Alasan (Syar’i) Meninggalkan Jihad

Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 22, 2008

Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kewajiban jihad kecuali dia Kafir (tidak beriman); terutama pada saat ini dimana jihad telah menjadi fardhu ’ain (sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan). Namun ada beberapa individu yang mempunyai izin syar’i untuk tidak pergi melaksanakan jihad.

Seseorang yang dimaafkan dari kewajiban jihad (yaitu tidak berkewajiban untuk berperang di jalan Allah) hanya bisa dengan salah satu dari dua alasan di bawah ini :

1. Lumpuh seperti buta, mempunyai anggota tubuh yang pincang, atau mempunyai sebuah penyakit yang parah dan menyebabkan dia tidak bisa melaksanakannya (seperti kencing manis, atau asma yang sudah parah dan lain-lain).

2. Atau dia tidak mempunyai kekayaan

Hal ini berdasarkan persetujuan (oleh ulama salaf) tanpa ada perselisihan. Allah (swt) berfirman:

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS An Nisa : 95)

Ibnu Abbas (ra) berkata (pada saat menjelaskan ayat di atas) “mereka yang tersebut dalam surah baraa’ah [adalah juga di bebaskan dari jihad].” Allah (swt) berfirman dalam surah At Taubah (baraa’ah):

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS At Taubah 9 : 91-92)

Ayat ini adalah tameng untuk melawan “jihadis” gadungan yang dengan jelas menujukkan bahwa dakwah adalah sebuah kewajiban atas mereka yang tidak pergi ke medan perang : Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. (yakni dengan tetap melaksanakan dakwah).”

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. (yakni dengan tetap melaksanakan dakwah).” Meskipun demikian, seseorang yang mempunyai izin untuk tidak pergi melaksanakan jihad (yaitu karena lumpuh atau tidak mempunyai harta) itu masih di perbolehkan untuk pergi ke medan jihad (jika dia mau), walaupun Allah (swt) telah memberikan dia keringanan untuk tidak pergi. Sesungguhnya seorang muslim “bebas” untuk menerima banyak pahala dengan pergi ke medan jihad ketika dia melaksanakan sebuah perbuatan baik yang mana itu adalah sebuah kewajiban atasnya. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan amalan nafilah (perbuatan sunnah) akan menerima banyak balasan daripada seseorang yang hanya mengerjakan amalan fardunya saja; ini karena dia melakukan lebih banyak dari pada apa yang telah diperintahkan atasnya. Allah (swt) berfirman:

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (QS Al fath 48 :17)

Ibnu Qudamaah Al Maqdisi (RH) berkata (tentang orang-orang yang di bebaskan dari latihan militer dan jihad):

Orang-orang yang selamat dari khuruj (seperti orang yang buta, pincang, sakit dan lain-lain) adalah orang yang dimaafkan dari pergi melaksanakan jihad. Alasan orang-orang yang buta adalah telah sangat jelas dan mudah dimengerti. Bagi orang yang pincang (pembebasannya) dikarenakan dia adalah orang yang sangat lemah jika dia harus berada di medan jihad, seperti dia tidak bisa berlari atau berkendaraan dengan baik. Seseorang yang hanya mempunyai sebuah anggota tubuh, yang menyulitkannya untuk berlari dan mengendarai (kuda),dsb.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: