Ushul Fiqih Dan Perananannya

 

Muqaddimah

Setelah Islam berkembang dan meluas, dan bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain, maka dibuatlah peraturan-peraturan/kaedah bahasa Arab. Hal ini, selain untuk menjaga orisinilitas bahasa itu sendiri sebagai bahasa Al- Qur’an , juga untuk memelihara dari pengaruh bahasa lain, serta untuk lebih mempermudah bagi bangsa lain mempelajarinya.

 

Disamping hal-hal tersebut, banyak pula peristiwa-peristiwa yang timbul dalam lapangan kehidupan, sehingga ulamaulama yang tersebar diberbagai negeri-negeri baru itu ada yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh lingkungan dan tempatnya berada. Karenanya, masing-masing ulama dalam melakukan ijtihad (pembicaraan tentang pembentukan atau pengembangan hukum) dan pengambilan keputusan hukum/istimbath berjalan sendiri sendiri yang dipandangnya benar sesuai kapasitas keilmuan yang dimilikinya.Keadaan seperti ini tentu saja menimbulkan perbedaan pendapat, baik sebagai keputusan hakim maupun sebagai fatwa, bukan hanya antara satu negri dengan negri yang lain, bahkan antara satu daerah dengan daerah lain dalam satu negeri.

 

Sejarah Ushul Fiqih

 

Akibat dari perbedaan-perbedaan pendapat para ulama, timbullah satu pemikiran untuk membuat peraturanperaturan dalam ijtihad dan penetapan hukum, yang pada gilirannya dapat diperoleh pendapat yang benar dan setidak-tidaknya agar dapat memperpendek jarak perbedaan-perbedaan pendapat tersebut. Dan peraturan-peraturan tersebut dikenal sebagai ilmu Ushul Fiqih. Ilmu ini diperkenalkan pada abad ke tiga Hijriah secara sistematis oleh imam Syafi’I rahimahullah yang kemudian dianggap sebagai perintis atau bapak yurisprudensi dalam Islam. Dan berdasar nash pula para mujtahid mengambil ‘illat/sebab yang menjadi landasan hukum serta mencari maslahat yang menjadi tujuan hukum/maqashid al syari’ah, sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi SAW.

 

Definisi Ushul Fiqih

 

Dari segi ketatabahasaan Arab, kata Ushul Fiqih adalah ‘tarkib idhofi’/kata majemuk , terdiri daru dua suku kata, ushul dan fiqih yang menjadi ‘mudhof/keterangan dan mudhof ilaih/yang menerangkan. Kata Ushul adalah jamak dari akar kata ‘ashl’ yang menurut bahasa berarti ‘sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain’, sedang menurut istilah berarti

‘dalil’. Sedang kata Fiqih menurut bahasa berarti ‘pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan, seperti diisyaratkan Allah dalam firman-Nya dalam surah an Nisa’ ayat 78 “famalihaulai al qoumi la yakaduna yafqohuna hadis”. Kata yafqohuna bermakna ‘memahami’. Demikian juga dalam hadis Nabi SAW yang menyatakan ” man yuridallahu bihi khoiran yufaqqihu fiddin”/barang siapa yang dikendaki Allah sebagai orang yang baik, Allah akan memberikan pemahaman kepadanya dalam persoalan-persoalan agama. (H. Muttafaqun ‘alaih).

 

 

Hubungan Ushul Fiqih dengan Fiqih

 

Hubungan ilmu Ushul Fiqih dengan Fiqih adalah seperti hubungan ilmu Mantiq/logika dengan filsafat, bahwa manthiq merupakan kaedah berpikir yang memelihara akal, agar tidak terjadi kekacauan dalam berpikir. Selain itu, fungsi Ushul Fiqih adalah membedakan antara istinbath yang benar dengan yang salah. Sebagaimana ilmu Nahu berfungsi untuk membedakan antara susunan bahasa yang benar dengan susunan bahasa yang salah. Demikian pula dengan ilmu Ushul Fiqih, merupakan kaedah yang memelihara fuqoha/ahli fiqih agar tidak terjadi kesalahan di dalam menggali dan menetapkan hukum.

 

Obyek Pembahasan Ushul Fiqih

 

Sesuai dari keterangan tentang pengertian ilmu Ushul Fiqih, maka yang menjadi obyek pembahasan ilmu Ushul Fiqih meliputi:

 

 

  1. Pembahasan tentang dalil-dalil/hukum syara’, yaitu macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari ragam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya.
  2. Pembahasan tentang hukum, yaitu pembahasan secara umum, tidak dibahas secara rinci bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang hukum ini meliputi macam-macam hukum dan syarat-syaratnya. Dan dalam hal ini dibagi kepada:

 

    1. Yang menetapkan hukum/al hakim ( yaitu Allah SWT). “Inna al hukmu illalloh”. Q.S. al An’am. A.57
    2. Obyek hukum atau perbuatan yang dihukumkan/mahkum fih, yaitu perbuatan-perbuatan orang mukallaf yang dihukumkan padanya, sebagai akibat dari bermacam isi dan maksud yang terkandung dalam firman Allah dan sabda Nabi Muhammad SAW.
    3. Subyek hukum atau yang menanggung hukumnya/mahkum ‘alaih, yaitu orang mukallaf, dimana perbuatannyamenjadi tempat berlakunya hukum Allah. Seperti misalnya, firman Allah “aqimus sholah.”/dirikan shalat. Perintah iniditujukan kepada orang mukallaf yang dapat mengerjakan shalat, bukan ditujukan kepada anak-anak atau orang gila.Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, bagaimanapun juga macamnya, tidak dibebankan kecuali kepada orang yangmempunyai kemampuan. Karenanya kemampuan orang mukallaf menjadi dasar adanya taklif/pertanggungan jawab.

 

  1. Pembahasan tentang kaedah (= teori yang diambil dari atau menghimpun masalah-masalah fiqih yang bermacammacamsebagai hasil ijtihad para mujtahid), yaitu yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh hukum dari dalildalilnya, antara lain mengenai ragamnya, kehujahannya dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.
  2. Pembahasan tentang ijtihad, yaitu pembicaraan tentang berbagai hal, syarat-syarat bagi orang yang bolehmelakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kacamata ijtihad dan hukum-hukum melakukan ijtihad.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: