Proposal ( Bag.1 LBM)

  1. Latar Belakang Masalah

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar lebih dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.

Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren (Hasbullah 1999:149). Selanjutnya, pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia yang menurut Prof. Azyumardi Azra telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini. Akhirnya, pada awal abad ke-21 ini, dalam konteks peran Amerika Serikat melawan terorisme dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali , pondok pesantren dituding memainkan peran sebagai lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam ekstrim.

Tuduhan tersebut adalah hal yang sangat serius bagi lembaga-lembaga pondok pesantren di Indonesia, terutama pada saat ini ketika Amerika Serikat dan sekutunya sedang mencari dan mencoba menebak tindakan berikut jaringan teroris yang ternyata sudah muncul di Indonesia.

Diskursus mengenai pendidikan Pesantren selalu menarik perhatian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh nature pendidikan Pesantren sendiri yang multidimensi. Pesantren adalah lembaga tafaqquh fid-dîn, tempat mengkaji agama (dîn). Karena dîn adalah tata kehidupan, maka Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu keislaman yang disertai penanaman moralitas (akhlak) kepada santrinya, tapi juga lembaga pendidikan tentang kehidupan. Di dalam Pesantren sekurangnya terdapat Catur Pusat Pendidikan (sekolah, rumah tangga, masyarakat, dan masjid).

Sebagai lembaga kehidupan, Pesantren membentuk sebuah komunitas, terutama komunitas keilmuan yang pada gilirannya dapat berkembang menjadi komunitas pedagang, kultural, politik atau religius. Jika suatu komunitas membesar, maka ia akan menjadi ‘umran atau peradaban. Namun, perkembangan sebuah komunitas menjadi peradaban tergantung pada banyak hal, dan yang terutama adalah kekuatan pandangan hidup, yang dalam Islam adalah kekuatan ilmu pengetahuan (Ibnu Khaldun).

Selain memerlukan ilmu pengetahuan, peradaban juga memerlukan pimpinan, dan dalam kasus Pesantren membutuhkan figur sentral, yaitu Kyai atau Ustadz. Jika demikian, peran dan fungsi Kyai atau Ustadz tidak lagi terbatas sebagai pendidik dan pemegang otoritas keilmuan, tapi juga sebagai figur pemimpin yang memiliki keterampilan manajerial. Kemampuan leadership-nya dapat bermanfaat memimpin masyarakat dan lembaga Pesantren sekaligus. Sementara dengan otoritas keilmuannya, Kyai atau Ustadz berfungsi sebagai nara sumber bagi kegiatan keilmuan di dalam dan luar Pesantren. Penguasaannya dalam bidang ilmu tertentu, menjadikan Kyai atau Ustadz sebagai pimpinan bagi ilmuwan lainnya, atau tempat bertanya bidang ilmu tertentu. Dan yang paling penting, Kyai atau Ustadz juga harus menjadi figur spiritual yang kekuatan moralnya memancar ke seluruh perilaku komunitas yang mengelilinginya.

Dalam masalah ini keberhasilan pelaksanaan sistem pendidikan pesantren akan banyak dipengaruhi oleh berbagai macam faktor tentunya. Adanya korelasi terpadu antara kurikulum pesantren dengan Departemen Agama diharapkan bisa membantu terlaksananya proses keberhasilan itu sendiri dimana secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah menjadikan manusia manusia yang sempurna ( insan kamil ) yang berakhlak mulia, beriman, dan bertaqwa kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat sedangkan departemen agama sebagai miniature kelembagaan yang mengayomi kurikulum-kurikulum kepesantrenan.

Dalam pengertian tradisional, suatu lembaga pendidikan Islam tidak dapat disebut Pesantren, jika tidak mengajarkan kitab kuning. Namun klaim-klaim itu tidak dapat dipertahankan, karena di kalangan Pesantren salaf sendiri definisi ini tidak dipegang secara konsisten. Ada Pesantren salafiyah yang tidak memiliki santri, dan tentunya tidak ada pondok atau asrama. Adapula pesantren yang memakai sistem kurikulum modern seperti halnya Gontor dimana selain memakai kurikulum sistem pesantren juga dilain tempat memakai acuan sistem departemen agama sehingga pesantren-pesantren yang memiliki konsep dan sistem yang sama bisa sejajar dengan madrasah-madrasah ataupun sekolah-sekolah dalam kapasitasnya sebagai institusi kependidikan yang diakui oleh Negara dalam hal ini departemen pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan nasional.

Integrasi sistem madrasah atau sekolah dengan sistem Pesantren yang paling mencolok adalah meletakkan program madrasah dalam hal ini sistem yang diterapkan oleh departemen agama dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren. Pendidikan yang paling efektif adalah integrasi sistem madrasah tersebut dengan Pesantren. Artinya, sistem pengajaran Pesantren tradisional yang tidak bersifat klasikal diganti dengan madrasah yang bersifat modern. Sementara pendidikan dan penanaman nilai-nilai moral spiritual tetap digunakan dengan sistem Pesantren, di mana Kyai atau Ustadz adalah figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatannya, santri di asrama sebagai masyarakatnya, dan pendidikan agama Islam sebagai aktivitas utamanya (Prof. Dr. Mukti Ali)

Disisi lain Departemen Agama merupakan institusi resmi negara yang mengatur berbagai macam sub-sub pokok pola pengajaran sistem pendidikan agama itu sendiri yang mencakup didalamnya diantaranya mengenai kurikulum-kurikulum yang sudah di terapkan sejak jaman dulu.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan sistem pendidikan itu sendiri maka harus ada berbagai macam cara usaha yang dilakukan kearah itu melalui penelitian langsung kelapangan sebab menurut hemat penulis bahwa penelitian itu adalah suatu usaha untuk memperoleh bukti kebenaran objektif yang diteliti.

Untuk itu penulis mencoba berusaha mengajukan skripsi ini dengan judul ‘’ FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PELAKSANAAN SISTEM PENDIDIKAN TERPADU KURIKULUM PESANTREN DAN DEPARTEMEN AGAMA’’ bertolak dari dasar tersebut penulis mencoba berusaha untuk bisa menemukan sebanyak mungkin mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan sistem pendidikan terpadu kurikulum pesantren dan departemen agama itu melalui riset atau penelitian di Madrasah Tsanawiyah No 67 Persatuan Islam Benda. Madrasah Tsanawiyah Benda yang pada awalnya hanya merupakan pengajian anak-anak kemudian menjadi majlis ta’lim dan juga kemudian berubah lagi menjadi madrasah dengan memakai sistem surau yang dimana kurikulum-kurikulumnya masih bersifat tradisional pada gilirannya telah mencoba mengembangkan pola sistem kurikulum yang bisa disejajarkan dengan kurikulum-kurikulum yang sudah diterapkan oleh instansi-instansi formal kependidikan modern yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: