Catatan dari akh.Kadir (Kader KAMMI)

Pesan sejarah yang gemilang

Kalau kita menelaah sejarah kenubuwahan Ibrahim as. ternyata penuh dengan keunikan tersendiri. Kenyataannya ada beberapa keunikan yang bisa dijadikan rumusan. Pertama: kejelasan landasan (Qs.21 ; 51). Kedua: Ketegasan sikap. (Qs. 21 : 55 – 70). Ketiga: Anugrah yang mengagumkan dan lain-lain. Tetapi dalam konteks korelasinya dengan filosofi gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (selanjutnya disingkat : KAMMI) terutama penafsiran sederhana visi-misi KAMMI, ternyata ada sebuah catatan yang sangat penting; bahwa ternyata akumulasi dari keseluruhan perjalanan nubuwah (red. Pesan profhetik) Ibrahim adalah melahirkan kader-kader pemimpin dan untuk sebuah cita-cita penghambaan. Begitulah pesan Qs. 21 : 71-73. Bahkan Al Quran mengatakan :”Wa ja’alnaahum ‘a’imatan yahduuna bi amrina … …wa iqoomati as sholat wa-itai azzakat… wa kaanu lana ‘abidin“.

Pada sisi yang lain, dalam perjalanan dakwah Rasulullahpun kita mendapat catatan yang sangat unik. Di sini saya tidak perlu terlalu dalam menjelaskannya, tapi ada beberapa catatan yang bisa menjadi pelajaran. Pada kenyataannya dalam sejarah kita bisa memperoleh catatan penting. Yang paling sering kita dengar dalam konteks dakwah Rasul adalah bahwa dakwahnya melalui fase atau marhalah tersendiri. Ada Makiyah dan ada Madaniyah. Hal yang substansi dari fase Makiyah adalah bahwa Rasul lebih memaksimalkan dakwahnya pada aspek penataan personal secara internal. Materinya adalah materi-materi unggulan yang memperkuat sebuah eksistensi kemanusiaan manusia. Ini bisa kita pahami dari penjelasan sejarah penurunan wahyu yang memiliki karakteristik yang unik dan kontekstual pada masanya. Materi utamanya adalah hal-hal yang prinsipil seperti mengenai iman. Kemudian dalam konteks Madaniyah, kita bisa melihat adanya kebijakan yang fenomenal akan pentingnya pengembangan dan penyebaran dakwah ke seluruh penjuru. Materi dan agendanya adalah materi-materi pengejawantahan iman dalam dunia realitas dan agenda-agenda gerakan; dari penegakan hukum sampai cita-cita penguasaan nilai-nilai islam atas nilai-nilai jahiliyah di seluruh penjuru dunia. Mekanisme-mekanisme seperti inilah yang kemudian akhirnya membuat islam itu membumi sebagaimana misi Rasul diutus, ‘rahmatan lil ‘alamin“.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: