Merasa Cukup Hanya dengan Allah

Oleh Mashadi

Betapa bahagianya umat di zaman ini bila bertemu dengan seorang yang memiliki sikap hidup seperti Said Ibn Mussayyib. Dia merasa cukup hanya dengan Allah azza wa jalla. Tak memerlukan yang lain. Hidupnya tak pernah merasa kekurangan lagi, karena Allah azza wa jalla telah menganugerahi ilmu dan zuhud. “Barangsiapa merasa cukup hanya dengan Allah, maka manusia akan butuh kepadanya”, ucap Said Ibn Mussayyib.

Sebuah kisah, menceritakan, tentang putrinya yang amat cantik hendak disunting oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk dinikahkan dengan putranya Walid bin Abdul Malik. Tapi, bukannya Said Ibn Mussayyib gembira atas pinangan dari keluarga Khalifah Abdul Malik bin Marwan, justru dia menolak pinangan itu. Mengapa Said menolak pinangan itu? Bukankah di tangan Khalifah Abdul Malik, segala harta, emas, perak, berlian, tak ternilai dan tak terhitung banyaknya. Kekuasaan ada di tangan Khalifah. Betapa kehidupan keluarga Said Ibn Mussayyib akan menjadi bergelimang dengan segala bentuk harta, bila dia mau berbesan dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Mengapa?

Padahal Walid bin Abdul Malik adalah keturunan Quresy yang terbaik. Tak ada yang cacad. Mengapa Said Ibn Mussayyib menolak pinangan Khalifah Abdul Malik itu? Karena dia takut bila putrinya masuk ke dalam Istana Bani Ummayyah, agamanya akan terkena fitnah. Itulah sikap Said Ibn Mussayyib. Dia lebih mengutamakan agama dibandingkan dengan harta dunia. Padahal, bila Said menginginkannya, dia dan putrinya akan mendapatkan kemuliaan harta dan kekuasaan, bahkan nasabnya akan ikut terangkat. Karena, Walib bin Abdul Malik bin Marwan adalah keturunan Qureys terbaik.

Said mencintai putrinya bagaikana mencintai dirinya sendiri. Maka, dia ingin agar putrinya mengikuti jejak langkahnya. Dia mengajari ilmu kepada putrinya, sebelum mengajari orang lain. Said mengutamakan putrinya. Dia membimbing putrinya dengan cahaya Allah, sebelum dia menyebarkan cahaya itu kepada orang lain. Ketika, Said menolak permintaan sang Khalifah agar putrinya dinikahkan dengan putranya yang sebentar lagi akan menjadi Khlifah, dan menggantikan ayahnya, Said justru memilihkan putrinya dengan seorang pria shaleh, yang akan mengendalikan perjalanan hidupnya denggan kitabullah (al-Qur’an).

Lalu, siapakah pria yang dipilih Said Ibn Mussayyib itu? Pria pilihan Said itu, bukanlah keturunan bangsawan, yang hidup bergelimang harta. Bukan pula seorang menteri yang memiliki kedudukan tinggi, dan bukan pula seorang pengusaha kaya raya (konglomerat), yang uangnya melimpah. Pria yang menjadi pilihan Said Ibn Mussayyib itu adalah pria yang termiskin, yang tidak memiliki apa-apa, selain uang tiga dirham. Sungguh, betapa detik-detik yang sangat membahagiakan bagi pria yang akan menjadi menantu Said Ibn Mussayyib. Dan, pria shaleh itu bernama Abu Wada’ah, yang tak lain adalah murid Said Ibn Mussayyib sendiri.

Suatu ketika, Said Ibn Mussayyib, bertanya kepada Abu Wada’ah: “Pernahkah engkau memikirkan tentang wanita?”. “Semoga Allah menghujani rahmat kepada engkau. Siapakah yang mau menikahkan aku? Aku orang miskin. Hanya memiliki uang dua dirham”, jawab Abu Wada’ah. Pada saat itu juga Said Ibn Mussayyib menikahkan Abu Wada’ah dengan putrinya, dan uang tiga dirham itu menjadi mas kawinnya. Maka, pria yang masih murid Said itu bersuka cita, usai mengucapkan ijab. Pikirannya menarawang. Sedikit memikirkan hidup yang bakal dijalaninya. Bagaimana harus menghidupi isterinya, dan di mana ia akan tinggal? Dan, apakah isterinya akan tinggal di rumah yang sangat sederhana, yang ia tinggali itu? Saat pikirannya sedang menerawang, ia mendengar azan, dan ia berbuka puasa, hanya dengan roti dan minyak zaitun.

Abu Wada’ah yang tengah menikmati roti yang dimakannya itu, tiba-tiba mendengar ketukan pintu. “Siapa diluar?”, tanya Abu Wada’ah. “Said”, jawabnya. Semua orang yang aku kenal bernama Said tergambar dengan jelas dalam benakku, kecuali Said Ibn Mussayyib. Ternyata yang datang adalah Said Ibn Mussayyib, ketika aku membukakan pintu. “Wahai guru, mengapa tidak mengutus orang lain untuk memanggilku?”, tanya Abu Wada’ah. “Engkau lebih patut aku datangi”, ujarnya. Lalu, “Sampai tadi, engkau masih bujangan. Sekarang, engkau telah menikah. Aku tidak ingin engkau tidur sendirian malam ini. Karena itu aku bawakan isterimu”, tandas Said Ibn Mussayyib. Betapa bahagianya Abu Wada’ah malam itu. Ia tak lagi sendirian. Bersama isterinya yang telah ia nikahi.

Sebulan lamanya, antara guru dan murid tak bertemu. Antara Said Ibn Mussayyib dan Abu Wada’ah tak bertemu. Sampai bulan berikutnya antara guru dan murid bertemu. Usai pengajian. Para murid Said sudah meninggalkan ruangan. Tinggal Abu Wada’ah. Tak lama, Said menemui muridnya. Ia mendekati muridnya itu, lalu bertanya: Bagaimana anakku itu? Lalu, Abu Wada’ah menjawab: “Baik. Sesuai dengan apa yang disenangi kawan, dan dibenci musuh”. Said bertanya lagi: “Jika ada sesautu yang membuatmu tidak ridha, pakailah tongkat ini”, tambahnya. Ketika aku meninggalkan rumah Said, aku diberi uang sebesar 20.000 dirham.

Said Ibn Mussayyib telah memberikan contoh yang luar biasa. Pernikahan itu bukanlah pemborosan. Bukan memarenkan kesombongan. Dengan menghabiskan uang berpuluh milyar. Makanan diimport, bunga yang menjadi perhiasan diimport, gaun pengantin yang bermilyar, dari para perancang mode yang paling terkenal, dan gedung-gedung mewah, yang kemilau. Semua itu mubazir dan tak ada manfaatnya di sisi Allah.

Said Ibn Mussayyib, sejak lima puluh tahun, tak pernah telat takbiratul ihram dalam shalat berjamaah, tak pernah melihat tengkuk seseorang dalam shalat selama lima puluh tahun. Ia banyak berpuasa dan menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali. Ia telah menghimpun ilmu, kefaqihan, wara’, ahli ibadah, zuhud, dan tidak menoleh dunia. Ia pun menolak pemberian. Suatu ketika, saudaranya datang memberikan uang 4 ribu dirham, tapi ia menolaknya.

Khalifah Umar bin Abdul Azizpun sangat menghormati Said Ibn Mussayyib. Umar tak pernah memutuskan suatu perkara sebelum berkonsultasi dengan Said.

Said Ibn Mussayybi menimba ilmu dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, dan belajar dari para isteri Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam, seperti Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma. Said juga mendengar ilmu dari Utsman, Ali, dan Shuhaib. Bahkan, Said menikah dengan putrid Abu Harairah.

Semoga kita bisa meneladaninya. Wallaha ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: