Makna Istirahat bagi Aktivis Dakwah (Sebuah Refleksi Untuk Aksi)

Oleh: Syamsudin Kadir ( Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Bandung Periode 2007-2008 )

”Kesabaran adalah kemenangan dan kesabaran adalah himpunan semua makna keberanian, keteguhan, kejujuran, tekad, wawasan jauh ke depan” (Ust. Rahmat Abdullah)

”Izinkan saya untuk mengakhiri amanah ini, karena ada keperluan lain yang lebih penting. Saya tidak bermaksud melarikan diri dari amanah besar ini, tapi kondisi lain adalah alasan yang paling mendasar untuk dijadikan alasan tidak bisa meneruskan amanah ini; semoga ikhwah semua mengerti dan paham dengan kondisi saya”. Begitulah pesan singkat (SMS) yang dikirimkan oleh seorang kader aktivis gerakan pemuda islam di akhir April 2008 kepada beberapa orang pengurus organisasinya. Beberapa waktu kemudian, tepatnya bulan Mei 2008, muncul SMS baru, ”Akhi, saya keluar dari organisasi ini. Terima kasih, jazakallah!” SMS-SMS seperti ini sudah sering terjadi di kalangan aktivis gerakan, khususnya gerakan dakwah. Tidak semuanya salah, tetapi SMS-SMS seperti ini cukup menghebohkan.

Dakwah memang selalu menawarkan banyak hal. Ada kepenatan, kelelahan, keletihan, dan kelemahan. Jalan dakwah selalu menawarkan proposal kepada aktivisnya. Ada ujian ketidaksabaran, cepat lelah, mudah putus asa bahkan mudah untuk berpindah jalan. Tidak mudah memang, tetapi begitulah dakwah ini memberi kita tantangan. Di mana semuanya dituntut untuk membawa bekal, semacam keikhlasan, totalitas dan kesabaran.

Filosofi Istirahat Para Aktivis Dakwah

Aktivis dakwah, idealnya merupakan nama harum bagi hari-hari kita zaman ini. Karena istilah ini dibangun di atas fakta-fakta yang berakar dalam ke masa lalu, ketika dakwah ini bermula. Di gubug-gubug gang sempit lahirnya. Berpeluh di kendaraan umum dalam rute-rute panjang aktivisnya. Menapak jalan-jalan kota, desa dan perkampungan tanpa uang dan sepatu bahkan para aktivisnya. Mengorbankan nikmat tidur untuk agenda dakwah dengan pulang dalam keadaan lelah tanpa digaji dan dibayar. Memberikan seluruh tenaga, pikiran dan kesempatan untuk mengisi acara-acara pengkaderan di atas rasa lelah, lapar dan dahaga. Haus dan lapar jadi kata yang sering dieja oleh kamus hidup para pengusungnya. Jauh dari hingar bingar sanjungan dunia dan manusia. Semua itu terjadi karena mereka menggantinya dengan kesenangan menghirup sepuas hati telaga Al Qur’an, dakwah serta filosofi perjuangan para nabi dan para sahabat di masa lalu.

Keikhlasan yang ’naif’ Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan isteri dan anaknya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (Qs. Ibrahim: 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikroh yang militan. Begitulah perjuangan dakwah jika dilalui dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan totalitas.

Ibnu ’Umar ra, tokoh sahabat yang terkenal sangat waro’, pernah ditanya, ”apakah para sahabat Rasulullah dahulu tertawa?” Pertanyaan sederhana, tapi menyiratkan kebutuhan informasi yang akurat tentang karakter sebuah generasi terbaik. Ibnu ’Umar ra pun menjawabnya dengan jawaban seobjektif mungkin, ”Ya, mereka tertawa, tapi iman di dada mereka laksana gunung.” Begitu jawaban Ibnu ’Umar ra. Perhatikan, apa yang melatarbelakangi pertanyaan kepada Ibnu ’Umar ra tersebut. Para sahabat adalah kumpulan manusia pemilik keberanian dan pengorbanan yang tak ada bandingnya. Orang yang bertanya pada Ibnu ’Umar ra, tertarik untuk menanyakan sisi kemanusiaan generasi terbaik itu. Dan ternyata, begitulah jawaban Ibnu ’Umar ra. Singkat, padat dan dalam maknanya.

Para sahabat terkenal sangat giat dalam beramal. Umar ra bahkan mengatakan, ”Aku sangat benci melihat seorang kalian yang menganggur, tidak melakukan amal dunia dan tidak melakukan amal akhirat.” Hari demi hari yang mereka lalui selalu bermakna peningkatan dan pengembangan dari sebelumnya. Ibrahim al Harbi pernah menceritakan perihal iman generasi Tabi’in, Ahmad bin Hambal. ”Aku telah hidup bersama Ahmad bin Hambal 20 tahun. Selama musim kemarau dan hujan, musim panas dan dingin. Aku tak pernah mendapatinya, kecuali ia lebih baik dari hari kemarin.” (Manaqib Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Jauzi, hal. 140)

Meski demikian, para sholihin itu tetap berada di tengah-tengah, antara kekerasan dan kelembutan, antara disiplin bekerja dan istirahat. Seperti juga Rasulullah SAW. menyifatkan dirinya dengan istilah ’adhahuuku al-qattal’, orang yang gemar tertawa tapi juga gemar berperang.

Senyum sebagai bagian dari peristirahatan dan kelembutan, dalam pandangan mereka, bahkan menjadi salah satu sifat istimewa manusia yang tak dimiliki binatang. Ibnu Taimiyah mengulas hal ini dengan uraian menarik: ”manusia itu hewan yang bicara dan bisa tertawa. Tak ada yang membedakan manusia dengan hewan, kecuali sifat-sifat kesempurnaan. Sebagaimana bicara menjadi salah satu sifat-sifat kesempurnaan manusia, demikian juga tertawa. Maka jika yang bicara itu lebih sempurna dari yang tidak bicara, begitu pula yang tertawa itu lebih sempurna dari yang mampu tertawa”. (Fatawa Ibnu Taimiyah 6/121).

Kita perlu istirahat. Jiwa, fisik, akal bahkan ruh kita butuh istirahat. Yang perlu diingat, peristirahatan itu bisa bermanfaat dengan dua syarat. Pertama, dilakukan dalam waktu sementara dan temporal. Kedua, tidak keluar dari batas-batas yang dibenarkan oleh syari’at. Melanggar kedua syarat ini berarti substansi peristirahatan akan hilang atau bahkan memunculkan akibat kebalikannya. Karena tanpa kehati-hatian, peristirahatan dan sebuah jedah bisa berubah menjadi kelemahan, kemalasan, bahkan keterjerumusan pada tipu daya syaitan. Peristirahatan, harus tetap patuh pada aturan syari’at.

Canda misalnya, tidak boleh dicampur dengan dusta. Peristirahatan, hanya variasi hidup yang penting dari rutinitas. Ia juga ibarat garam dalam makanan. Penting tapi tidak boleh berlebihan. Tokoh Ulama Kuawait, Syekh Jasim Muhalhil mengistilahkan hal ini dengan ”waktu turun minumnya seorang pejuang”, yang akan mengembalikan stamina atau menghidupkan tenaga yang lebih besar dari sebelumnya. Hasan Al Banna menyebutnya dengan ungkapan: ”Mujahid sejati adalah yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, dan tidak tertawa selebar mulutnya”. Itulah makna peristirahatan dan perhentian hakiki. Ya, ”hiburlah jiwa kalian, sesaat bareng sesaat. Karena jiwa itu bisa berkarat, seperti besi yang bisa berkarat”, kata Ali bin Abi Tholib ra.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: