Ciri Muslim Sukses

Di dalam ayat pertama surat Al-Mu’minun, Allah menggunakan kata أَفْلَحَ yang arti terminologinya adalah BERUNTUNG. Namun di dalam tafsir-tafsir terkemuka kata tersebut bermaksud:

  1. akan selalu sukses
  2. sakinah (bahagia/tenteram) bagi batinnya
  3. berdampak pada kesuksesan lain berikutnya

Jadi sungguh beruntung seorang mu’min itu karena ia akan selalu sukses, tenteram batinnya dan kesuksesan saat ini akan berdampak pada kesuksesan-kesuksesan berikutnya.

Lalu bagaimana agar kita sebagai umat muslim selalu sukses? Marilah kita lihat ayat-ayat berikutnya pada surat Al-Mu’minun. Ayat-ayat ini bisa dikatakan merupakan ciri-ciri seorang muslim yang sukses. Oleh sebab itu, dengan mencoba melakukan hal-hal yang menjadi ciri-ciri tersebut, Insya Allah kita akan selalu sukses.

“(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” [QS. Al-Mu’minun (23):2-9]

Sebagaimana yang digambarkan pada bagan di bagian awal tulisan ini, ciri pertama muslim sukses adalah SHALAT YANG KHUSYU’ (ayat kedua).

Mari kita perhatikan salah satu doa yang terdapat di dalam shalat, yaitu doa duduk di antara dua sujud:

1. Robbighfirli: ya Allah, ampunilah dosaku. Cobalah membacanya ketika sholat kita rasakan betapa diri ini telah bergelimang dosa, hina dan kita ingin benar-benar bertobat (taubatan nashuha).

2. Warhamni: sayangilah aku. Rasakan bahwa kita ingin sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah akan menyayangi kita. Bukankah orang-orang terdekat dengan kita -seperti orang tua kita- adalah orang-orang yang amat menyayangi kita? Jadi maknailah bila tidak sayang, berarti Allah tidak akan perhatian kepada kita.

3. Wajburnii: Cukupkanlah aku. Mohonlah dengan sangat agar kebutuhan kita tercukupi. Pada zaman Tabi’it, ada seorang syekh yang memperhatikan seorang jamaah mesjid yang setelah shalat langsung pergi. Akhirnya syekh tersebut bertanya dan membuat perumpamaan, “Apakah kamu tidak butuh kepada Allah? Aku bahkan sampai garam pun aku minta kepada Allah.”

4. Warfa’nii: angkatlah derajatku. Mohonlah dengan sangat bahwa hanya dengan diangkatnya derajat, kita sukses bekerja dan beramal serta menduduki pangkat atau jabatan tertentu.

5. Warzuqnii: berilah aku rezeki (yang halal). Renungkanlah bahwa tanpa rezeki Allah yang tidak terhitung ini, kita tidak akan bisa shalat, makan, bekerja, atau bahkan mungkin nafas kita telah putus. Kepahaman yang meningkat terhadap Islam juga merupakan rezeki Allah, maka mintalah juga.

6. Wahdinii: bimbinglah aku. Mohonlah agar senantiasa Allah memberikan bimbingan hidayah kepada kita, karena tidak semua orang dibimbing ke jalan Allah

7. Wa’afihii: sehatkanlah aku. Renungkanlah tanpa kesehatan kita tidak bisa menikmati rezeki dan nikmat Allah yang lain. Dan jujurlah pada umur kita, seberapa banyak kebaikan yang telah kita perbuat, masih sangat sedikitkah? Oleh karena itu, kita butuh kesehatan yang baik untuk senantiasa menabung kebaikan (amal).

8. Wa’fuanni: maafkanlah aku. Terakhir ditutup dengan kata ini, supaya Allah bisa memaafkan kesalahan kita di masa depan bila kita telah lalai.

Dari doa yang singkat seperti itu saja, bila kita merenungi maknanya maka sungguh akan membawa kita kepada kekhusyu’an yang sangat dalam pada sholat kita.

Lalu apa berikutnya? Pada ayat ketiga secara tersirat disebutkan: PRODUKTIF. Menjadi orang yang pure produktif itu sulit. Fenomena sekarang, banyak sekali orang-orang yang rajin sholat ke mesjid misalnya, tapi apa yang dilakukannya setelah itu? Main catur seharian, atau ada pula yang melakukan sesuatu yang istilah ngetrend sekarang: have fun, go mad. Padahal ia telah berdoa dalam sholat dengan khusyu’. Tetapi mana ikhtiarnya?

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. [QS. Al-Maa’uun (107): 4-5]

Aa Gym menafsirkan ayat: “(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” dengan: “Orang-orang yang masuk neraka adalah orang-orang yang lalai setelah shalatnya. Ia tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat setelah ia shalat, atau orang-orang yang tidak tahu harus mengerjakan apa setelah ia shalat.”

Lalu seperti apa orang-orang yang produktif itu? Yaitu orang-orang yang kata-kata mau pun tindakannya tidak sia-sia. Setiap ucapannya terjaga, hanya mengatakan yang baik, tidak menjelek-jelekan (ghibah) orang lain. Setiap tindakannya (pekerjaannya) membawa manfaat baik orang lain. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak menyia-nyiakan waktu. Bukankah Rasul mengingatkan, “Sebaik-baiknya muslim adalah yang paling bermanfaat baik orang lain”?

Setelah itu, bila seseorang produktif dalam perkataan dan pekerjaannya, maka ia akan sukses harta. Karena ia muslim, maka ia mampu mengendalikan hartanya. Ia tidak lupa untuk MENUNAIKAN KEWAJIBAN ZAKAT (ayat keempat).

Kesuksesan harta juga tidak membuat ia lupa sehingga menuruti hawa nafsunya. Ia MENJAGA KEHORMATANNYA, tidak menyalahgunakan hartanya untuk bermaksiat atau berzina kepada yang bukan haknya (ayat 5-7).

Muslim yang sukses juga mampu MENUNAIKAN SETIAP AMANAH & JANJI yang diberikan kepadanya (ayat 8). Setiap amanah jabatan yang ia pikul tidak ia salah gunakan. Setiap amanah tugas yang dia emban, mampu yang selesaikan dengan baik. Setiap janji yang ia ucapkan selalu ia usahakan untuk ditepati.

Terakhir, Allah menutupnya dengan MEMELIHARA SHALATNYA (ayat 9). Maksudnya, setiap muslim yang sukses, kemudian ia kaya raya, ia tidak melupakan shalat. Shalatnya tetap terpelihara secara khusyu’, agar segala yang kesuksesan yang ia miliki berlanjut dan berdampak pada kesuksesan yang lain.

Jadi, shalat itu kalau benar akan memberikan energi spiritual yang luar biasa kepada yang melaksanakannya. Energi spiritual inilah yang akan mewarnai segala perilaku dan ucapan kita.

Setelah ayat 1-9, kemudian Allah berjanji:

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Al-Mu’minuun (23):10-11]

Tidak inginkah kita mewarisi surga Firdaus?

Di dalam kitab Tazkiyatun Nafs (karya Said Hawwa) yang merupakan inti sari dari kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, sarana pertama untuk membersihkan jiwa adalah SHALAT YANG KHUSYU’. Di dalam kitab tersebut juga menyebutkan Enam Unsur yang harus ada di dalam shalat:

1. HUDURUL QALBI (hati yang hadir bersama badan)

Kapan hati bisa hadir pada badan?

Bila perhatian utama kita ada pada pekerjaan yang kita lakukan. Bayangkan bila kita sakit perut luar biasa, tentu perhatian kita sangat terfokus pada perut kita. Tidak ada hal lain yang memecahkan perhatian kita. Demikian pula dalam shalat bila kita bisa melakukannya.

Kapan perhatian hadir pada pekerjaan?

Bila ia mengetahui manfaat dari pekerjaan (shalat) itu. Bila kita menyadari betapa banyak pahala yang bisa diperoleh dari shalat. Betapa kita membutuhkan Allah untuk memohon bimbingan, rahmat, rezeki dsb.

2. TAFAHUM (mengarahkan pikiran dan perhatian agar kita mengerti dengan apa yang kita ucapkan dan apa yang kita kerjakan)

Tafahum ini berkaitan dengan ilmu, yaitu ilmu agama Islam. Seberapa jauh kita telah mencoba menggali makna-makna dari shalat kita. Seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk belajar agama kita yang akan menjamin hidup kita di akhirat. Nihil? Oleh karena itu, usahakan untuk tetap memberikan porsi kepada diri kita untuk belajar Islam.

Sebagai contoh tafahum, Takbiratul Ihram. Pahamilah bahwa kalimat itu berarti tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih besar dari Allah. Pekerjaan kita, harta, anak dan istri kita adalah hal-hal yang bisa melalaikan kita.

Kemudian cobalah untuk bersujud yang lama. Pahamilah manfaatnya, yaitu dapat menurunkan ego kita. Cobalah untuk mengucapkan doa sujud lebih dari tiga kali. Bukankah yang minimal itu tiga kali? Bila lebih boleh, bukan? Insya Allah sujud yang lama dan bacaan yang diulang berkali-kali akan membuat kita merasakan ke-Maha Suci-an, ke-Maha Tinggi-an Allah SWT.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu. [QS. At-Taubah (9):111-112]

3. TA’DHIM (sikap menampakkan pengagungan kepada Allah SWT sepanjang melakukan shalat)

Mari kita mengartikan sebagian doa iftitah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam” dan “Aku hidup dengan pertolongan dan rahmatMu, dan kepadaMu aku kembali. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu.”

Bayangkan bila kita bisa menghadirkan perasaan dari ucapan kita ketika membaca doa iftitah sepanjang shalat kita, akan begitu ta’dhim kita kepada Allah.

Sungguh orang yang angkuh, terlalu percaya diri, takabbur dan ujub akan kesulitan untuk menangis ketika shalat karena ketinggian hatinya itu. Cobalah untuk menyadari kelemahan, kehinaan dan ketidakberdayaan serta menghadirkan kebesaran Allah.

4. HAIBAH (menghadirkan rasa takut kepada Allah)

Cobalah untuk membayangkan bagaimana kekuasaan Allah menghancurkan orang-orang yang berani terhadap Allah. Bagaimana Allah masih mengazab jazad orang-orang yang meninggal yang selama hidupnya telah lalai dan berani menentang Allah. Telah banyak cerita-cerita yang kita simak, bahwa orang yang semasa hidupnya berani kepada Allah ketika meninggal jazadnya diberikan siksaan oleh Allah. Na’udzubillah min zalik wastaghfirullahal adhim.

Oleh sebab itu cobalah pada saat shalat kita menyadari kesalahan-kesalahan kita dan menyadari betapa besar dan pedihnya siksaan Allah.

5. RAJA’ (menghadirkan rasa harap kepada Allah)

Di samping rasa takut kita juga harus menghadirkan rasa harap kepada Allah. Karena dengan demikian akan seimbang antara takut dan harapan untuk mendapatkan rezeki, pahala dan akhir yang baik di akhirat nanti. Coba perhatikan kembali makna doa duduk diantara dua sujud.

6. HAYA’ (menghadirkan rasa malu karena baru sedikit menanamkan kebaikan)

Menghadirkan rasa malu penting, ini berkaitan dengan rasa takut. Karena malulah kita berusaha untuk khusyu’ dalam shalat karena perbandingan antara menanam kebaikan dengan dosa-dosa yang telah kita perbuat sangat jauh.

Demikianlah enam unsur yang harus ada di dalam shalat. Semoga kita adalah orang-orang yang dapat khusyu’ melakukan shalat. Karena shalat adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain, seperti yang terdapat dalam ayat ini:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Ankabuut (29):45]

Imam Ghazali juga mengingatkan bahwa “mayoritas waktu, gunakanlah untuk mengingat kepada Allah, bukan sebaliknya.”

Selain shalat, kita juga harus mencoba untuk khusyu’ dalam ibadah-ibadah kita, misalnya dalam berwudhu, Imam Ghazali mengingatkan, “Ketahuilah sesungguhnya ketika berwudhu Allah itu bukan hanya menuntut kita membersihkan kotoran fisik saja, tetapi juga lebih menuntut membersihkan dosa-dosa kecil yang telah kita perbuat.”

Contoh lain adalah, ketika kita membaca doa Ta’awudz,

“A’udzuubillahis sami’ul ‘alim minas syaithanir rajiim.”

Yang artinya: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaitan yang terkutuk.

Bila kita pahami dan selami, ucapan itu bukan hanya kata-kata saja melainkan dari diri kita sendiri harus berusaha (ikhtiar) membentengi diri dari godaan syaitan. Yaitu, misalnya dengan tidak berusaha mendekati teman, perkumpulan & tempat yang bisa membawa kita ke dalam kemaksiatan. Karena telah kita ketahui syaitan itu bisa berasal dari kalangan jin dan manusia [lihat QS. An-Naas (114): 6].

Sebagai penutup marilah kita mengingat sekali lagi, sesungguhnya dengan mendirikan shalat yang khusyu’, shalat kita akan menjadi penolong kita, seperti yang diungkapkan Allah dalam ayat berikut:

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. Al-Baqarah (2):153]

Dan ingat pula, kita harus men-sinergi-kan antara doa (dzikir), fikir dan ikhitiar (usaha). Tanpa pikiran dan usaha percuma saja doa kita panjatkan. Semoga kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang sukses hidup di dunia dan akhirat. Amin, Allahumma amin.

(Disarikan dan ditulis oleh Satrio Wahyudi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: