Catatan Sejarah Itu (Curhat Bagian 2)

Ketika saya dipanggil oleh ketiga unsur yayasan itu plus kepala sekolah yang baru dikukuhkan …… saya masuk kemudian disuruh duduk kemudian terjadilah dinamika perbincangan, perdebatan, pembelaan, kebijakan, keputusan, pengklaiman dll. hampir satu jam proses perdebatan itu terjadi diruang sempit 2×3 meter itu. sesekali salah satu dari mereka terpancing,muka memerah karena mungkin terpancing oleh pembelaan saya. saya menyadari waktu itu bahwa arah pembicaraan ini adalah supaya bagaimana implikasi lanjutan dari kasus pertama tidak merembet kemana mana, namun saya juga sedari awal sudah mentekadkan diri untuk akan selalu bersuara lantang bahkan garang dikala ada kedholiman terkhusus kedholilman yang masif, terstruktur dan terorganisir terjadi….. saya menyadari bahwa konsekuensi terendah saya adalah pemecatan dan sudah saya yakini seperti yakinnya ”Allah” adalah tuhan saya. Namun saya agak ragu ketika saya harus menanda tangani surat perjanjian kalau saya tidak akan keluar dari lembaga yang sudah 6 tahun saya bangun/rintis bersama ibu kepala yang sudah dulu dipecat oleh yayasan lembaga ini. Meski pada akhirnya sayapun menandatangani surat perjanjian itu yang salah satu point terpentingnya…”diharamkan saya untuk keluar dari sekolah dimana waktu itu saya berada (Hiferbola)” …. selang 2 minggu setelah penandatanganan itu sayapun akhirnya dipanggil kembali dengan hampir 99% dihadiri struktur yayasan lengkap…hampir 45 menitan terjadi kembali dinamika pembicaraan yang dimana pada kesimpulannya bahwa saya diperkenankan untuk memilih mencari pekerjaan diluar sana….(bahasa ini adalah Bahasa pemecatan)…….saya tenang bahkan saya ketawa saja…….ada yang mupuas….ada yang seolah prihatin ada juga yang dengan kedunguannya menatap dengan sinis…..sinis yang saya camkan dalam hati saya bahwa orang inilah sebetulnya biang keladi dari semua hiruk pikuk kekacauan yang selama ini sudah menghancurkan pondasi jiwa perjuangan selama ini kami bangun dengan susah payah…..banyak orang yang menyayangkan kenapa sih mesti tulis-tulis begini padahal ini kurang baik dan memang tidak layak untuk dikonsumsi karena pasti ini bagian dari ”aib/cela” kenapa ? karena jujur saya sangat dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari luar termasuk orang tua murid yang selalu bertanya (ada yang kerumah, ada yang megat dijalan, ada yang nge -sms-, ada yang nelepon, dimesjid, supermarket, taman rekreasi, kolam renang, jalan raya, kantor jama’ah, organisasi, dipartai, dikomunitas, kumpulan,taman wisata dlll) sementara mereka menginginkan kejadian yang sebenarnya *sekitar 97 orang yang perneh bertanya tentang ini* maaffff kita lanjut : (anggap saja ini cerita ringkas dinamika berorganisasi)

Kedholiman -kedholiman ”kebijakan” yang saya kritisi diantaranya :

  1. Fitnah keji yang berkembang bahwa kepala sekolah telah melakukan banyak pelanggaran (korupsi keuangan,pembangkangan,”katro”/ketinggalan zaman,dan puluhan fitnah yang lainnya)…..saya luruskan dengan berbagai argument untuk fitnah ini termasuk suaminya sendiri yang nota bene ”seorang dosen” sudah meminta klarifikasi autentik data penyimpangannya kalau memang ada tetapi lagi-lagi tak ada penjelasan komprehensip walau itu hanya sekedar setitik buktipun..tak ada
  2. Pengangkatan guru yang belum memenuhi unsur ”tersertifikasi” dengan menggunakan data2 palsu dengan mengorbankan guru yang selayaknya mendapatkan hak itu. (bayangkan diwaktu itu : guru yang mengajar pelajaran baru 1 tahun 5 bulan bisa tersertifikasi dengan mengalahkan/mengorbankan guru yang sudah mengajar 6 tahun 7 bulan)…alasan dasarnya bahwa guru pertama sudah senior dari segi marhalah/tingkatan jenjang senior dalam ”ngaji”nya
  3. Adanya ketidak konsistenan didalam pemberian kebijakan ”formalitas” yang sudah dilempar ke publik (”KKN kebijakan”) contoh : adanya rekomposisi struktur yang sudah diketok palu karena sudah fix katanya ternyata itu hanya formalitas kebijakan semata dimana tetap saja orang-orang ”cendana” lah yang berdiri kokoh bertahan seburuk apapun mereka…alasan kongkritnya mereka ada perintis….”kultus senioritas”
  4. Adanya ketidak jelasan nasib kepala sekolah yang dilengserkan padahal baru kisaran 5 bulanan waktu itu beliau mendapatkan sertifikasi yang perjuangan untuk mendapatkan predikat itu sungguh sangat luar biasa (mengeluarkan uang sendiri tanpa subsidi yayasan sepeserpun, super sibuk banyak usaha untuk meningkatkan kafasitas keilmuan sehingga suaminya sendiripun sampai menangis bahwa hampir sangat jarang terpenuhi kebutuhan ”biologisnya” karena saking menghormati/mendukung kinerja maksimal dari istrinya yang luar biasa.
  5. Adanya ”spionase”/mata-mata yang selalu memberikan info-info maudhu/palsu yang masih saja dipertahankan alasan logisnya selain orang dalam yaa lagi-lagi senior dalam ”ngaji”nya. sementara alasan rasionalitasnya beliau tidak pernah menduduki jabatan strategis dalam struktur padahal beliau adalah bla…bla…bla….
  6. Adanya beberapa penyimpangan kebijakan anggaran yang meski itu adalah hak preogatif dari sebuah yayasan dimanapun itu tetapi ini terlalu jauhhhhh…karena implikasinya adalah luar biasa terhinakan ( contoh satu dari 15 kasus sederhana diantaranya : ketika waktunya menjelang  pembagian tabungan siswa kelas 6 yang mencapai kisaran 47 jutaan ternyata uangnya tidak ada, selidik punya selidik uangnya terpakai dengan tidak mempertimbangkan prosentase ”ambang batas kepatutan” organisasi bahkan mirisnya ada yang digunakan oleh ”oknum” pribadi yang nominalnya puluhan juta tanpa ada kesepakatan tertulis apapun untuk membayarnya…”buat modal usaha” dan ada untuk menutup pembangunan lembaga yang lain dsb. yang menjadi korban adalah wali kelas yang selalu berkelit/berdalih bahwa uang tabungan itu pasti akan dibagikan pada waktunya nantiiiiiiii…..nantiii….nanti….. dan nantiiiii…..sampai dibuat malu karenanya….meski pada akhirnya info ”hoax” menyebutkan ada yang sampai menjual, menggadekan mobilnya untuk menutupi uang tabungan ini.
  7. Regulasi pemilihan/penunjukan pimpinan baru yang berdasar kepentingan ”cendana” semata. Nyaris sama sekali tidak ada indikator profesionalisme dan proporsionalisme baik itu dari sepak terjang yang diakui oleh kolega maupun administratif konstruktif yang menyisakan ”cacat-cacat) sejarah sebelumnya apalagi berdasarkan perundang undangan kependidikan yang lajim diperlakukan.
  8. Formulasi kebijakan yang dibentuk dimana konsep monarki oligargi diterapkan ( penuh intriks, manifulatif, KKN,pencitraan, ”kemunafikan” dll) dalam proses berjalannya
  9. Pemarginalan Penempatan orang-orang yang pernah dekat dengan pimpinan sebelumnya dimana tidak satupun dari 13 orang dari 24 guru itu menduduki jabatan strategis padahal orang-orang inilah yang menjadi ”bamper” kelemahan yayasan itu sendiri selama 10 tahun berjalan diwaktu itu.
  10. Adanya data yang membuktikan bahwa beberapa ”oknum” pengurus yang catatan kriminalnya sudah ada dikepolisian dan bahkan ”BAP” nya sudah sangat lengkap tinggal menangkap tetapi lagi-lagi dengan mendekatan kekuasaan dan ”uang” terselamatkan….. tetapi dalam hal ini justru itu menjadi tabungan ”dosa tersendiri” baik bagi diri pribadi bahkan bisa jadi menjadi ”dosa warisan” bagi yayasan dikemudian hari
  11. ( bersambung…insya Allah ada sekitar …… 36 lagi pelanggaran-pelanggaran normatif subjektif versi penulis …… mohon maaf bagi para pihak yang kurang berkenan) jujur seandainya proses regulasi dinamika kebijakan ini diawali dengan keterbukaan dan ke”arifan” kayaknya bisa terminimalisir sedari awal…..saya hanya menjawab kurang lebih 97 orang tua yang merasa tidak puas dengan keputusan yayasan waktu itu dan juga 13 guru yang tersandera/terpenjara meski yang 7 orangnya kini sudah ”tiada” diyayasan itu sendiri…….semoga ini menjadi pembelajaran tersendiri khususnya bagi penulis sendiri yang mengalami langsung ”turbulensi” proses perjuangan yang berakhir ”pemecatan”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: