Bab 1a ( Kemahasiswaan Dalam Tatanan Konsep )

  • Mahasiswa Dalam Sebuah Paradigma Gerakan

Keberadaan mahasiswa pada zaman globalisasi seperti sekarang ini sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak banyaknya sikap dan prilaku tawuran yang berdampak anarkis sungguh merupakan cerminan bahwa kini tujuan gerakan mahasiswa sudah keluar dari jalur yang semestinya.

Dalam hal ini tentunya berbicara mengenai jiwa kemahasiswaan itu sendiri dimana tiga konsep yang menjadi ciri khas mahasiswa kini sudah mulai dilupakan atau memang benar-benar dilupakan dan mereka tidak tahu sama sekali. Ketiga konsep tersebut diantaranya yaitu yang pertama bahwa mahasiswa adalah anak didik yang bertugas belajar dalam konsep dunia pendidikan, maksud dari pernyataan ini adalah adanya penekanan bahwa pada inti dari proses mahasiswa itu sendiri adalah belajar, belajar dalam arti menggali dan membedah berbagai macam bidang disiplin ilmu yang sekiranya relevan dalam bidang yang di pegang. Namun sungguh sangat ironis konsep pertama ini tidak sedikit hanya beberapa gelintir saja yang tidak bisa dan tidak biasa memahaminya. Sehingga sering kita memperhatikan mahasiswa hanya merupakan konsep nama yang identik dengan dunia kampus yang dimulai dengan berangkat, masuk dan belajar materi mata kuliah atau bahkan diantaranya hanya numpang istirahat ataupun juga hanya numpang duduk tanpa adanya daya kritis dan daya juang bagaimana seharusnya mahasiswa berbuat dan bersikap dalam kampus.

Maka tidak heran akibat dari konsepsi paradigma tersebut dunia kampus hanya melahirkan sarjana-sarjana yang bergelar semata namun tidak memiliki konsepsi keilmuan yang mumpuni, hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengangguran-pengangguran intelektual yang ada dinegeri ini. Ada kasus yang mengelitik sebenarnya bagi saya khususnya tentang sebuah film yang berjudul ‘’get married’’ dimana menurut saya disitulah sebetulnya keumuman paradigma mahasiswa dinegeri ini yang tumbuh dan berkembang tanpa adanya control bimbingan yang menyeluruh dari pada unsure-unsur kependidikan itu sendiri, akibatnya banyak mahasiswa yang berkuliah hanya untuk mengisi kejenuhan, hanya untuk mencari gelar, adanya egoisme cultural maupun alas an-alasan lain yang berawal dari niat yang kurang termodifikasi secara baik dari awal. Konsep kedua mahasiswa adalah sebagai peneliti, dengan banyaknya dan meningkatnya dunia teknologi dan peradaban sungguh sangat memberikan dampak yang sangat besar bagi dunia kemahasiswaan baik fositip maupun negatip, namun yang jelas kemunculan paradigma secara umum dalam dunia kemahasiswaan kini telah disalah fungsikan hanya sebagai jargon semata. Banyaknya system jual beli skripsi yang sudah menjadi rahasia umum adalah salah satu bentuk bagaimana sebenarnya mahasiswa itu kurang dan tidak melaksananakan pungsinya sebagai peneliti. Adapun poin ketiga dari ketiga konsepan mahasiswa yaitu sebagai pengabdi. Pengabdi disini saya lebih setuju dengan konsep pengabdian bagi diri dan masyarakat pada khususnya. Pengabdian pada diri merupakan kosepan bagaimana keilmuan itu sendiri menjadi pembentuk kedewasaan pola pikir yang berparadigma, adapun pengabdian kepada masyarakat bisa dipahami bahwa masyarakat haruslah menjadi ikon pembaharu ataupun ikon pemikir serta ikon penggerak dalam wilayah dunia kemasyarakatan itu sendiri sehingga proses pencerdasan rakyat menjadi hal yang urgen demi terbentuknya masyarakat yang berperadaban.

Oleh karena itu kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerahkan. Dengan sifat keintelektualannya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan-persoalan politik kebangsaan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan bangsa ini. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun. Berbicara tentang mahasiswa dan gerakannya sudah menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Berbagai forum diskusi yang diselenggarakan, menghasilkan berbagai ragam tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keberpihakannya terhadap rakyat dalam memberikan jawaban atas masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di bumi pertiwi ini.

Dalam memainkan peranannya, gerakan mahasiswa didorong oleh panggilan nurani dan keberpihakan atas dasar ideologi terhadap masyarakat serta agar dapat berbuat lebih banyak bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya. Berbagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa merupakan usaha melakukan koreksi atau kontrol atas sikap dan kebijakan politik penguasa yang dirasakan telah mengalami banyak distorsi yang merugikan masyarakat. Maka sejarah perubahan bangsa di dunia merupakan sejarah yang kebanyakan ditorehkan oleh mahasiswa untuk kepentingan bangsanya.

Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerahkan. Dengan sifat keintelektualannya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan-persoalan politik kebangsaan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan bangsa ini. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.

Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime-mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Tengok saja di Indonesia adalah gerakan mahasiswa Indonesia sejak tahun 1908 yaitu jamannya Boedi Oetomo, 1928 jamannya sumpah pemuda, 1945 jamannya proklamasi Indonesia,1966 jamannya Soekarno,1975 jamannya malari, 1978 jamannya asas tunggal, 1998 jamannya reformasi. Sementara kekuatan gerakan mahasiswa di luar negeri terjadi dalam serangkaian peristiwa penggulingan rezim, antara lain : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985.

Perwujudan kecintaan terhadap tanah air merupakan sebuah keniscayaan dalam kancah perpolitikan nasional. Oleh karena itu gerakan mahasiswa mempunyai agenda dan tujuan yang hampir sama di setiap elemen gerakan mahasiswa, baik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi mahasiswa ekstra kampus seperti, KAMMI, HMI MPO,HMI DIPO, IMM, GMNI, FMN, dll. Agenda dan tujuan mereka adalah meliputi agenda kebangsaan yang lebih ditekankan pada perubahan positif untuk bangsa ini. Misalnya, dari ketidak berdayaan menjadi berdaya, dari tidak mandiri menjadi mandiri dari penguasa yang tiranik ke penguasa yang demokratis, dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) ke pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dari penjajahan (neo kolonialisme) dan intervensi asing ke terbebasnya negeri ini dari rongrongan bangsa lain, dari negara pengutang ke negara bebas utang dan sebagainya.

Trend Dunia Global

Adanya pergeseran paradigma timur kebarat mau tidak mau telah melahirkan berbagai macam konsepsi perilaku yang mengarah kearah proses westernisasi, sebuah konsep bahwa peniruan kebaratan itu boleh dilakukan selama tidak merubah kepribadian watak dan pola pikir kemahasiswaan ketimuran. Adalah fakta yang membuktikan bahwa dengan konsepan tersebut justru mengakibatkan banyaknya keterjebakan mahasiswa dalam pola gerakannya. Eksistensi dan posisi gerakan mahasiswa dihadapkan pada sebuah realitas dunia global yang tidak bisa dihindarkan. Arus globalisasi telah menyentuh berbagai sendi kehidupan manusia di dunia.

Cepatnya arus globalisasi menurut William K.Tabb (2003) mampu membentuk rezim perdagangan dan keuangan dunia serta mendefinisikan ulang kesadaran pada tingkat yang paling dekat dan lokal, mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya, ruang gerak anak-anak mereka dan entitas mereka sehingga mengalami perubahan akibat kekuatan globalisasi ini. Persoalannya adalah bagaimana sikap gerakan mahasiswa terhadap realitas global ini. Apakah gerakan mahasiswa menolaknya secara radikal atau hanya cukup memahaminya atau mempersiapkan diri untuk ikut berkompetisi dan memposisikan diri sejajar dengan mereka secara wajar .

Gesekan dunia global menjadi tren dalam kondisi saat ini, karenanya seluruh lapisan mahasiswa perlu memahami secara benar tentang realitas-realitas dunia yang sedang mengalami pergolakan dalam berbagai unsur kehidupan. Melihat trend (Trend Watching) yang terjadi dalam pergeseran dunia global adalah kerangka dalam memahami apa yang sedang terjadi hari ini, dan apa yang akan kita lakukan di masa-masa yang akan datang. Tren yang terjadi hari ini adalah dominasi kekuatan global yang tidak bisa dihindarkan dalam ranah kesadaran ummat manusia. Dalam kondisi seperti ini, langkah yang harus dilakukan adalah pembangunan kemampuan dan kapabilitas (kompetensi) personal maupun kolektif.

Dari Membaca Ke Menganalisa

Kurangnya minat baca dinegeri Indonesia ini, mau tidak mau berdampak kepada kejumudan pemikiran akan konsepsi keterbukaan bagi seorang mahasiswa yang biasanya selalu berkutat dengan dunia diskusi dimana mereka kuliah. Banyaknya mahasiswa yang memilih bersikap diam didalam forum diskusi bisa di tebak kepada dua kemungkinan yaitu sikap apriori ataupun istilah sederhanya adalah ketidak pedulian, acuh tak acuh yang biasanya hal ini lebih diakibatkan kepada watak dan karakter mahasiswa tersebut yang cenderung fasif baik fasip karena dampak psikologis social yang dihadapinya maupun fasip akibat beban pribadi yang dianggapnya sebagai sesuatu yang rumit. Ataupun kemungkinan kedua banyaknya mahasiswa yang bersikap diam adalah karena mahasiswa tersebut kurang memiliki ghiroh ( semangat ) untuk belajar.

Oleh karenanya hal ini jelas akan menghambat terhadap konsep kebebasan berfikirnya, banyaknya mahasiswa yang kurang memiliki buku kepustakaan pribadi merupakan salah satu ciri penyebab bahwa mahasiswa tersebut kurang begitu peduli dan kurang menyadari akan keberadaan eksistensinya sebagai mahasiswa. Tidak sedikit saya mendapatkan ada dikalangan konsepsor yang cenderung pragmatic dan subjektif dalam memberikan gagasannya padahal hal itu justru adalah diakibatkan kurangnya ia memiliki kapabelitas dalam menginterpretasikan apa yang ia baca, maksud dari masalah ini tiada lain bahwa ia hanya mengkonsep tanpa adanya study empiris terhadap apa yang ia ucapkan. Adapun contoh sederhananya bisa dilihat dari kasus-kasus para mahasiswi ataupun mahasiswa yang melakukan pernikahan dimasa-masa kuliah dimana sebelum menikah mereka memiliki konsepan-konsepan yang brilian bahkan tak jarang mereka berkoar ( dalam tanda petik‘’..’’) dalam forum diskusi dengan berbagai arogansi alasan sebagai dalil mempertahankan idiologi kemahasiswaanya, hal tersebut tidak jarang menjadikan ia sebagai public figure dunia kampus dan tak jarang dalam tataran organisasi ekstra kampus orang seperti ini akan dijadikan ikon yang mesti direkrut dan pada akhirnya orang ini akan dijadikan kader inti minimal dan ketua pada umumnya. Namun hal yang menarik adalah ketika ia memutuskan untuk menikah dimasa aktifnya itu tidak sedikit ataupun banyaknya perubahan yang mendasar khususnya dalam tataran idiologi kemahasiswaan yang selama ini ia anut. Dari contoh fakta tersebut jelas memberikan gambaran pada kita bahwa seorang konsepsor haruslah bisa mempertanggung jawabkan konsepan-konsepan pemikirannya tidak berdasarkan atas ego semata namun yang lebih penting bagaimana ia bisa mempertanggung jawabkannya melalui konsep empirisnya.

Gerakan mahasiswa sesungguhnya mereka adalah kalangan yang setiap hari berkutat dengan keilmuan, ironis jika gerakan mahasiswa terjadi banyak kejumudan. Namun fakta dilapangan adalah membuktikan mayoritas. Karenanya tradisi-tradisi yang ada diantaranya tradisi membaca harus di imbangi dengan tradisi menganalisa berbagai aspek persoalan dengan berpikir logis dan mendalam. Tipe masyarakat inilah yang menjadi miniatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah. Maju karena masyarakat ini menempatkan ilmu sebagai sinar dalam kehidupan. Menyejarah, karena mereka membuat sebuah kejutan bagi lahirnya paradigma baru bagi terciptanya masyarakat yang ilmiah (knowledge society).

Realitas ini sesuai dengan wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad saw, yaitu konsep membaca (iqra). Dengan turunnya wahyu yang pertama ini, maka ada sebuah perubahan berdimensi wahyu yang mampu memberikan jawaban atas kondisi kemanusiaan. Konsep pembacaan atas realitas baik yang bersangkutan dengan teologi, etika, visi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan berawal dari proses pemahaman yang radikal akan hakikat dan subtansi nilai yang terkandung dalam surat tersebut. Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah di awali dengan konsep membaca (iqra), sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, makna iqra bisa berarti menelaah, meriset, merenungkan, bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa bacaan suci yang datang dari wahyu Allah swt. Dan juga bisa dari hadits Rasul maupun hasil karya manusia berupa handbook ilmu pengetahuan, juga berupa fenomena-fenomena alam maupun sosial.

Penguasaan ilmu merupakan kunci kesuksesan sebagai pengelola bumi. Hal ini terlihat dalam lima ayat yang pertama kali di terima oleh Rasulullah saw. Lima ayat ini menyentuh masalah yang paling esensial dari potensi manusia, yaitu akal dan batin (pikir dan zikir), juga disebutkan perangkatnya, pada ayat keempat dan kelima ini yaitu iqra (baca, riset, teliti), ‘allama (mengajarkan/transfer ilmu), dan qalam (alat tulis/alat penyimpan data/ memori

Dari Teks ke Kontekstual

Adanya latar belakang minat baca yang tidak disertai tindak lanjut kearah analisis pemahaman justru akan memberikan kesan bahwa hal itu sangat berbahaya didalam interpretasi-interpretasi paradigma ilmiah. Terkadang pemahaman mahasiswa atas teks-teks yang di pelajari di kampus bersifat tekstual. Karenanya perlu ada penyeimbangan pemikiran (fikrah) dalam memahami realitas. Kalangan mahasiswa tidak semestinya hanya berkutat memahami teks saja tetapi harus mampu melihat perubahan dunia yang cepat dari teks-teks yang dipelajarinya itu. Karenanya pemahaman teks yang menyebar dalam berbagai literatur harus menjadi penyelaras dalam kondisi jaman yang sedang berubah.

Paradigma mahasiswa di kampus harus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa harus mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komprehensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan madzhab yang bersifat konstruktif. Hal ini harus menjadi kultur yang melekat. Gerakan mahasiswa dalam konteks kekinian di tuntut untuk bisa bergaul dalam dimensi yang lebih luas. Maka sekarang, gerakan mahasiswa harus mampu memberikan jawaban atas kondisi jaman yang terus berubah. Jika tidak bisa, maka mahasiswa akan ditinggalkan oleh kemajuan jaman ini.

Untuk mengisi kemajuan jaman yang tidak bisa ditahan maka mahasiswa harus memiliki beberapa kompetensi, yaitu pertama; kemampuan berbahasa asing. Mengenai konsep menguasai bahasa asing seorang tokoh yang kita kenal yaitu bapak Nurcholis Madjid, beliau sering mengatakan bahwa dari bahasa asing yang paling penting dipelajari oleh umat islam yakni mahasiswa islam pada khususnya adalah bahasa arab, terlepas dari dari fakultas mana ia berada. Hal ini bisa disebabkan karena dengan bahasa arablah merupakan bahasa yang bisa memudahkan seseorang untuk mempelajari, mengkaji dan menganalisa islam sebagai ajaranya yang sempurna sehingga ketika terjadinya sebuah paradigma diskusi kemahasiswaan ia akan sangat mudah memberikan interpretasi interpretasi secara alamiah tanpa menduga duga ataupun mengira ngira. Kedua; kemampuan berorganisasi dan manajemen yang canggih. Banyaknya mahasiswa karbitan ( yang hanya kuliah too. ) adalah merupakan sebuah kesalahan yang tak disadari oleh mahasiswa yang bersangkutan, mereka lupa bahwa kampus hanyalah sarana primodial semata yang tidak menjamin seseorang menjadi dewasa secara pikrah dalam kontek berideologi kapabelitas yang membentuk watak kedewasaan yang lebih luas cakupannya.. Ketiga; kemampuan membangun jaringan (net work).

Banyaknya mahasiwa yang berdiam diri terhadap problematika yang ada mengakibatkan jumudnya pola pikir yang semestinya mereka kembangkan dan aplikasikan dalam bentuk kajian, penelitian dan pengabdian. Oleh karenanya sudah selayaknya kini mahasiswa harus bisa dan mampu megubah pola tekstual kearah pola kontektual sehingga bisa membentuk mahasiswa yang bersangkutan menjadi mahasiswa militant yang beridiologi murni.

Dari Tradisi ke Peradaban

Banyaknya mahasiswa yang berasal dari pelosok akan memberikan dampak yang sangat kuat bagi mahasiswa tersebut dengan konsepsi tradisional yang dibawanya. Namun terlepas dari konsepsi tersebut biasanya ada dua dampak besar yang akan merubah pola pikir mahasiswa ketika ia akhirnya bergulat dengan dunia peradaban yang sudah lama mengakar didaerah-daerah perkotaan, yaitu yang pertama adanya perubahan revolusioner dari idiologi semula.

Dari dampak yang pertama ini tidak jarang banyaknya dan lahirnya mahasiswa mahasiswa arogan didalam komunitas kemasyarakatannya entah itu diakibatkan gengsi sosial ataupun ego pribadi yang tidak terparadigma.Sehingga ketika menjadi seorang ikon pejabat, ia akan dipastikan memiliki kebijakan-kebijakan sepihak tanpa adanya paradigma yang merakyat. Adapun dampak yang kedua adalah terbentuknya mahasiswa yang benar-benar solid dan kapabel dalam bidang keilmuan yang dimilikinya. Biasanya hal ini karena tidak terlepas dari watak dan karakter mahasiswa yang bersangkutan, dimana ia tetap lebih mengedepankan prinsip empiris dari pada konsepan teori tekstual.

Langkah-langkah selanjutnya yang paling rasional dalam menghadapi tatanan dunia global, bagi kalangan mahasiswa di kampus adalah membangun kesadaran bersama dengan meningkatkan kompetensi dan skill dalam memposisikan diri supaya sejajar dengan bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu Pegetahuan. Karenanya budaya dan tradisi yang selama ini dilakukan di kampus untuk digeser kearah perubahan paradigma yang lebih rasional. Perubahan paradigma tersebut meliputi perubahan sikap dalam memahami budaya dan tradisi yang ada. Tidaklah kaku jika mahasiswa membangun dialog peradaban (civilization) di kampus, minimal ada dua paradigma visi dialog pembangunan masyarakat berperadaban. Pertama, perubahan eksistensi dan identitas diri, yang mampu melahirkan paradigma kehidupan sosial baru dan merdeka, bebas dari penghambaan terhadap unsur-unsur materi, melahirkan kehidupan segar, integral dan profetik. Era kehidupan yang syarat dengan nilai kemanusiaan dan bervisi masa depan.

Tonggak fundamental pertama ini merupakan visi kehidupan ummat manusia kearah pembebasan diri dari kungkungan materi yang menjadi ideologinya.Visi kehidupan ini mengarahkan manusia pada ideologi yang sesungguhnya dan menjadi benteng kekuatan para pewaris peradaban. Ini merupakan asas fundamental bagi terwujudnya masyarakat berperadaban. Proses ideologisasi kedalam tubuh masyarakat secara radikal harus dilakukan. Proses ini perlahan tapi pasti, proses inilah yang disebut dengan fase penanaman akidah. Kedua, yaitu pola pembangunan struktur pengetahuan ummat manusia yang secara bersamaan dilakukan dalam kerangka membangun kesadaran untuk membaca atas realitas yang sedang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: