DAKWAH KAMPUS, HARAPAN DAN KENYATAAN

Latar Belakang

Salah satu sifat asholah dakwah adalah tetap konstan dalam masalah ushul dan bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman. Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual tentu berbeda ketika berdakwah terhadap masyarakat awam. Kendati esensi yang disampaikan adalah sama, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara dan pendekatan yang dilakukan. Semua ini mengingat adanya latar belakang, situasi-kondisi, watak dan karakter yang berbeda pada setiap strata masyarakat, bahkan lebih spesifik lagi pada setiap individu manusia. Kita bisa melihat dalam siroh, bagaimana Rasulullah memperlakukan masing-masing shahabat dan masyarakat yang dihadapinya.

Dalam kerangka dakwah yang manhajiyyah, dikenal dua model pendekatan, yaitu dakwah ‘ammah dan dakwah khashshah. Di mana kaidah dakwah pada asalnya adalah ‘ammah tetapi karena kondisi-kondisi tertentu dapat menjadikannya khashshah. Pada dakwah ‘ammah, seluruh kaidah-kaidah yang berlaku bersifat umum, universal, mulai dari tema pembicaraan, terget yang akan dicapai sampai sarana yang akan digunakan adalah bersifat umum. Sedangkan pada dakwah khashshah, ia bersifat spesifik dan tertutup, baik berupa cara, target maupun sarana yang digunakan. Untuk mempermudah pemahaman kita dalam masalah ini, kita bisa nisbatkan ke dalam marhaliyah dakwah kita, yaitu tabligh, ta’lim, dan takwin. Yang termasuk dakwah ‘ammah adalah tabligh dan ta’lim sedangkan takwin termasuk dalam dakwah khashshah.

Kedua pendekatan dakwah tersebut dilakukan secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan yang ada. Oleh karena itu dirasa perlu untuk membuat suatu kerangka landasan untuk mengoperasikan semua program Dakwah Kampus dalam bentuk rencana strategi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah yang manhaji dengan memperhatikan kondisi waqi’I-nya. Dengan demikian diharapkan usaha dan upaya penataan dan konsolidasi Dakwah Kampus bisa dijalankan secara terprogram dan rapih sehingga hasilnyapun dapat optimal dan tentunya Allah SWT akan memberikan ganjaran atas ihsanul ‘amal para hambanya. Intinya, Dakwah Kampus yang kita lakukan diharapkan mempunyai Grand Design Dakwah, sehingga memiliki rencananya (Dakwah by Design). Semua Qiyadah dan setiap Jundinya tahu betul situasi dan kondisi yang sedang dihadapi, strategi dan program apa yang harus dilakukan, kriteria SDM yang dibutuhkan serta menuju tahapan Dakwah Kampus mana arahan dakwah mereka.

Paradigma-Paradigma Dasar

Sebelum menentukan sebuah strategi penataan Dakwah Kampus, ada baiknya kita tentukan dulu Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita sebagai kerangka acuan seluruh pembicaraan selanjutnya. Adapun Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita adalah sebagai berikut:

1. Sesuai dengan asholah dakwah (orisinalitas dakwah) maka Dakwah Kampus harus disampaikan kepada semua lapisan golongan masyarakat kampus, bahkan kepada semua individu manusia, karena dakwah yang tidak tersosialisasi dengan baik pada masyarakatnya niscaya tidak akan memiliki basis pergerakan yang kokoh (al-qoidatush sholbah), yang pada gilirannya akan mengalami disorientasi dakwah. Ada suatu kaidah dakwah yang harus selalu diingat oleh setiap da’I yaitu kita (para da’I) berasal dari mereka (masyarakat), akan bersama mereka, dan kembali pada mereka (nahnu minhum, wa ma’ahum, wa ‘alaihim).

2. Kaidah Dakwah di Kampus adalah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka). Dakwah umum maksudnya mampu membahasakan muatan dan aktifitasnya agar mudah diterima oleh berbagai jenis pemikiran dengan bahasa umum dan universal serta lebih adaptif pada kondisi dan situasi riil. Gerak yang terbuka (jelas) maksudnya suatu gerak aktifitas yang mencerminkan kerapihan, keindahan, dan kesinambungan (profesionalitas) sehingga aktifis dan sasaran dakwah kampus mampu menangkap suatu suasana Islami yang nyata, berada pada dataran menyatu dengan denyut kehidupan kampus.

3. Kaidah yang lain adalah Dakwah Kampus bukan hanya untuk Dakwah Kampus. Ketika berdakwah di Kampus, para aktifis dakwah kampus (ADK) harus menyadari bahwa aktifitas dakwah mereka dibatasi oleh batas waktu kuliah (4-6 tahun), suasana yang homogen (mahasiswa yg dominan dari segi jumlah, umur yang sebaya serta tujuan untuk berkuliah) serta usia mereka yang terus bertambah. Dakwah yang sebenarnya ada diluar kampus, waktu yang lebih lama yaitu lebih dari 45 tahun (berdasar life expectancy manusia Indonesia 65 tahun), masyarakat yang heterogen serta kehidupan nyata/riil yang lebih kompleks dibandingkan kampus. Sehingga para ADK harus menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan paska kampus agar mereka survive, tetap terus berdakwah paska kampus. Mereka harus mempunyai kompetensi (IPK, professional, keahlian khusus dan umum) dan kredibilitas (moralitas, sosial dan perilaku) yang tinggi.

4. Untuk menunjang operasi dan manuver Dakwah Kampus maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, baik internal maupun eksternal. Sehingga semua sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, selama hal tersebut telah dipertimbangkan secara fiqhus syar’I dan fiqhul waqi’ (realitas) serta diputuskan lewat mekanisme syuro yang shahih. Ibarat suatu atom, dakwah harus bisa membuat lingkungan di sekitarnya berputar-putar mengelilinginya meskipun dalam orbit yang berbeda-beda. Kaidah ini pun merupakan penjabaran lebih lanjut dari kaidah Dakwah ‘Ammah karena mengikutsertakan para mahasiswa selain para ADK. Dakwah Kampus makin membumi dan mengakar.

5. Program Dakwah Kampus yang akan digulirkan haruslah diset-up secara marhaliyah (bertahap) dengan mempertimbangkan fiqhul awlawiyat (azas prioritas) dan fiqhul muwazanat (azas kesetimbangan), dan harus senantiasa dimutaba’ahi hasilnya (in control). Hal ini dimaksudkan agar obyek dakwah mendapatkan treatmen yang sesuai dengan pemahamannya dan di sisi lain hal-hal yang berbobot amniyyah tetap terjaga.

6. Dalam pelaksanaan Dakwah Kampus harus memperhatikan prinsip amal jama’i. Adalah merupakan sunnatullah yang tetap bahwa segala sesuatunya mempunyai keterbatasan masing-masing. Islam mewajibkan berjama’ah dalam rangka saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan dan kesempurnaan. Para pemimpin dan prajurit dakwah harus menata dirinya menjadi suatu shaff yang rapih bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam beramal jama’I diperlukan software berupa minhaj (metode), wasilah (sarana), dan uslub (cara). Dengan kata lain diperlukan strategi dan program yang akan diaktualisasikan. Selain itu juga diperlukan hardware berupa sistem yang rapih dan koordinasi yang solid serta terarah.

7. Dakwah Islam adalah dakwah syamilah yaitu sesuai dengan sifat Islam itu sendiri. Ini berarti bahwa Dakwah Kampus harus bisa masuk ke semua sektor dan menjawab semua tantangan yang dihadapinya. Peng’kotak-kotak’an dakwah hanya pada bidang-bidang tertentu saja adalah merupakan kesalahan besar. Dakwah meliputi semua aspek dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan dakwah kampus, dakwah harus bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan yang ada di kampus. Ia meliputi, keilmiahan (IPTEK), keorganisasian, kepemimpinan, manajerial, administrasi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Dakwah Kampus harus mampu melahirkan SDM-SDM yang tangguh untuk melakukan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, mempengaruhi, menerjemahkan, atau merumuskan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan-kebijakan publik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: