lebih baik. Yang lebih kurang manusiawi lagi adalah modernisme memandang realitas sebagai unity (kesatuan, univositas, keseragaman). Realitas itu bukan unity melainkan plurality demikian gagasan posmodernisme (Cahoone, Ed. 1996: 14). Sebagai contoh konkrit misalnya, pengenalan `diri’ (the self) manusia tidak boleh lagi dilihat dengan sikap pretensi otentisitas dan obyektivitas. `Diri’ manusia harus dikenal dari `margins’ (tepi- tepi) yang mengelilinginya (constitutive otherness) (Cahoone, idem) seperti budaya, pendidikan, pengalaman hidup, sosial dan lain sebagainya).

Tentang Posmodernisme
Kata `posmodernisme’ pertama kali digunakan pada tahun 1917 oleh Rudolf Pannwitz, filosof Jerman, untuk melukiskan `nihilisme’ kebudayaan barat pada abad 20-an (Cahoone, idem). Di bidang teologi (agama), istilah tersebut digunakan oleh teolog Bernard Iddings Bell dalam pengertian pengakuan atas kegagalan modernisme sekuler dan perlunya kembali pada agama. Dalam dunia sejarah, sejarawan Arnold Toynbee mengartikan posmodernisme sebagai gerakan kultur massa pasca-Perang Dunia I, seperti perlawanan kelas pekerja melawan kelas pemilik modal. Term posmodernisme ditemukan juga pada dunia kesusasteraan pada tahun 1950 -1960-an sebagai reaksi perlawanan terhadap estetika modern. Lalu pada tahun 1970-an, gerakan posmodernis bergerak di bidang arsitektur. Baru pada tahun 1980-an posmodernisme merasuki dunia filsafat di Perancis sebagai reaksi untuk menolak pilar-pilar epistemologis peradaban barat (rasionalisme) dan bersama-sama dengan gerakan politik seperti gerakan multikulturalisme dan feminisme, para filosof posmodernis melawan tirani otoritas politik dan pendidikan terhadap independensi ilmu dan kehidupan masyarakat. (Cahoone, idem). Pada dasarnya, kebanyakan pemikir posmodernis mengatakan definisi `posmodernisme’ sendiri sulit dan tidak mungkin dijelaskan, karena kompleksitas gerakan-gerakan perjuangannya. Juga, mereka tidak mengemukakan suatu doktrin atau teori sama sekali, selain menolak gagasan-gagasan modernisme alis peradaban barat. Namun ada indikasi atau yang menunjukkan ciri khas yang membedakan mereka dari gerakan-gerakan lainnya yaitu dari tema-tema atau ide-ide yang mereka cetuskan parafilosof posmodernis (Gilles Deleuse, Jacques Derrida, J.F Lyotard, Michel Foucault, dlsb). Gagasan mereka antara lain, penolakan pengetahuan atau pengenalan realitas yang obyektif, seperti pengetahuan tentang `diri’ manusia bukanlah soal obyektivitas, tetapi harus diketahui dengan strategi analisa yang mereka sebut strategi analisa constitutive otherness (ke-yanglain-an yang membentuk, terj. penulis). Artinya dalam mengenal segala realitas, termasuk `diri’, harus melihat margins yang mengitari realitas/ obyek itu sendiri).Posmodernisme juga memandang realitas sebagai keberadaan ada-ada yang beranekaragam (plurality) dan bukannya keseragaman (unity). Posmodernis menekankan bahwa realitas harus dikenal dari ruang lingkupnya, kini dan di sini (nunc et hinc) serta tidak bisa direduksi ke dalam binnary opposition seperti baik-buruk, kiri-kanan, hitam-putih dan sebagainya.

Relevansi
Banyak pemikir dewasa ini menyebut para posmodernis seperti ‘anjing yang menggonggong apa yang tidak diketahuinya’ (Griffith, Ed., 1987; 175). Benar, posmodernis mengritik modernisme tanpa memberikan suatu solusi alternatif menyeluruh dan sistematis. Namun justru di situlah keunikannya yaitu ketika mereka tidak terpaku pada teori kaku dan tunduk pada suatu sistem yang membatasi ruang geraknya. Yang jelas, posmodernisme mengusung nilai-nilai kehidupan yang lebih humanis. Para filsuf posmodernis menghargai keberanekaragaman realitas (pluralitas), multikulturalisme, feminisme, dengan segala margins yang mengitarinya. Mereka juga telah menggagas suatu kehidupan yang lebih manusiawi dan inklusif. Artinya mereka mengedepankan pemanusiawian kehidupan bersama yang pluralis. Di Indonesia gaung posmodernisme masih bergaung ketika banyak insane yang memperjuangkan keberanekaragaman, pluralitas, Hak Asasi Manusia, dan melawan otoritarianisme, tirani, kezaliman, kelompok oportunis, dan koruptor-koruptor yang menyengsarakan rakyat kecil. Memang, di Indonesia, secara de jure pluralitas (suku, agama, ras dan antargolongan) diakui dan diterima dalam Pancasila dan UUD 1945. Namun secara de facto kehidupan bersama yang lebih manusiawi dan inklusif belum bisa dinikmati secara manusiawi pula.

Kesimpulan
Jika pemunculan modernisme adalah kisah pergumulan antara kalangan tradisi dan hasrat untuk bebas, maka perkembangan yang terjadi adalah harus adanya keseimbangan antara konsep konsep humanis yang bersipat pluralistic, karena jika tidak, konsep modernisme yang dianggap baik akan menjadi bomerang tersendiri bagi kehidupan manusia itu sendiri jika memang tidak diimbangi dengan pemahaman akan konsep-konsep kehidupan yang dinamis seperti aspek keimanan terhadap agama dan juga tak kalah penting adalah aspek keilmuan dijaman modern yang beretika dan bermartabat.
Banyak factor negative yang pasti akan terjadi jika konsep modernisme hanya dijadikan sebagai kajian semata tanpa adanya pembackupan dari konsep modernisme itu sendiri, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dimana salah satu dampak dari konsep modernisme yang tidak beretika adalah diskriminasi terhadap para penganut muslim yang ada disana. Adapun dari segi IPTEK banyaknya terjadi penyimpangan yang fatal seperti pembantaian dan peperangan terhadap penduduk Palestina oleh tentara zionis Israel dengan alat-alat hasil konsep modernismenya yaitu rudal,nuklir dan lain sebagainya.
Namun selain factor negative banyak juga factor dan dampak positif yang akan dihasilkan dari konsep modernisme itu sendiri yang salah satunya adalah berkembangnya ilmu pengetahuan yang memudahkan manusia untuk bisa berkembang kearah hidup yang lebih maju sehingga relevansi dari konsep modernisme bagi kehidupan manusia akan sangat mempengaruhi dan mengikat sehingga akan terjadinya suatu peradaban kehidupan global yang menuntut adanya usaha keras bagi setiap manusia untuk dapat bertahan didalamnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: