Seni Mengendalikan Emosi

Sepasang suami istri terpaksa harus gencatan senjata selama sepekan karena alas an sang istri selalu lupa membuatkan sandwich untuk suaminya. Pertama kali lupa, maka sang suami langsung mengingatkan istrinya untuk segera membuatkannya sandwich. Keesokan harinya ketika sang istri lupa lagi ia segera beranjak ke dapur untuk membuat sand wich sendiri tapi masih menegur istrinya bahwa ia telah lupa lagi. Keesokan lagi ketika kali ketiga sang istri lupa lagi maka suaminya tidak lagi menegur tapi ia langsung membuat sandwich sendiri. Sang istri tidak juga minta maaf karena tidak merasa bersalah, namun sang suami justru mendiamkannya selama sepekan dan di akhir pekan sang istri menerima pernyataan dari suaminya “Saya marah karena kamu selalu lupa membuatkanku sandwich”. Sang istri tanpa rasa bersalah menimpali “Jadi, kau mendiamkanku sepekan hanya karena aku lupa membuatkan sandwich?”
Sepenggal cerita di atas hanyalah sekelumit ilustrasi tentang emosi dan bagaimana mereka menghadapi emosi tersebut.

Emosi dan perasaan akan bergolak karena dua hal , yaitu kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Karena itu sempat disebutkan oleh Muhammad bin Abdullah “ Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela ; keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah”.
Manusia adalah makhluk yang senang berkeluh kesah lagi kikir, namun ia juga adalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri. Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan dan meresahkan diri sendiri. Misalnya saja ketika mereka ditimpa suatu musibah maka ia teramat sangat bersedih, mengurung diri, menangis meraung-raung dan sebagainya sampai-sampai apa yang dilakukan justru menjerumuskan dirinya pada lembah keputus-asaan. Kali lain ketika mendapat kebahagiaan maka ia sedemikian meluap-luap menikmati kebahagiaan itu sehingga ia melupakan dirinya dan khilaf bahwa ada kali lain kebahagiaan itu akan berganti dengan kesedihan. Padahal dijelaskan “Sungguh mengagumkan urusan seorang muslim ; apabila mendapat nikmat ia bersyukur dan itu adalah kebaikan. Ketika mendapat musibah maka ia bersabar dan itu kebaikan pula”.

Begitupun dalam mengekspresikan rasa suka atau tidak suka, seringkali manusia berlebihan dalam hal itu. Ketika tidak menyukai seseorang cenderung mencela, menghardik dan sebagainya sehingga seluruh kebaikan orang tersebut seolah lenyap tak berbekas. Begitu pula sebaliknya, ketika sedang menyukai seseorang, ia cenderung memuja, menyanjung seolah tiada cacat.
“Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya karena siapa tahu ia akan menjadi musuhmu di lain waktu. Dan bencilah musuhmu itu sewajarnya karena siapa tahu ia menjadi kawanmu di lain waktu “.
Kunci dari segala hal di atas pada kecerdasan emosi. Berdasarkan survey nasional di Amerika Serikat disebutkan bahwa para pemberi kerja menyatakan ketrampilan teknik tidak seberapa penting dibandingkan kemampuan dasar untuk belajar dalam pekerjaan yang bersangkutan diataranya adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas dan ketahanan mental terhadap kegagalan, percaya diri, motivasi, kerjasama tim dan keinginan untuk memberi kontribusi pada perusahaan. Kemampuan akademik, nilai raport, predikat kelulusan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseoreang atau seberapa sukses yang akan dicapai.

Menurut makalah CHELAND “ Testing for kompetition” bahwa seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri dan inisiatif akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan bintang-bintang kinerja.
Dari uraian di atas terlihat betapa emosi itu perlu sebuah seni untuk pengendaliannya. Tentu saja tidak bisa instan akan tetapi perlu waktu dan latihan yang terus-menerus, pengalaman hidup yang berualang-ulang justru akan semakin mendewasakan emosi. Sekian banyak masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari, akan tetapi justru hareus dihadapi sebagai bentuk latihan terhadap emosi. Kejujuran terhadap suara hati menjadi kunci kecerdasan emosi.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama, menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tidak dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Ar Ruum : 30).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: