Pembangunan Kota Tasikmalaya (Quo Vadis)

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Tasikmalaya, Kota ini memiliki wilayah seluas 17.156,20 Ha atau 171,56 km2, yang meliputi 8 wilayah kecamatan. Pemerintah Kota Tasikmalaya telah menetapkan visi dan misi pembangunan yang menjadi arah dan pendorong kebijakan pembangunan berkelanjutan agar terwujud menjadi kota termaju di wilayah Priangan Timur.
Visi tersebut merupakan hasil pemikiran dan perenungan masyarakat Kota Tasikmalaya, yang tercermin dalam kalimat sebagai berikut: “Dengan Berlandaskan Iman dan Taqwa Kota Tasikmalaya Menjadi Pusat Perdagangan dan Industri Termaju di Priangan Timur Tahun 2012”. Realitasnya perkembangan pembangunan di Kota Tasikmalaya dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup pesat. Peningkatan pembangunan ini dipicu oleh ekspektasi masyarakat dalam mengapresiasi visi Kota Tasikmalaya. Pembangunan sarana fisik (infrastruktur) berupa ruko-ruko dan mall-mall secara perlahan tapi pasti memenuhi sudut-sudut Kota Tasikmalaya yang semakin ”hareurin”.
Dari pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tersebut, tampak jelas bahwa pemerintah dalam hal ini kurang memperhatikan dan mempertimbangkan aspek sosiologis dan aspek lingkungan sehingga memunculkan sejumlah persoalan. Salah satu diantara persoalan sosial tersebut adalah membengkaknya pengangguran sebanyak 30.000 orang dari total penduduk kota Tasikmalaya sebanyak 500.000 orang. Karenanya pemerintah perlu melihat variabel-variabel tentang struktur anatomi kemasyarakatan kota Tasikmalaya. Sampai saat ini persoalan sosial tersebut belum bisa diatasi oleh pemerintah. Sementara persoalan lain adalah terkait dengan masalah lingkungan hidup. Lingkungan hidup disekitar kita sudah tidak ramah lagi, disatu sisi pembangunan infrastruktur terus didirikan dimana-mana disisi lain bukit-bukit diratakan.
Cara pembangunan seperti ini akan memiliki dampak negatif dimasa yang akan datang terutama bagi lingkungan hidup, bisa jadi nanti akan berdampak pada timbulnya pemanasan global, suhu udara, polusi bahkan banjir. Bila pola pembangunan seperti ini terus dilanjutkan maka dipastikan kota Tasikmalaya kedepan akan kehilangan muka sebagai kota yang sejuk dan indah.
Para pengambil kebijakan dan pengusaha seharusnya jangan latah dalam mengisi pembangunan kota ini, hanya karena dicantumkan kalimat ”perdagangan dan industri” dalam visi kota Tasikmalaya, lalu ramai-ramai dan seenaknya membangun ruko dan mall tanpa ilmu dan tanpa aturan yang jelas. Karenanya pemerintah saharusnya memiliki pola pembangunan berdasarkan tata ruang dan teori yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan, dimana dibolehkannya membangun mall, dimana dibolehkannya tempat perkantoran, dimana dibolehkannya tempat olahraga dan taman kota sehingga bisa tertata dengan rapi bukan terlihat acak kadut dan berantakan.
***
Pola dan arah pembangunan kota Tasikmalaya kenyataannya belum menyentuh kebutuhan masyarakat kota itu sendiri, Pembangunan kota Tasikmalaya hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kaya, apresiasi terhadap visi tersebut hanya memihak kepada segelintir orang yang memiliki kekuatan modal sementara rakyat miskin dan tak bermodal terpinggirkan ke pelosok-pelosok Kota Tasikmalaya. Barangkali bisa diambil contoh, selama ini visi pembangunan kota Tasikmalaya hanya melahirkan ruko-ruko dan mall-mall, hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat kota Tasik yang gemar berkreatifitas dan berkarya, seperti membuat bordiran, kerajinan mendong, konfeksi, sandal kelom dan payung geulis, batik khas Tasik dan sejumlah kreatifitas lainnya.
Pembangunan sektor industri kecil nampaknya belum secara optimal dilakukan oleh pemerintah kota ini. Padahal kelompok industri kecil dan menengah merupakan pondasi kekuatan ekonomi masyarakat. Sehingga bila kelompok ini volume usaha dibesarkan dan diperhatikan oleh pemerintah, maka akan berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tetapi jika pemerintah malah sebaliknya lebih memperhatikan kelompok pemilik modal, ini juga akan berbanding lurus dengan semakin menumpuknya jumlah pengangguran, karena penguasaan ekonomi hanya didominasi oleh beberapa orang saja.
Karena itu untuk merubah kondisi masyarakat yang senang menjadi ”kuli” tertentu, menjadi masyarakat yang mandiri ”memiliki kreatifitas” memerlukan perhatian dan kebijakan (policy) pemerintah yang serius. Barangkali tidak berlebihan jika kebijakan visi perdagangan yang dicantumkan dalam visi Kota Tasikmalaya diarahkan dalam kerangka mendongkrak kreatifitas dan produktifitas masyarakat kota Tasikmalaya.
***
Pola dan arah pembangunan Kota Tasikmalaya harus berdasarkan aspirasi dari masyarakat itu sendiri. Ironisnya, penyerapan aspirasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah belum bisa dioptimalkan secara baik, kalaupun pola tersebut berjalan, banyak aspirasi masyarakat yang masuk, tapi banyak pula yang terjegal oleh kepentingan eksekutif dan selanjutnya terjegal pula oleh kepentingan legislatif. sehingga pembangunan yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat ujung-ujungnya menjadi komoditas politik tertentu.
Rumusan tentang pola pembangunan seharusnya diperuntukan bagi pembangunan sektor ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Tiga rumusan tersebut seharusnya menjadi kerangka dalam tata ruang pembangunan Kota Tasikmalaya. Sektor pembangunan ekonomi seharusnya diproyeksikan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Pemerintah kota Tasikmalaya dalam membuat sebuah kebijakan ekonomi perlu melihat variabel-variabel tentang kemasyarakatan.
Pola kebijakan ekonomi ini juga perlu melihat dimensi tentang struktur komunikasi, pola-pola prilaku aparatur, struktur birokrasi dan sumber daya. Sehingga pembangunan ekonomi tidak hanya menjadi milik orang kaya atau menjadi milik mall-mall yang megah saja. Begitu pula pola pembangunan pendidikan dan kesehatan juga harsus diproyeksikan demi masyarakat pula.
Tentunya setiap masyarakat pada prinsipnya berhak untuk mengisi dan mengapresiasi dalam mewujudkan visi kota Tasik dalam kerangka pembangunan Kota ini. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa masyarakat itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan ekonomi, pendidikan, modal, dan cara pandang terhadap persoalan tertentu. Lalu pembangunan Kota Tasikmalaya mau dibawa kemana dan diperuntukan untuk siapa, kalau toh kenyataannya seperti itu ?.

Dinukil dari catatan Maulana Janah
( Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: