Tahap Tahap Tazkiyatun Nafs

Oleh: Ustadz Ahmad Arqom, SPd.

Pembanding:

Dalam sebuah buku karya pengarang Barat (Thomas J. & Stanley) yang berjudul Milionaires Minds (Pikiran Para Milyuner) menampilkan hasil penelitian paling mutakhir saat ini, salah satunya tentang survey terhadap 733 orang tersukses (milyuner) di dunia yang menempatkan Kejujuran dan Disiplin Diri pada posisi 1 dan 2 (Keduanya dipilih “Sangat Penting” oleh 57 milyuner, dan “Penting” oleh 33 milyuner). Dan pada 20 besar sifat yang terpilih, ternyata kebanyakan berisikan faktor internal diri (spiritual) seperti Kejujuran itu.

Hasil penelitian modern ini mengungkapkan bahwa bila seseorang ingin sukses berkelanjutan (sampai jadi milyuner misalnya) salah satu kuncinya adalah mempertahankan Kejujuran dan Disiplin Diri, bukan Kekuasaan, bukan KKN, dsb (sesuatu yang sedang dan masih marak di Indonesia).

Padahal ini adalah urusan duniawi dan yang disurvey adalah notabene orang- orang sekuler. Lalu bagaimana dengan Islam dan umat Islam sekarang?

Mengapa manusia butuh mensucikan jiwa?

Tentunya kita sudah sering mendengar hadist Rasul yang menyatakan, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintakan tanggung jawab atas kepemimpinannya itu.” Jadi Allah akan meminta pertanggungjawabkan  pada diri kita semua, karena setiap orang adalah pemimpin, minimal memimpin keluarga dan dirinya sendiri.

Jika kita membandingkan dengan hasil survey pada buku di atas, milyuner-milyuner (yang tentu juga merupakan seorang pemimpin, misalnya pemimpin perusahaan) yang sekuler (dan kemungkinan besar atheis) saja menempatkan nilai-nilai spiritual pada posisi penting dalam kehidupannya di dunia, apalagi kita yang tahu bahwa kita pasti diminta pertanggungjawabannya.

Kalau kata Aa Gym, “sukses tidaknya menjadi pemimpin, tergantung ketinggian nilai spiritualnya.”

Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

Abdullah bin Abbas menerangkan bahwa kata pelihara ini berarti “mendidik” diri dan keluarganya. Ingat doa yang diajarkan Rasul SAW:

Ya Allah karuniakanlah pada jiwa ini ketakwaan kepada-Mu dan sucikanlah jiwaku, karena engkaulah pelindung dan pemiliknya.”

Tahap Mensucikan Jiwa

  1. At-Tathahharu
  2. At-Takhaluq
  3. Al-Iqtida’

1. AT-TATHAHHARU

Artinya: Mengangkat dan membersihkan jiwa dari segala penyakitnya.

Apa saja penyakit jiwa?

  1. Kufur, Nifaq. Yaitu ingkar kepada Allah. Bila seseorang ditimpa bencana dan ancaman kematian, maka ia akan memohon kepada Allah dalam segala posisi saking takutnya, tetapi setelah bencana itu diangkat oleh Allah, ia lupa bahwa dengan kekuasaan Allahlah hal itu terjadi. Firman Allah:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10:12)

  1. Syirik & Riya’. Syirik : menyekutukan Allah dengan selain Allah. Riya’: syirik kecil, karena adanya pada diri manusia itu sendiri. Perumpamaan Rasul SAW : “Riya’ itu bagaikan semut hitam, di atas batu hitam, di dalam hutan belantara yang gelap pada waktu malam hari.” Riya’ menyebabkan seluruh amal yang kita kerjakan karena Riya’ akan ditolak oleh Allah. Ingat salah satu doa yang diajarkan Rasulullah yang termuat dalam Al-Ma’tsurat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu terhadap apa-apa yang aku ketahui. Dan ampunilah aku terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui.”
  2. Hubbud dunya, atau cinta dunia. Firman Allah:
    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
    Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3: 14).
  3. Hasad (kedengkian). Orang yang hasad tidak senang bila orang lain mendapatkan rezeki, nikmat, dll dari Allah. Rasulullah menasehati kita, “Jauhi sifat hasad, karena tanpa terasa kebaikan amal kita habis seperti api menghabiskan sepotong kayu.” Ingat kisah seorang sahabat miskin (seorang buruh panggul) yang dikatakan Rasul SAW sebagai ahli syurga padahal ketika diselidiki oleh seorang sahabat lain amalan lainnya biasa saja. Ternyata rahasianya adalah bahwa tiap malam ia berdoa agar terhindar dari sifat hasad dan mendoakan orang lain yang berniat atau telah melakukan kezaliman atas dirinya untuk diampuni oleh Allah.
  4. Ujub, yaitu kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Kekaguman itu bisa terhadap kekaguman fisiknya (narsisme), ilmu pengetahuan yang dimiliki, dan yang paling bahaya adalah terhadap amal perbuatannya sendiri. Yang disebut terakhir Allah menggambarkan dalam surat 49:17 bahwa orang yang ujub merasa telah memberikan ni’mat (rezeki, sedekah) kepada orang lain dan merasa bangga disebut sebagai yang menyedekahi. Dengan kata lain ia melakukan amal perbuatannya karena ingin dilihat orang lain. Silakan dicek pula surat 7: 44 (bacaan para penghuni surga ketika masuk surga).
  5. Takabbur, atau sombong. Awal dari takabbur ini adalah sifat ujub. Bermula kagum pada diri sendiri kemudian ia merendahkan orang lain. Cukup banyak ayat yang menerangkan sifat takabbur ini. Lihat surat An-Nahl (16) : 22 – 25. Cara untuk menghilangkan sifat ini adalah banyak berdzikir (kagum pada Allah).
  6. Ittiba’ul Hawa, atau selalu mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak mau dibatasi. Allah mengijinkan disalurkannya nafsu, tetapi semua ada batasnya. Oleh karena itu fungsi kajian Tazkiyatun Nafs ini adalah supaya nafsu tersalurkan sesuai porsinya.

2. AT-TAKHALUQ

Yaitu memasukkan/menghiasi ke dalam jiwa itu segala sesuatu yang selayaknya berada di dalam jiwa

3. AL-IQTIDA’

Yaitu meneladani perilaku yang bersumber dari nama-nama Allah (Asma’ul Husna) yang perilaku Rasul.

TOOL MEMBERSIHKAN JIWA:

1. Shalat

2. Zakat, infaq

3. Puasa

4. Haji

5. Tilawah Al-Qur’an

6. Dzikir

7. Tafakkur

8. Mengingat Mati dan Pendek Angan-angan

9. Muraqabah, Muhasabah, Mujahadah dan Mu’aqabah

10. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Jihad

11. Pelayanan dan Tawadhu’

12. Mengetahui pintu-pintu masuk syetan ke dalam jiwa dan menutup jalan-jalannya.

13. Mengetahui berbagai penyakit hati dan kesehatannya berikut cara melepaskannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: