Bab 1k ( Kemahasiswaan Dalam Tatanan Konsep )

  • Progresif dalam Pemikiran

Dunia kepemimpinan dan kepahlawanan identik dengan dunianya para pemikir. Di sinilah kedewasaan cara pandang dan spontanitas sikap seorang pemimpin bermula. Di sebabkan kemampuannya berpikir besar seorang pemimpin atau pahlawan namanya menyejarah. Seluruh pemimpin dan pahlawan dalam segala bidang mereka memiliki kemampuan ini; berpikir besar. Memang bukan hanya kecerdasan yang membuat “orang-orang besar” ini mampu menjadi pemikir tetapi banyak faktor lain. Jiwanya dipenuhi kesabaran, selalu penuh dengan harapan, progresif, optimis, berani dan berfokus kepada tujuan akhir. Inilah dasar utama untuk menjadi pemikir sekaligus pemimpin. Kesemua itu mengarah kepada satu bentuk kepribadian, yaitu karakter yang kuat. Setiap kita adalah para pemimpin dan pahlawan itu, Allah sendiri yang telah menunjuk kita sebagai pemimpin (khalifah) di bumi ini. (QS Al Baqarah [2]: 30).

Kemampuan berpikir para pemimpin dan pahlawan terbentuk dari kecakapan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Hal itu terkorelasi dengan berbagai pengalaman hidup yang dialaminya serta berbagai eksperimen. Dua hal ini telah membentuknya memiliki kekuatan akal untuk memecahkan masalah-masalah besar yang membuat dirinya menjadi Hero. Maka di sini letak kebenaran kata-kata Umar Bin Khattab, “Berilmulah kalian sebelum memimpin.” Oleh karena itu khalifah yang terkenal tegas ini memiliki kemampuan berfikih yang jenius. Sementara kekuatan-kekuatan lain dalam diri para pemimpin dan pahlawan sebagian besar berasal dari fisik yang kuat. Al Quran telah merekam contoh seorang pemimpin yang memiliki dua kekuatan ini, ia adalah Thâlut yang berhasil mengalahkan Jâlut dalam sebuah peperangan. (QS Al Baqarah [2]: 246).

Namun ada sisi-sisi lain yang menjadikan orang gagal untuk menjadi pemimpin atau pahlawan. Kesalahan itu salah satunya berangkat dari cara berpikir yang salah. Para agamawan pun bisa jadi terjebak dalam kesalahan berpikir seperti ini, ketika ia jarang introspeksi diri dan tidak mau menerima kritikan dengan objektif. Kesalahan berpikir yang paling banyak terjadi adalah berpikir regresif. Di sebagian masyarakat kita perdebatan tentang masalah-masalah furu’iah (cabang) demikian hebat, contoh kecil antara wajib membaca doa Qunut dan tidak ketika shalat Shubuh. Masalah ini demikian meruncing sampai sekarang, sehingga yang nampak adalah kesulitan-kesulitan dalam beragama bukan kemudahan. Dan tentu yang terjadi adalah kesenggangan dalam hubungan sosial.

Apa yang menarik dari contoh di atas? Cara berpikir yang salah. Semakin jauh memperdebatkan masalah ini, suram rasanya masa depan umat Islam di negara kita. Ada dua kemungkinan kesalahan ini terjadi. Pertama, tidak pernah mencari akar permasalah pada sumber yang jelas. Kedua, sikap membeo kepada orang lain yang dianggap lebih pintar, kemudian mengkultusindividukannya. Pola berpikir seperti ini membawa kita kepada kejumudan. Padahal seharusnya perbedaan yang bersifat parsial disikapi dengan toleran.

Nah, kebalikan dari pola berpikir regresif adalah berpikir progresif. Yaitu berpikir yang berpusat kepada pemecahan masalah. Dengan berpikir progresif kita membuka celah-celah lain yang sangat memungkinkan adanya perbaikan ke depan. Di sana ada pembelajaran tentang sikap toleran dalam menyikapi pendapat orang lain, serta sikap anti perpecahan. Berpikir progresif menuntun kita untuk bersikap optimis, inovatif sekaligus kreatif untuk mencari jalan pemecahan masalah. Sementara berpikir regresif mengajak kita takut melangkah, enggan mencari solusi permasalahan, dan sikap merasa benar sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, tumbuhnya sikap ketidakterbukaan dan sentimental. Itu berarti sama dengan mengajak kita bersikap antipati.

Sifat lain yang dekat dengan para pemikir progresif adalah ia akan menjadi orang yang kreatif. Kita sering mengira bahwa sikap kreatif identik dengan segala bentuk penemuan. Penemuan ilmiah, teknologi terbaru, atau karya sastra. Novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak di pasaran, memang betul ditulis dengan gaya bertutur kreatif. Yang harus selalu kita ingat banyak contoh kecil tentang bagaimana berpikir yang kreatif.

Sebuah keluarga yang berpenghasilan rendah menyusun rencana untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Universitas terkemuka atau keluar negeri, ini merupakan contoh berpikir kreatif. Seorang mahasiswa yang mengalami keterbatasan keuangan dan mungkin saja tidak mendapat kiriman dari orang tuanya, lalu ia bekerja separuh waktu. Ini juga berpikir kreatif. Mungkin, keuntungan dari hasil kerjanya tidak seberapa besar, sekedar cukup untuk bayar kontrakan, makan, dan ongkos kuliah. Tanpa disadari sebenarnya ia telah bersikap mandiri, dengan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Rasa percaya dirinya pun akan tumbuh berkembang. Sederhananya, bersikap kreatif berarti menemukan cara-cara baru yang lebih baik dalam segala hal. Seperti telah disebutkan tadi, tidak melulu berpatokan kepada keadaan yang baku.

Pemimpin partai politik negara kita merasakan benar ketika harus menentukan dukungannya kepada calon Presiden, Gubernur atau Bupati. Salah menentukan pilihan bisa memicu krisis politik yang berkepanjangan, perpecahan antar anggota partai, berkurangnya dukungan para simpatisan dan pilihan yang salah secara tidak langsung akan menyengsarakan rakyat. Maka berpikir progresif serta kreatif bagi para pemimpin politik menjadi suatu kemestian. Masalah terbesar bagi pemimpin di dunia politik adalah adanya perubahan yang sangat cepat, kompleksnya permasalahan dan kepentingan yang menyangkut banyak orang.

Orang-orang besar dalam sejarah adalah pemikir progresif yang sekaligus kreatif. Banyak sekali contoh nyata yang bisa kita teladani dari sisi-sisi kehidupan orang-orang yang mampu menggunjang dunia dengan kemampuannya berpikir maju dan kreatif. Izinkanlah saya mengambil satu contoh dari kehidupan Rasulullah SAW saja.

Suatu ketika para pemimpin kabilah di tanah Mekah berseteru tentang siapa yang paling berhak meletakan Hajar Aswad di Ka’bah. Singkat cerita mereka sepakat bahwa orang yang paling berhak untuk meletakkannya kembali adalah seorang lelaki yang biasa mereka juluki Al Amin, Muhammad Bin Abdullah. Lelaki agung yang ditunjuk oleh para pemimpin kabilah itu menyanggupi keinginan mereka, dengan rendah hati ia gelar serbannya di atas tanah. Lalu diletakannya Hajar Aswad di atas serban itu, dan ia meminta setiap pemimpin kabilah itu memegang setiap ujung serbannya. Kemudian bersama-sama mereka mengangkat batu hitam itu menuju Ka’bah. Ini adalah sikap berpikir progresif sekaligus kreatif yang dicontohkan oleh Nabi agung kepada kita umatnya lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. benar2 mahasiswa tulen yang kreati

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: