Konsep Pendidikan Anak dalam Islam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dahulu Rasulullah pernah mewasiatkan umatnya agar berpegang dengan kuat pada ajaran (Sunnah) beliau. Namun kini umatnya lebih banyak yang meninggalkan ajaran nabinya, meski di sana menanti adzab yang keras dari Allah.

Nabi Muhammad datang untuk mengajarkan nilai-nilai etika dan moral kepada seluruh manusia. Beliau datang untuk menyatukan semua orang dari seluruh ras, warna kulit, kepercayaan, suku bangsa. Nabi Muhammad datang untuk membangun mereka dari tidurnya. Beliau datang menjadi sahabat bagi orang-orang yang tak memiliki sahabat, menjadi penolong bagi orang-orang yang tak berdaya, menjadi khotib bagi orang-orang alim, menjadi pelindung bagi para janda dan orang-orang lemah, dan menjadi pengasuh bagi anak-anak yatim. Beliau menjadi sumber kekuatan bagi orang-orang yang tak memiliki motivasi.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab Ayat 21

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamatdan banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab Ayat 21).

Didalam ayat yang lain Allah berfirman;

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ { }

“ Dan tidaklah kami mengutus kamu, kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Ahzab 107).

Sunnah Nabi, adalah sebuah istilah yang kerap kita mendengarnya. Bahkan sering pula mengucapkan karena Sunnah (petunjuk/ajaran Nabi) adalah sesuatu yang menjadi landasan hidup kita sebagai penganut ajaran Islam. Kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan Sunnah dan bersepakat pula bahwa yang merendahkannya berarti menghinakan Islam dan ajaran Nabi.

Namun jika kita menengok realita yang ada, apa yang dilakukan kaum muslimin dalam mengagungkan Sunnah Nabi nampaknya sudah jauh dari yang semestinya. Bahkan keadaannya sangat parah. Tidak tanggung-tanggung, di antara mereka ada yang menolak dengan terus-terang Sunnah yang tidak mutawatir dan mengatakan hadits ahad bukan hujjah (dalil) dalam masalah akidah.

Ada pula yang menolak dan mengingkari Sunnah Nabi secara total dengan berkedok mengikuti Al Qur’an saja. Padahal Al Qur’an tidak mungkin dipisahkan dari Sunnah. Al Qur’an memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi yaitu Sunnahnya.

Bentuk yang lebih parah dari sekedar menolak adalah mengolok-olok Sunnah dan orang-orang yang mencoba berjalan di atasnya. Ada pula yang dengan terang-terangan menolak hadits Nabi karena dinilai tidak sesuai dengan akal.

Sangat disayangkan sikap-sikap seperti ini justru sering dimiliki oleh orang-orang yang terjun ke kancah dakwah. Padahal lisan mereka juga mengatakan bahwa kita wajib mengagungkan Sunnah.

Mengagungkan Sunnah adalah perkara yang besar dan bukan sekedar isapan jempol. Ia butuh bukti nyata dan praktek dalam kehidupan. Namun kini keadaannya justru sebaliknya, banyak orang menolaknya.

Yang dimaksud dengan Sunnah Nabi adalah petunjuk dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah. Di dalamnya mencakup perkara-perkara yang hukumnya wajib maupun sunnah yang berkaitan dengan akidah maupun ibadah dan yang berkaitan dengan muamalah maupun akhlak.

Sebagaiman para ulama Salaf mengatakan bahwa Sunnah artinya mengamalkan Al Qur’an dan hadits serta mengikuti para pendahulu yang shalih serta ber-ittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka. (Al Hujjah fii Bayanil Mahajjah, 2/428, Ta’dhimus Sunnah, 18)

Ibnu Rajab juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan As-Sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi dan para khalifahnya baik keyakinan, amalan, maupun ucapan. Dan inilah makna As-Sunnah secara sempurna. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, hadits no. 28)

Itulah yang kami maksud dalam pembahasan ini sehingga kami tidak terpaku pada istilah Sunnah menurut ahli fikih atau sunnah menurut ahli ushul fikih atau Sunnah dalam arti akidah, tetapi mencakup itu semua. Sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi yang artinya ;

“Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin…” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 2549)

Sebagaimana perintah Allah swt untuk memuliakan sunnah Nabi Muhammad SAW, yang terdapat dalam surat (Al-Hasyr Ayat 7) ;

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَاب ﴿۷﴾

“Dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah sedang apa yang beliau larang darinya maka berhentilah.” (Al Hasyr: 7)

Maksudnya, setiap orang yang taat kepada Rasul dalam perintah dan larangan berarti ia taat kepada Allah karena Nabi tidak memerintah atau melarang kecuali dengan perintah dari Allah. Ini berarti pula terlindunginya Nabi dari kesalahan karena Allah memerintahkan kita untuk taat kepadanya secara mutlak. Kalau seandainya beliau tidak ma’shum (terjaga dari salah) pada apa yang beliau sampaikan dari Allah, tentu Allah tidak akan memerintahkan taat kepadanya secara mutlak dan tidak memujinya. (Taisir Al Karimirrahman, 189 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/541) sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam Al-Quran surat Al Ahzab. Ayat 36 ;

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا ﴿

“Dan tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara pada urusan mereka.” (Al Ahzab: 36).

Ibnu Katsir mengatakan: “Ayat ini umum pada seluruh perkara yaitu jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum sebuah perkara maka tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya. Tidak ada peluang pilihan, ide atau pendapat bagi siapapun di sini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/498)

Ketiga ayat ini menunjukkan secara jelas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah melakukan ketaatan kepada Allah. Hal itu karena Allah jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas Al Qur’an sebagaimana dalam firman-Nya:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴿

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Selanjutnya kita lihat bagaimana hadits-hadits yang memerintahkan untuk mengikuti Sunnah, di antaranya:

Dari Al-Irbadh bin Sariyah ia berkata: “Rasulullah memberikan sebuah nasehat kepada kami dengan nasehat yang sangat mengena, hati menjadi gemetar dan matapun menderaikan air mata karenanya, maka kami katakan:’ Wahai Rasullullah seolah-olah ini nasehat perpisahan maka berikan wasiat kepada kami’, lalu beliau katakan: ‘Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 2549)

Demikian Nabi mewasiatkan kepada para sahabat beberapa wasiat penting di antaranya perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya dan Sunnah para Khulafa Ar Rasyidin. Bahkan beliau menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi kita yang paling kuat. Di masa sahabat saja Rasulullah telah berwasiat demikian, lebih-lebih di zaman sepeninggal beliau di mana kondisi masyarakat dari sisi keagamaan semakin buruk dengan munculnya berbagai perselisihan dan bid’ah pada perkara-perkara yang prinsipil.

Datang beberapa orang kepada istri Nabi menanyakan amalan yang dilakukan oleh Nabi di saat sendirian. Setelah mendengar jawabannya merekapun menganggap diri mereka sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh Nabi sehingga masing-masing menetapkan azamnya.

Salah satu dari mereka berkata: “Saya tidak akan menikahi wanita.” Yang lain mengatakan: “Saya tidak akan makan daging,” dan yang lain mengatakan : “Saya tidak akan tidur di kasur.” Sampailah berita itu kepada Nabi maka beliaupun berpidato dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya lantas berkata:

“Mengapa ada orang–orang yang mengatakan demikian dan demikian, (padahal) saya bangun shalat malam dan saya juga tidur, saya puasa dan saya terkadang tidak berpuasa, dan saya juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan Sunnahku, dia bukan dari golonganku.” (Shahih, HR Muslim, 9/179)

Coba kita amati kisah ini. Beberapa sahabat datang dengan maksud baik, lalu mereka berazam (berkeinginan kuat) untuk meninggalkan beberapa kenikmatan dengan tujuan memperbanyak ibadah sehingga bisa mendekati amalan Nabi. Namun pada niatan itu mengakibatkan ditinggalkannya beberapa Sunnah, petunjuk dan jalan Nabi yaitu menikah, memberikan hak jasmani dengan tidak puasa setiap hari dan tidak bangun sepanjang malam walaupun untuk ibadah.

Maka Nabi menganggap hal itu tidak baik sehingga mengatakan: “Barangsiapa yang benci terhadap Sunnahku maka bukan dari golonganku.”

Sekedar niat baik saja tidak cukup bila tanpa disertai cara yang baik pula. Kalau keadaan mereka saja seperti ini lalu bagaimana dengan yang sengaja meninggalkan Sunnah Nabi dengan niat jelek? Lalu bagaimana lagi yang menghina Sunnah Nabi atau bahkan mengingkarinya?!

Demikian ayat dan hadits mendudukkan Sunnah Nabi yaitu pada tinggkat yang sangat tinggi. Oleh karenanya kita dapati para sahabat Nabi benar-benar menghargai dan menjadikannya sebagai panutan hidup bahkan sangat takut jikalau mereka menyelisihi Sunnah sehingga menyebabkan sesatnya mereka dari jalan yang lurus.

Kita dapati Abu Bakar Ash Shiddiq mengatakan: “Saya tidak meninggalkan sesuatu yang Rasulullah melakukannya kecuali aku pasti melakukannya juga dan saya takut jika saya tinggalkan sesuatu darinya lalu saya sesat.”

Wahai saudaraku…orang yang paling jujur (Abu Bakar) khawatir terhadap dirinya untuk tersesat jika menyelisihi sesuatu dari jalan Nabi. Maka bagaimana jadinya dengan sebuah jaman yang penduduknya mengolok-olok Nabi mereka dan perintah-perintahnya bahkan berbangga dengan menyelisihi dan mengolok-oloknya.

Kami memohon kepada Allah perlindungan dari perbuatan salah dan memohon keselamatan dari amal yang jelek. Demikian dikatakan oleh Ibnu Baththah, seorang ulama akidah yang hidup pada abad keempat hijriyah dalam kitab Al Ibanah,1/246, dan Ta’dhimus Sunnah, 24. Lalu bagaimana jika beliau hidup di jaman kita? Apa yang kira-kira akan beliau katakan?

Seorang tabi’in bernama Abu Qilabah mengatakan: “Jika kamu ajak bicara seseorang dengan Sunnah lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari ini dan datangkan Kitabullah.’ Maka ketahuilah bahwa dia sesat.”(Tabaqat Ibni Sa’ad, 7/184, Ta’dhimus Sunnah, 25)

Demikian pula yang enggan menerima Sunnah Nabi karena lebih cenderung kepada pendapat seseorang maka dia berada dalam bahaya besar. Seperti dikatakan Abdullah bin Abas ketika datang kepadanya seseorang yang yang seolah-olah mengadu Sunnah Nabi dengan pendapat Abu Bakar dan Umar maka Abdulllah bin Abbas mengatakan: “Hampir-hampir turun kepada kalian bebatuan dari langit, aku katakan Rasullullah berkata demikian dan kalian katakan berkata Abu Bakar dan Umar demikian?!” (Shahih, riwayat Al Bukhari)

Maka sangat mengherankan kalau seseorang tahu Sunnah lalu meninggalkannya dan mengambil pendapat yang lain sebagaimana dialami oleh Imam Ahmad: “Saya merasa heran dari sebuah kaum yang tahu sanad hadits dan keshahihannya lalu pergi kepada pendapat Sufyan (maksudnya Sufyan Ats Tsauri-red) padahal Allah berfirman:

“Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih (An-Nur: 63). Tahukah kalian apa arti fitnah? Fitnah adalah syirik.” (Fathul Majid, 466).

Demikian pula suatu saat Imam Syafi’i ditanya tentang sebuah masalah maka beliau mengatakan bahwa dalam masalah ini diriwayatkan demikian dan demikian dari Nabi. Maka si penanya mengatakan: “Wahai Imam Syafi’i, apakah engkau berpendapat sesuai dengan hadits itu?” Maka beliau langsung gemetar lalu mengatakan: “Wahai, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak memakainya?! Tentu, hadits itu di atas pendengaran dan penglihatanku.” (Shifatus Shafwah, 2/256, Ta’dhimus Sunnah, 28).

Dalam kesempatan lain beliau ditanya dengan pertanyaan yang mirip lalu beliau gemetar dan menjawab: “Apakah engkau melihat aku seorang Nasrani? Apakah kau melihat aku keluar dari gereja? Ataukah engkau melihat aku memakai ikat di tengah badanku (yang biasa orang Nasrani memakainya-red)? Saya meriwayatkan hadits dari Nabi lalu saya tidak mengambilnya sebagai pendapat saya?!” (Miftahul Jannah, 6)

Demikian tinggi nilai Sunnah Nabi dalam dada mereka sehingga rasanya sangat mustahil mereka meninggalkannya. Bahkan tidak terbayang ada seorang muslim yang berani meninggalkan Sunnah Nabi yang telah diketahui.

Karena pentingnya mengagungkan Sunnah Nabi sekaligus beratnya tantangan bagi yang mengagungkannya maka Allah sediakan pahala yang besar bagi mereka yang berpegang teguh dengannya dan menjunjungnya tinggi-tinggi sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Seseorang bertanya: “Limapuluh dari mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala limapuluh dari kalian.” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi lihat Silsilah Ash Shahihah no. 49

Didalam dalam hadits yang lain Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali kepada keasingan sebagaimana awalnya maka maka bergembiralah bagi orang-orang yang asing.” Rasulullah ditanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Jawab beliau: “Yaitu yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak.” (Shahih HR Abu Amr Ad Dani dari sahabat Ibnu Mas’ud, lihat Silsilah Ash Shahihah no. 1273)

Demikian pula Allah menjamin hidayah bagi orang-orang yang mengikuti Nabi dalam firman-Nya:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَاحُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّاحُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَاعَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ { }

“Katakan: Turutlah perintah Allah dan turutlah perintah Rasul! Kalau kamu tidak mau menurut, maka kewajiban Rasul hanya memikul apa yang dibebenkan kepadanya, dan kewajiban kamu memikulo apa yang dibebankan kepadamu. Kalau kamu menurut perintah rasul niscaya kamu mendapat pimpinan yang benar. Kewajiban Rasul hanya menyampaikan pesan yang terang. (An-Nur: 54)

Hidayah untuk menempuh jalan yang lurus baik dengan ucapan atau perbuatan, di mana tidak ada jalan menuju kepada hidayah kecuali dengan taat kepada Rasulullah. Adapun tanpa itu maka tidak mungkin, bahkan mustahil (Taisir Al Karimirrahman, 572-573).

Semakna dengan ayat diatas hadits Nabipun menjelaskan yang berbunyi:

“Sesungguhnya setiap amalan itu ada masa giatnya dan setiap giat itu ada masa jenuhnya maka barangsiapa yang jenuhnya itu kepada Sunnahku berarti ia mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang masa jenuhnya itu kepada selainnya maka ia binasa.” (Shahih, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Ibnu Amr, lihat Shahihul Jami’ no: 2152)

Selama seseorang berada di atas Sunnah Nabi maka dia tetap berada di atas istiqamah. Sebaliknya, jika tidak demikian berarti ia telah melenceng dari jalan yang lurus sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar: “Manusia tetap berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” ( Riwayat Al Baihaqi, lihat Miftahul Jannah no.197).

‘Urwah mengatakan: “Mengikuti Sunnah-Sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (Riwayat Al Baihaqi, Miftahul Jannah no: 198)

Dari sini tidak diragukan lagi bahwa rasulullah adalah manusia yang sempurna yang diutus oleh Allah ke muka bumi. beliau tidak saja melaksanakan ibadah (shalat) dan kewajiban-kewajibanya terhadap para pengikutnya tanpa pandang bulu. Rasulullah adalah manusia ideal dalam semua hal beliau memiliki karakter yang paling baik, seorang remaja, seorang pengembala, buruh, pemuda, suami, ayah, pedagang, sebagai seorang guru,pembaharu agama, tentara, jenderal, pemenang, administrator, pemimpin kaum beriman, pelindung kaum lemah, penolong wanita-wanita janda dan kaum miskin, penuntun bagi orang-orang kaya dan mejaga bagi anak yatim dan pembebas para budak, Rasulullah tidak ada bandingnya dalm perjalanan sejarah seluruh umat manusia. Sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an surat. (Al-Ahzab Ayat 21)

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا { }

“Sesungguhnya telah adapada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) Bagi orang yng mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamatdan banyak menyebut Allah.”

Dari sini kita tahu bahwa konsep pendidikan adalah sebuah media bagi terjadinya transformasi nilai dan ilmu yang berfungsi sebagai pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia. Pendidikan bersinggungan dengan upaya pengembangan dan pembinaan seluruh potensi manusia (ruhaniah dan jasadiyah) tanpa terkecuali dan tanpa prioritas dari sejumlah potensi yang ada. Dengan pengembangan dan pembinaan seluruh potensi tersebut, pendidikan diharapkan dapat mengantarkan manusia pada suatu pencapaian tingkat kebudayaan yang yang menjunjung hakikat kemanusiaan manusia.

Pendidikan berwawasan kemanusiaan memberikan pengertian bahwa pendidikan harus memandang manusia sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek yang memilah-milah potensi (fitrah) manusia. Artinya, pendidikan adalah suatu upaya memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang hidup bersama hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif (syariat) dan sekaligus sebagai khalifah di bumi.

Konsep pendidikan yang mengenyampingkan dasar-dasar tersebut, adalah pendidikan yang akan mencetak manusia-manusia tanpa kesadaran etik, yang pada akhirnya melahirkan cara pandang dan cara hidup yang tidak lagi konstruktif bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu perlu adanya konseptualisasi ilmu dalam pendekatan filsafati yang merupakan kerangka dasar dalam upaya memperjelas dan meluruskan cara pandang manusia, baik mengenai dirinya, alam lingkungan, maupun terhadap campur tangan Allah Swt.

Pada dasarnya, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba sebagaimana tercantum dalam (QS.As-Syams :8)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا { }

“Dan diilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (yang benar)

Oleh karena itu, pendidikan berarti suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berfikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.

Islam adalah panduan hidup manusia di dunia dan akhirat yang bukan sekedar agama seperti dipahami selama ini, tetapi meliputi seluruh aspek dam kebutuhan hidup manusia. Ilmu dalam Islam meliputi semua aspek ini yang bisa disusun secara hirarkis dari benda mati, tumbuhan, hewan, manusia hingga makhluk gaib dan puncak kegaiban. Susunan ilmu tentang banyak aspek ini bisa dikaji dari pemikiran Islam. Mengingat seluruh tradisi keagamaan dalam sejarah umat manusia mulai dari nabi Adam diklaim sebagai Islam dan seluruh alam natural dan humanitas sebagai ayat-ayat Tuhan, maka seluruh ilmu tentang hal ada, merupaka ilmu tentang ayat-ayat Tuhan dan Islam itu sendiri.

Dalam kehidupan manusia, tidak ada seorangpun yang normal jiwanya untuk membiarkan anak-anaknya agar tumbuh dan berkembang dengan sendidrinya. Hal itu sudah menjadi barang tentu karena Anak adalah adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia yang merupakan kebanggaan para orang tua dan anak merupakan titipan anugrah dari Allah Swt yang terbesar yang harus di jaga dan dididik sesuai dengan petunjuuk Allah dan Rasullnya agar kelak menjadi anak yang sholeh sholeha yang dapat membangun masyarakat sesuai dengan cita-cita.

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

Dari sini kita tahu bahwa peranan keluarga dalam pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama pendidikan untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya untuk meneruskan eskafet yang telah disampaikan Nabimuhammad saw dan orang-orang terdahulu.

Oleh karena itu orang tua atau para pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik dan membina anak karena keluarga merupakan tempat yang pertama kali bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dimana anak mendapat pengaruh dari anggota keluarga tersebut dan masa ini merupakan masa-masa kritis dalam perkembangan dan pertumbuhan baik jasmani maupun rohaninya.

Oleh karena itu orang tua ataupun pendidik lebih seharusnya lebih mengerti tentang konsep pendidikan apa yang sepantasnya atau yang seharusnya sesuai dengan perkembangan anak karena dengan diiringi perkembangan jaman dan tekhnologi anak sangat mudah terpengaruh oleh berbagaimacam media disini tugas dan peran orang tua dan pendidik mempunyai peranan yang sangat penting bagaimana berupaya semaksimal mungkin untuk mendidik anak sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah agar anak-anak ini kelak menjadi manusia-manusia yang berguna bagi masyarakat bangsa dan agama di hari kemudian nanti walaupun didalam lingkungann yang jelek atau menyimpang anak tidak mudah terpengaruh atau terbawa oleh lingkungan atau media-media elektronik lainnya karena anak sudah terbiasa dengan perilaku-perilaku hidup sederhana yang telah diberikan orang tua dan pendidik melalui konsep-konsep yang telah di contohkan Rasulullah saw. Sebagai cermin bagi setiap para orang tua atau pendidik untuk mendidik anak-anaknya dan setiap proses pendidikan seorang pendidik atau orang tua harus mengajak untuk mengikuti langkah-langkah orang shaleh dan memberikan motivasi pada anak agar selalu bersanding dengan orang-orang shaleh agar anak tidak mudah terbawa kedalam lembah hitam. oleh karena itu untuk mencapai pada tahap ini kita harus lebih tau dan lebih mengenel tentang sejarah proses pendidikan yang telah dilakukan Rasulullah Saw.

Ada pepetah yang mengatakan bahwa jangan sekali-kali meninggalkan sejarah tetapi belajarlah dari sejarah sehingga kita bisa mengambil hikmah dari dibalik sejarah tersebut, dengan mempelajari sejarah kita dapat mengetahui cara-cara atau konsep-konsep pendidikan yang telah di contohkan Rasulullah saw.

Orang-orang yang tidak mengenal Nabi Muhammad Saw, sesungguhnya mereka tidak mengenal sejarah. Sulit dimengerti bagaimana orang-orang bersikap arogan terhadap revolusi terbesar dan paling efektif dalam bidang agama, social, politik dan ekonomi yang pernah ada di atas bumi yng dilakukan seorang supermen, Muhammad, Rasulullah saw.

Dari sini kita tahu bahwa hanya orang-orang yang memperhatikan sejarahlah yang dapat mengerti tentang konsep-konsep pendidikan yang telah di contohkan Rasulullah sebagaimana dalam Hadits Nabi dikatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan itu masih dalam keadaan suci tetapi ibu dan bapaklah yang merusak dan menyesatkan fitrahnya yang asalnya suci dan sepatutnya berkembang kearah yang lebih baik tetapi sebaliknya karena dengan kemajuan teknologi anak lebih mudah terpengaruh baik oleh media-media elektronik maupun teman dekat sepergaulannya dan ini merupakan tanggung jawab pendidik dan para orang tua.untuk memberikan pemahaman–pemahaman terhadap anak bahwa jikalau melakuan hal ini akan akibatnya seperti ini dan orang tua harus memberikan motivasi atau kabar gembira kepada anak supaya anak juga lebih semangat dalam hidup untuk mengikuti oaring –orang shaleh..

Oleh karena itu pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Oleh karena itu, penulis sarankan kepada para pendidik atau para orang tua untuk lebih memperhatikan para pendidik dengan melengkapi seluruh sarana dan prasarana demi suksesnya misi pendidikan anak didik sehingga hasil pendidikan yang diperoleh bisa dicapai secara maksimal dan sempurna.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian di atas, maka penulis berusaha untuk merumuskan masalah di atas agar tidak terjadi penyimpangan maka penulis mencoba merumuskannya sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pendidikan anak dalam islam ?

2. Bagaimana konsep sunnah Nabi Muhammad saw ?

3. Bagaimana upaya untuk menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw. melalui pendidikan anak ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui konsep pendidikan anak dalam islam.

b. Untuk mengetahui bagaimana konsep sunnah Nabi Muhammad Saw. dalam islam.

c. Untuk mengetehui bagaimana upaya untuk menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw.

D. Kerangka Pikiran

Itulah yang kami maksud dalam pembahasan ini sehingga kami tidak terpaku pada istilah Sunnah menurut ahli fikih atau sunnah menurut ahli ushul fikih atau Sunnah dalam arti akidah, tetapi mencakup itu semua.

Sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi :

“Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin…” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 2549]

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 7 yaitu perintah untuk memuliakan sunnah Nabi.

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ { }

“Dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah sedang apa yang beliau larang darinya maka berhentilah. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha keras siksanya” (Al Hasyr: 7)

Asy Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Perintah ini mencakup prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya baik lahir maupun batin dan bahwa yang dibawa oleh Rasul maka setiap hamba harus menerimanya dan tidak halal menyelisihinya. Apa saja yang disebut oleh Rasul seperti apa yang disebut oleh Allah, tidak ada alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya dan tidak boleh mendahulukan ucapan siapapun atas ucapan Rasul sebagaimana tercantum dalam surat (An-Nisa ayat 80)

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ { }

“Barangsiapa yang mentaati Rasul berarti ia mentaati Allah.” (An Nisa’: 80)

Maksudnya, setiap orang yang taat kepada Rasul dalam perintah dan larangan berarti ia taat kepada Allah karena Nabi tidak memerintah atau melarang kecuali dengan perintah dari Allah. Ini berarti pula terlindunginya Nabi dari kesalahan karena Allah memerintahkan kita untuk taat kepadanya secara mutlak. Kalau seandainya beliau tidak ma’shum (terjaga dari salah) pada apa yang beliau sampaikan dari Allah, tentu Allah tidak akan memerintahkan taat kepadanya secara mutlak dan tidak memujinya. (Taisir Al Karimirrahman, 189 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/541)

Sebagaimana dijelaskan dalam surat (Al Ahzab ayat 36)

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ { }

“Dan tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara pada urusan mereka.” (Al Ahzab: 36)

Ibnu Katsir mengatakan: “Ayat ini umum pada seluruh perkara yaitu jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum sebuah perkara maka tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya. Tidak ada peluang pilihan, ide atau pendapat bagi siapapun di sini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/498)

Ketiga ayat ini menunjukkan secara jelas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah melakukan ketaatan kepada Allah. Hal itu karena Allah jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas Al Qur’an sebagaimana dalam firman-Nya:

E. Langkah-Langkah Penelitian

1. Jenis Data

Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif yang terdiri dari kata-kata dan data tertulis yang relevan dengan pokok permasalahan yang sedang dibahas. Dalam penelitian ini dapat digolongkan kepada penelitian kualitatif, hal ini didasarkan kepada jenis data yang digunakan.

2. Sumber Data

Adapun sumber data di dalam pembahasan skripsi ini, menggunakan metode dokumenter (Book Survey) atau studi pustaka. Sebagaimana menurut Irawati Singarimbun, bahwa manfaat yang diperoleh dari penelusuran kepustakaan adalah menggali teori-teori dasar dan konsep yang telah dikemukakan oleh para ahli terdahulu. Dengan methode ini penulis berusaha untuk mengungkapkan dan menganalisa buku-buku sumber yang ada kitannya dengan judul skripsi ini dan juga dari berbagai macam makalah atau artikel-artikel dari majalah, surat kabar dan lain-lain yang relevan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode riset kepustakaan, yaitu membaca, meneliti serta memahami buku-buku baik sumber data primer atau skunder yang ada kaitannya dengan perumusan masalah yang sedang dibahas.

4. Analisis Data

Penggunaan analisis data dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Metode deduktif, yaitu menerangkan beberapa data yang bersifat umum untuk suatu generalisasi berdasarkan hubungan persamaan atau mengandung pengertian berangkat dari epngetahuan.

b. Metode induktif, yaitu teknik berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat khusus menuju yang bersifat umum sebagai kesimpulan.

c. Metode konvergentif, yaitu metode berpikir dengan cara menggabungkan kedua teknik antara metode deduktif dan induktif.

d. Menarik kesimpulan merupakan langkah terakhirdalam penelitian ini.

Penelitian diatas pada prinipnya menggunakan metode tersebut dan dioprasionalkan dalam langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menginventarisasi ayat-ayat Alqur’an dan mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang berhubungan dengan konsep pendidikan anak dalam islam.

b. Menginventarisasi teori-teori kosep pendidikan anak dalam islam

c. Menginventarisasi bagaimana upaya-upaya untuk menghidupkan sunnah Nabi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: