Klasifikasi Jiwa dan Tujuh Komposisi Obat agar Berjiwa Muthmainah

Narasumber: Ust. Ahmad Arqom, SPd.

Dalam kitab Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa) yang disarikan dari kitab Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali oleh Syeikh Said Hawwa, digolongkan bahwa jiwa/nafsu ada tiga:

1. Jiwa Amaratun bi suu’: yakni jiwa yang senantiasa berbuat dosa, melakukan hal-hal yang tidak produktif dan/atau selalu berpikir negatif.

Orang seperti ini cenderung memikirkan sesuatu dan/atau mengerjakan sesuatu hal hanya untuk bermaksiat (zina, mabuk, mencuri, dsb).

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan (amaratun bi suu’), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.  Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 12:53).

2. Jiwa Lawamah: yakni jiwa yang tidak stabil.  Dalam Qur’an Allah berfirman tentang adanya jiwa Lawamah ini,

“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah pada jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)…” (QS 75:1-2)

Seseorang dalam kategori ini kadang sebenarnya jiwanya baik, atau imannya cukup baik. Tapi karena dorongan/keinginan syahwatnya juga besar, sehingga tidak dapat dikendalikan oleh iman dan akhlaknya, akhirnya sering dimenangkan oleh syahwatnya sehingga ia bermaksiat. Pribadi seperti ini disebutkan dalam kitab Tazkiyatun Nafs sebagai pribadi yang selalu menyesali dirinya. Karena kerap setelah melakukan maksiat, iman dan akhlaknya kembali baik kemudian dia menyesal.

Dalam tafsir Departemen Agama RI, nafsu Lawamah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri) dijelaskan bahwa bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apa lagi bila ia berbuat kejahatan.

Pada tingkatan yang lebih parah, jiwa lawamah ini akan mendorong seseorang menjadi menyesal terhadap Allah (su’udzon kepada Allah), karena sesal yang dia rasa tidak mempunyai solusi akhirnya menyalah Allah. Ini sama saja menyalahkan takdir Allah. Orang yang menyalahkan takdir Allah berarti tidak beriman pada rukun iman yang ke-6. Bila tidak beriman pada satu rukun saja berarti sama saja tidak beriman (dipertanyakan keimanannya pada agama Islam).

3. Jiwa Muthma’inah: yaitu jiwa yang tenang. Mengenai kategori jiwa ini dapat dilihat pada firman Allah:

“Hai jiwa yang tenang (muthma’inah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS 89:27-30).

Sebagai salah satu contoh yang sangat baik untuk menggambarkan jiwa muthma’inah ini dilukiskan oleh Ustadz Musthafa Mansyur seorang ulama di Mesir dalam bukunya, yaitu kisah seorang ulama Mesir zaman dahulu yang di penjara oleh penguasa saat itu.  Dengan kejam ia di penjara bersama  dengan seekor singa.  Penguasa itu berharap sang ulama akan memohon-mohon ampun kepadanya untuk membuktikan bahwa penolongnya yang sebenarnya bukanlah Allah, tapi si Penguasa itu, dan yang lebih berkuasa bukan Allah tapi dia.

Tetapi setelah satu minggu di penjara, kemudian dikeluarkan dari selnya, ulama itu tampak baik-baik saja. Air mukanya tetap teduh dan tetap tersenyum. Ketika ditanya alasannya mengapa bisa demikian, sang ulama menjawab:

“Aku memiliki obat yang terdiri dari tujuh komposisi.”

“Obat? Apa itu?”

Ulama itu menjawab:

Pertama, Saya yakin kepada Allah dengan sepenuhnya bahwa semua yang ditakdirkan Allah itu baik untukku, walaupun tampak zahirnya (nyatanya/fisiknya) terlihat buruk.

Dengan kata lain selalu berhuznuzon (berprasangka baik) pada Allah.

Kedua, Saya sadar bahwa takdir Allah pasti terjadi, tidak ada tempat untuk saya berlari. Saya ridha karena Allah.

Jadi takdir Allah yang telah  digariskan pasti akan terjadi, tidak seorangpun dapat menghindar. Firman Allah yang artinya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di  bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS 57:22)

Ketiga, Keadaan saya sekarang ini adalah ujian dari Allah dan keberhasilan melalui ujian ini adalah bersikap sabar dan berharap mendapat pahala.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS 2:214)

Maksud dari ayat ini adalah, sebelum dikategorikan orang yang masuk surga, iman seseorang itu diuji dulu oleh Allah. Apakah karena musibah yang menimpanya seseorang itu menjadi futur (luntur imannya) atau dia sabar menjalaninya sampai menunggu pertolongan Allah.

Fenomena sekarang ini adalah manusia baru mengingat Allah ketika ia dalam kesusahan, ketika kesusahan itu sirna, ia kembali futur, hal ini dijelaskan Allah dalam firmannya:

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterimakasih.” (QS 17:67)

Keempat, Bila saya tidak bersabar maka keuntungan apa yang bisa saya petik dari cobaan ini.

Tidak ada, bukan?

Kelima, Saya yakin diluar sana ada orang yang penderitaannya lebih berat dari saya. Jadi saya bersyukur kepada Allah karenanya.

(Intinya adalah untuk menghindari perasaan mengasihani diri sendiri, cobalah untuk melihat penderitaan orang lain yang ternyata lebih berat dari penderitaan diri sendiri)

Keenam, Saya menyadari bahwa musibah yang menimpa saya tidak mengusik agamaku, karena musibah yang sesungguhnya adalah musibah pada agamaku (Islam).

Ketujuh, dari waktu ke waktu saya selalu menunggu pembebasan dari Allah.

Maksudnya Ulama ini sangat yakin Allah pasti akan membeli jalan keluar.


(Disarikan oleh Satrio Wahyudi dari Kajian Rabu: Tazkiyatun Nafs di PT PJB, 20 Maret 2002)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: