Perubahan Struktur Sosial Masyarakat Kampus

Memasuki era baru kebangkitn Indonesia yang ditandai dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional memberikan sebuah pandangan baru dalam pergerakan mahasiswa. Pandangan baru ini sebetulnya belum ada yang bisa membuktikan apakah sebuah degradasi pergerakan mahasiswa atau perbaikan dalam pergerakan mahasiwa. Saya sendiri belum melihat adanya hal yang pasti dalam perubahan ini, karena saya pun masih melihat mahasiswa masih mencari bentuk yang tepat untuk menata pergerakannya.

Perubahan ini bukan serta merta mendadak dan tanpa sebab, atau perubahan ini juga bukan karena di rekayasa langsung oleh mahasiswa. Bisa dikatakan perubahan ini lebih disebabkan perubahan input mahasiswa itu sendiri. Perubahan yang terjadi pelan-pelan ini  tidak bisa disadari begitu saja, tapi ketika ada evaluasi atau membandingkan kondisi 10 tahun lalu dengan kondisi saat ini akan tampak perbedannya. Sekali lagi, saya belum bisa menilai apakah ini sebuah perubahan yang positif atau perubahan yang negatif. Berikut saya akan mencoba memaparkan mengenai perubahan yang terjadi terhadap mahasiswa dan perubahan ini tentunya bukan sebuah masalah, akan tetapi sebuah kesempatan bagi kita untuk merumuskan dan berpikir metode dakwah yang terbaik kedepannya.

Saya akan mencoba menstrukturkan bab ini dalam 6 poin pembahasan yang diharapkan dengan adanya identifikasi perubahan diharapkan pula dapat memudahkan identifikasi masalah yang dimana juga akan memudahkan penyusunan solusi. Ke-enam poin tersebut adalah : ekonomi, orientasi, kebijakan kampus, kebiasaan / habit, pergerakan, dan kepekaan sosial.

Perubahan ekonomi

Adanya kebijakan BHMN pada beberapa kampus dan akan menyusul pada kampus negeri lainnya berakibat pihak kampus membuat kebijakan ujian mandiri atau seleksi mahasiswa secara khusus yang memungkinkan peningkatan jumlah pendapatan dari ujian ini. Biaya masuk yang bisa sampai angka ratusan juta ini berdampak pada bertambahnya jumlah mahasiswa dengan kelas ekonomi atas di sebuah kampus yang mempunyai tradisi kampus yang banyak dihuni oleh masyarakat golongan ekonomi menengah dan rendah. Semakin meningkatnya jumlah mahasiswa “borju” ini kan mengakibatpada perubahan gaya hidup dari mahasiswa itu sendiri. Motor dan mobil bukan lagi barang langka yang sulit ditemukan, handphone jenis terbaru dapat dengan mudah ditemui di kampus. Jika mendengar cerita dari alumni ITB, digambarkan bahwa mahasiswa ITB biasanya adalah mahasiswa yang makan tiga kali saja sulit, berasal dari daerah dan dengan modal pas-pasan kuliah di ITB, tidak memiliki kendaraan dan sangat sederhana, jauh dari kehidupan mewah dan hingar bingar, memang banyak juga mahasiswa yang berasal dari keluarga mapan, akan tetapi mereka tidak tampak mapan secara ekonomi jika sudah kuliah di ITB. Sungguh merupakan bentuk toleransi ekonomi yang sangat mulia. Berbeda dengan kondisi saat ini, mahasiswa ekonomi atas seakan terpisah dari mahasiswa ekonomi rendah, dan mengakibatkan perbedaan yang cukup mencolok.

Perubahan orientasi

Kampus selalu dikenal dengan nilai pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. mahasiswa kini seperti lupa satu poin dalam tri dharma perguran tinggi, yakni pengabdian masyarakat. mahasiswa saat ini seperti sebuah cash flow di dalam kampus, dimana ia masuk dan keluar tepat waktu dan tidak memikirkan hal lain selain belajar, dan belajar. Orientasi yang dimiliki mahasiswa saat ini kebanyakan hanya seputar bagaimana ia dapat mendapat IP tinggi, lulus cepat dan dapat kerja di perusahaan dengan gaji besar. Hal ini membuat sebuah pergeseran nilai sebuah kampus, yang seharusnya dapat membentuk karaktek pembelajar dalam artian luas, dimana ia bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya dan dengan fasilitas yang dimiliki di kampus ia dapat berkembang. Kampus yang seharusnya dapat mengembangkan potensi, justru menjadi pencetak buruh berdasi. Iming-iming kehidupan mapan membuat orientasi ini pelan-pelan berubah,adanya perubahan ini perlu disikapi dengan bijak oleh para aktifis yang saat ini lebih banyak melnyaksikan mahasiswa berkutat di lab atau perpustakaan dan aktifitas malam extrakulikuler yang hampir punah.

Perubahan kebijakan kampus

Selain perubahan terkait ujian mandiri, kebijakan lain yang belum bisa dikomunikasikan dengan baik kepada mahasiswa pun bermunculan, seperti adanya tuntutan lulus tepat waktu, biaya kuliah yang berlipat di tahun kelima, pembatasan aktifitas non-akademik, penambahan beban akademik, syarat beasiswa yang rumit, jadwal akademik diluar SKS, dan lain sebagainya. Berbagai kebijakan yang ada menurut pengamatan saya ini lebih sering membuat mahasiswa menjadi enggan untuk beraktifitas organisasi mahasiswa. Bahkan pada beberapa kampus , agenda orientasi mahasiswa dilarang dengan alasan yang tidak bisa diterima. Kebijakan yang mematikan potensi organisasi mahasiswa kian merebak dengan motivasi awal dapat mensuplai para ahli , teknokrat dan cendekiwan yang bisa menjadi buruh intelektual di masa yang akan datang.

Perubahan kebiasaan

Kebiasaan mahasiswa kini pun berubah menjadi kepada aktifitas hedonis dan individualis. Pendekatan yang saya lakukan adalah kebiasaan mengisi waktu senggang. Mahasiswa kini mengisi waktunya dengan bersenang-senang di cafe, pub and bar, atau diskotik, dan tempat-tempat hiburan lainnya, serta sebagian lain yang cenderung sedikit teman, lebih memilih menonton DVD atau bermain game  di kost atau tempat tinggal. Kebiasaan lain, yakni mahasiswa lebih senang berkendaraan pribadi ketimbang menggunakan angkutan umum. Kebiasaan berpakaian pun berubah, dari mahasiswa yang biasa berpakaian sederhana menjadi mahasiswa yang selalu mahal dalam berpakaian. Kebiasaan beraktifitas pun juga berubah, dalam mengikuti sebuah organisasi seorang mahasiswa lebih senang menjadi pengikut atau hanya sebagai penerima ilmu atau mengikuti pembinaan dari organisasi tersebut.

Perubahan gerakan

Mahasiswa kini lebih senang dengan gerakan mahasiswa yang lebih koorperatif, damai, jauh dari konflik, dan mengutamakan persamaan. Perubahan cara pandang akan gerakan mahasiswa ini juga berdampak pada metode yang digunakan, mahasiswa lebih menghindari demonstrasi, mengutamakan dialog dengan cara elegan dan melihat bahwa pergerakan mahasiswa yang terbaik adalah dengan belajar. Ketika mendengar cerita dari alumni, mahasiswa dalam sejarahnya tidak pernah bisa damai dengan pemerintah, mahasiswa betul-betul eternal policy guardian bagi pemerintah. Mahasiswa dikenal selalu kritis terhadap isu dan permasalahan yang terjadi di masyarakat, mahasiswa yang dikenal peka dengan kepedihan rakyat, kini sedikit bergeser. Pergerakan mahasiswa yang sedianya dikenal dengan pergerakan intelektual, pergerakan moral dan kekritisan. Saat ini mulai berkurang kadar dari nilai-nilai ini. Perubahan bentuk pergerakan juga berdampak pada perubahan kebutuhan pemimpin, mahasiswa tidak lagi membutuhkan pemimpin yang berfilosofis dan menggebu-gebu secara berlebihan, tetapi mahasiswa lebih mengharapkan pemimpin kharismatik dan ramah.

Perubahan kepekaan sosial

Meningkatnya taraf hidup dan meningkatnya mahasiswa yang apatis terhadap kondisi sekitar membuat mahasiswa menjadi tidak peduli dan peka dengan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. Mahasiswa tidak merasakan kepedihan dari masyarakat yang menderita akibat kenaikan BBM, ketidakresahan ini akibat karena memang mahasiswa tidak merasakan langsung kenaikan BBM bagi dirinnya. Ketidakpekaan ini membuat gerakan sosial mahasiswa menjadi hanya bakti sosial simbolik yang tidak terfollow up dengan baik. Semua hanya tampak formalitas, dan kehilangan nilai empati yang mendalam.

Perubahan-perubahan ini sangat bijak jika kita tanggapi dengan positif, bukan sebagai sebuah masalah, akan tetapi sebagai sebuah kesempatan untuk memimpin dalam perubahan. Pergerakan mahasiswa tidak bisa dipaksakan begitu saja, akan sangat menyesuaiakan dengan input mahasiswa yang ada. Pola dakwah pun perlu secepatnya beradaptasi dengan kebutuhan objek dakwah. Berkaitan dengan perubahan struktur sosial ini, saya mencoba mengkasifikasi mahasiswa menjadi 5 kluster, yakni, akademisi, atlet, seniman, aktifis, hedonis, dan apatis.

Akademisi adalah tipikal mahasiswa yang banyak berkutat atau bahkan memang dunianya hanya terkait kuliah dan praktikum atau sering disebut dengan istilah study oriented only.

Aktifis adalah tipikal mahasiswa yang aktif berorganisasi sebagai pengurus dan berperan aktif dalam mengembangan organisasi.

Atlet adalah tipikal mahasiswa yang senang berolahraga. Banyak berkembang belakangan ini dengan berbagai macam jenis olahraga tentunya.

Seniman adalah tipikal mahasiswa yang senang ber-seni ria, jenis seni pun berkembang seperti seni lukis, patung tekstil, dan yang terkait multimedia seperti desain visual, fotografi dan sinematografi.

Hedonis adalah tipikal mahasiswa yang lebih memilih hura-hura sebagai aktifitas selain kuliah, biasanya mahasiswa dengan tingkat ekonomi atas yang banyak menjadi tipikal ini.

Apatis adalah tipikal mahasiswa yang hanya peduli dirinya, cenderung introvert, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya, seperti dengan bermain game dan nonton DVD.

Dengan mengetahui perubahan struktur ini diharapkan LDK dapat segera melakukan tindakan dan rencana dakwah untuk mengadaptasi perubahan ini. Kita tidak mungkin melawan perubahan ini secara frontal, akan tetapi kita bisa membimbing pelan-pelan mahasiswa ke arah yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai yang kita pahami. Oleh karena itu konten turunan dan metode dakwah yang dilakukan perlu disesuaikan. Harapannya dengan itu semua gerakan dakwah kita kian diterima dan dapat membuat perubahan di kampus kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: