Keta’atan dari Sebuah Ujian Ideologi

Kalau boleh kita mau belajar ada kisah menarik yang disajikan Al-Quran seputar persiapan peperangan Thalut dalam menghadapi pasukan Jalut. Persiapan itu berupa ujian Allah yang akhirnya menyeleksi siapa yang bisa terus berjuang, dan siapa yang lemah. Siapa yang ta’at dan siapa yang tidak ta’at terhadap komando kepemimpinannya.

Thalut berkata kepada pasukannya, “Sesungguhnya Allah menguji kalian dengan sungai. Siapa yang meminum airnya, maka ia bukan pengikutku. Kecuali mereka yang meminum dengan seciduk tangan.” Itulah di antara isi dari surah al-Baqarah ayat 249.

Perhatikan apa yang dikecualikan Thalut terhadap sungai itu. “Kecuali, meminum dengan seciduk tangan.” Seciduk tangan adalah ukuran wajar yang dibutuhkan seorang mu’min yang aktivis, dan juga seorang manusia untuk bisa tetap bertahan hidup. Ukuran yang tidak akan menggiring orientasi perjuangan kearah tempat baru yang melenceng dari cita-cita sejati.

Mungkin, ada banyak angan-angan yang menerawang diangan-angan di benak pasukan Thalut: “Apa salahnya kalau kita nikmati kesejukan air sungai sebanyak-banyaknya, agar daya perlawanan bisa lebih kuat. Apa salahnya memanfaatkan air sungai, agar modal perjuangan bisa lebih mapan. Dan seterusnya”, diangan mereka.

Tapi, logika perjuangan memiliki logika yang lain. Siapa yang hatinya ‘tenggelam’ dengan keindahan sungai, orientasinya perjuangannya akan melenceng. Ketegasan dan kewajaran terhadap keindahan sungai juga bisa membentengi terhadap masuknya langkah-langkah setan.

Dan ini yang akhirnya terbukti. Mereka yang berpuas-puas dengan fasilitas sungai yang begitu menggoda dalam jalan perjuangan, keberaniannya menjadi susut, fisiknya melemah. Karena perutnya kekenyangan. Dan satu hal yang lebih penting:”Kedekatan dan ketawakalannya kepada Allah seolah menguap bersama menguapnya keikhlasan dalam berjuang”.

Ayat lain mengisyaratkan hal yang sama. Dalam surah At-Taubah ayat 34, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah….”

Para mufasirin mengambil pelajaran. Seruan ‘hai orang-orang beriman’ dalam ayat di atas, menjadi pengingat bahwa perilaku dan karakter para tokoh agama Yahudi dan Nasrani dalam soal keuangan bisa tertular di kalangan tokoh dan aktivis Islam. Karena itu, berhati-hatilah terhadap godaan dan tarikan uang.

Hal inilah yang Allah ajarkan kepada para Nabi dan Rasul dalam menunaikan misi dakwah. Para Nabi dan Rasul mengatakan, “Aku sama sekali tidak meminta upah dari kalian. Upahku hanya kuharapkan dari Allah, pencipta dan pemilik alam raya ini.”

Boleh jadi, ujian Allah untuk para aktivis Gerakan Islam saat ini, jauh lebih berat dari apa yang pernah dialami pasukan Thalut. Karena saat ini, ’sungai’ kemewahan kehidupan tidak hanya satu. Ada di depan, di samping, kanan, kiri, atas dan bawah. Semuanya melambai-lambai untuk menawarkan ‘kerjasama’, ‘sinergi’, ‘partnership’ dalam perjuangan Islam.

Banyaknya aktivis Islam ekstra kampus yang merapat dan masuk kedalam wadah politik praktis, secara tidak sadar sebetulnya telah mencederai dan memberikan image bahwa kini tidak ada lagi konsep indevenden dalam sebuah gerakan dan selain itu juga telah memberikan asumsi bahwa kini tidak ada lagi gerakan murni yang ada adalah gerakan kepentingan baik itu sesaat dan bersifat kondisional maupun dalam kontek berkesinambungan.

Tidak sedikit kader-kader aktivis dakwah berlomba-lomba memasuki politik praktis gerakan, meski diakui mungkin disatu sisi memang sangat baik dalam rangka menguji dan mengasah konsep gerakan yang selama ini menjadi flatform, kredo atau apapun itu namanya. Namun yang terkadang tidak disadari adalah objektifitas karakter yang cenderung tergadaikan, senderung berbau kepentingan kekuasaan. Entahlah apa yang menjadi ambisi niat itu sendiri…, padahal kalau boleh mau belajar terhadap tokoh tokoh ulama besar pada jaman Imam Madzhab misyalnya akan kita temukan bahwa semudah dan seindah momentum itu ada serta semampu apapun kemampuan kita dengan berbagai disiplin ilmu namun ternyata tidak lantas menjadikan momentum itu mesti harus diisi dan direbut secara sporadis. Maka benar adanya Firman Allah yang mengatakan bahwa ‘’ tidak mesti semuanya pergi berperang namun mesti ada sebagian yang memperdalam ilmu ilmu agama dilain sisi….’’. Adapun dalam kontek kekinian hampir tidak ditemukan lagi ulama-ulama kapabel yang indevenden seperti halnya para Imam Madzhab sehingga sungguh sangat sulit untuk dijadikan referensi pencitraan yang terbebas dari konplik kepentingan. Kita berdoa semoga saja masih ada ulama ulama yang masih totalitas konsekuensinya terhadap amanah Ilahiyah meski tanpa harus mengorbankan kepentingan sesaat.wallahu’alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: